Puisi Kepada Seseorang Yang Masih Sama

Kepada Seseorang Yang Masih Sama


Photo by Debby Hudson on Unsplash

Lebih baik aku menjadi secangkir kopi yang pahit,
Kue coklat yang terabaikan di meja makan,
Atau remah-remah nasi yang tertinggal
Di tanggal pertemuan sepasang yang seharusnya kita.

Sesuatu yang belum memiliki nama itu mengetuk kepalaku,
Bertamu dengan sopan dan anggun.
Duduk di kursi panjang merah marun, lalu aku menyuguhkan
Dua gelas kehangatan. Tentu yang satu untukku, dan satu untuknya.
Kami saling merasakannya di tenggorokan, mengalir lebih dalam.
Mengalir seperti kehidupan. Mengalir seperti kehilangan di kejauhan.

Padahal kita sama-sama tahu, hidupku setengahnya karena kau.

Lebih baik aku menjadi kasur yang kasar,
Lemari yang kehilangan sepasang pintunya,
Atau mata jendela yang menitikan airmata.
Bukan karena sedih, kasihku, bukan pula karena luka.
Tapi sebab ia bahagia tetap diam-diam mencintamu
Yang seringkali berlalu begitu saja,
Di depan mata,
Bertahun-tahun lamanya.

(2015)

Kwatrin Akan Selalu Ada

Akan selalu ada awan yang lain menyelinap
Di balik gunung-gunung, walau diam-diam
Ditangiskannya lembah-lembah itu oleh
Hujan yang tiada terbendung

Akan selalu ada kuncup yang lain terlihat
Di celah rerumputan, walau pelan-pelan
Digugurkannya tanah-tanah itu oleh
Bunga yang tak lagi perawan

(2010)

Kwatrin Senyum

Pada akhirnya, kita hanya menjadikan
Bibir ini timpang atas suara-suara, karena
Senyum ini, adalah isyarat paling sederhana
Yang sungguh yang apa adanya

(2010)

Kepada Rindu Aku Titipkan

Bila sampai rinduku
Yang tersembunyi
Pada bait-bait puisi
Entah berapa jarak
Yang meski dilalui
Tetap saja ada rintang
Yang rindang mendahului
Tuhan. Barangkali
Ada yang senantiasa
Bersenandung untukmu
Selagi aku tak punya
Cukup suara untuk
Memanggil namamu
Sebab bila kemudian
Pada suatu hari
Aku tak ada lagi
Tuhan, tak akan kubiarkan
Kau sendirian menanti
Rinduku yang tersembunyi
Pada bait-bait puisi

(2014)

Gadis Jendela dan Lelaki Angin

/1/

aku sering melihatmu dari jendela
setiap malam, memegang bunga-bunga
hujan yang kau ikat dengan ilalang
tak pernah beranjak dari angin
hanya berdiri mematung di samping
setapak jalan

siapakah dirimu, duhai lelaki angin

/2/

aku selalu melihatmu pada jendela
setiap malam, membawakan bunga-bunga
hujan yang kian layu diterpa rindu
demi mu, hanya saja aku tertahan
angin hingga tak bisa kugerakan
hati untuk bertaut sapa, sekadar cengkrama

ah, aku takut
mencintaimu, gadis jendela
karena angin tak pernah
singgah
terlalu lama

(2009)

Posting Komentar