Di Stasiun Malam
![]() |
| Photo by Osman Rana on Unsplash |
/1/
aku masih ingat, tempat terakhir kali
kau tinggalkan sebelah hatiku yang retak
disini, stasiun malam dengan langitnya
yang abuabu
airmata yang dulu kau rangkai menjadi
temali biru laut selalu kusimpan di laci
rindu pojok kamarku, di dalam kotak
merah yang rencananya akan kutaburi
mahar ketika nanti kita mengikat
mata jadi satu
tiga jam aku menunggumu disini, bangku
kayu stasiun malam yang sudah mulai
kehilangan nafas
sambil kugenggam temali biru
lautmu, aku coba menata detak
pias cemas yang bergetar pada hujanku
: apakah kau akan benarbenar datang kali ini
ketika aku tengah berdiri memandang jauhmu
di ujung langit yang abuabu
/2/
aku berdiri menatapmu dari tiga jam lalu
disini, samping pohon tanpa bungabunga
sebelah hatimu yang retak sudah kuperbaiki
dengan rindu dari langit yang abuabu
kusimpan disini saja, tak perlu kukembalikan
padamu
: maaf, cinta tak harus selalu merpati
...aku pergi
(2009)
Tonet: Aku Dia dan Warna
saat kubuka peti pelangi di ujung garis
angkasa, kutemukan pecahan senja dengan wewangian bunga
sesaat saja aku mengelepak sayap di pelipis
angin, kemudian terbang membawa warna warna
aku tiba di gerbang taman selang berapa lama
---tempat terakhir aku menemukan cahaya lamat lamat
antara daun daun gugur dan sela sela purnama
tersembunyi di balik tangis yang terpaut hangat
aku berjalan, mencari dimana biasanya dia
memintal sutera dengan serat serat dari matanya yang temaram
aku ingin persembahkan warna ini hanya untuknya, biar gerhana
mati segera sesaat setelah kulukis padanya malam
: ah, andai kau tak pergi lebih cepat dari ketika aku tiba
aku rela meranggaskan sayapku dan menjelma manusia
(2009)
Kelindan Purnama
Sedari purnama menggelayut di pucuk bukit, aku masih menatapmu yang tersenyum cantik walau kaku, dalam foto hitam putih yang kau hadiahkan ketika kita muda dulu---ketika kau putuskan bahwa sebaiknya aku menjauhimu. Kenangan itu, sepintas terlihat lepas, tapi sebenarnya tak bisa kupangkas denyar matamu yang melebihi purnama malam ini dari ranting-ranting nafasku (yang walaupun layu, tapi masih kuat menahan cuaca bahkan ketika salju). Aku tak dapat menampik bahwa ternyata di usia renta, cintaku padamu selalu berkelindan mengembara. Tak pernah berdiam di satu titik mata, seperti angin yang kau cipta dari ranum bibirmu yang merah muda, berkelana karena sejak saat itu kita tak pernah lagi berpagut sapa. Hingga pada akhirnya, sekarang, saat aku menggenggam parasmu yang cadas itu, telah rampung kucipta selayar bahtera dari puing-puing bintang yang berserakan di pelataran. Rencananya, malam ini akan kubelah angkasa beserta temaramnya, akan kubuat riak-riak telaga ketakutan ketika aku menerabasnya, dan tak akan kulabuhkan pada dermaga sampai aku menemukan hatimu yang masih tersisa. Laksana nakhoda yang memimpin perjalanan menuju lautan, tak ada keraguan yang tersemat dalam dada; suatu ketika nanti akan tiba saatnya aku membawakan tiram berisikan mutiara. Aku telah siap, kini atau kapanpun waktunya, mengarungi langit dengan bahtera yang bercahaya kelap-kelip manja---seperti matamu yang dulu sering melakukannya jua. Jikalau nanti aku tak pernah lagi kembali, biarkan namaku teruntai pada terang kelindan purnama, agar kau tahu bahwa renta tak pernah mampu menghalangi suara gemericik di antara hujan dan genangan air mata.
Camkan baik-baik bahwa akulah lelaki purnama pertama yang akan membuat matamu tak lagi berkabung gerhana.
(2009)
Soneta Cinta Yang Menunggu
di persimpangan jalan ini aku menunggumu, dengan
membawa hujan merah jambu yang aku
tahu hanya akan merintikkan kenangan
tentang aku yang tak bisa lagi menjadi rindu
ah tiba-tiba mendung mencuri hujan
merah jambu itu lantas bersembunyi di bola mata
aku gelagapan karena tangisku berguguran
dan o warnanya, telah menjelma biru tanpa jeda
sesungguhnya, bintang, aku tak meminta diriku
menjadi rindu menjadi tangis menjadi mawar
yang abu-abu, tapi ketika aku berada di sampingmu
hatiku berdebar, hujanku samar-samar
--dan ketika hadirmu adalah pertanyaan
maka aku hanyalah bayangan tanpa jawaban
(2009)
Soneta Aku Tak Melihatmu Tadi Malam
siluet rembulan di tubuh awan itu seakan menggenapkan kesepian aku, yang mengais-ngais rindu di antara gugur daun dan bayangan-bayangan aku tak melihatmu tadi malam --tak ada lagi di samping hatiku yang kini sendirian, yang kini hanya diam seperti hening yang melayang di antara dua mataku yang tak lagi teduh, karena semakin kau jauh semakin aku terlihat rapuh, dan nanti aku hanya akan berharap pada gemuruh yang berlarian di langit itu: semoga cahayamu akan selalu baik-baik saja
(2009)
Isyarat Angin
Aku sering bermain-main dengan pertanda
Yang dibawa angin--disibaknya kecantikanmu
Dari jauhan, hingga aku bisa dengan jelas
Menghirup aromamu yang badai dan yang topan
Aku selalu meniupkan rindu lewat angin untukmu, lantas
Menebak-nebak kapan persisnya kau akan
Membalas--jika hati kita diciptakan satu, aku
Yakin dalam dadamu aku tak pernah lepas
Ada satu yang tak pernah lupa kusampaikan, satu yang
Perlu kau dengarkan: atas nama angin yang melenakan
Musim-musim, aku mencintaimu--di saat
Kau terlelap aku memimpikanmu, di saat
Kau menangis aku mengisakkan namamu
Aku sering bermain-main dengan pertanda
Yang dibawa angin--pertanda tentang kisah
Cinta yang tak pernah mungkin
(2010)
Epilog Rembulan
Aku menyembunyikan rembulan
Di saku baju pemberianmu
Ketika usia kita sudah mendekati
Tahun ketiga lebih seminggu
Malam ini orang-orang
Yang barlalu-lalang di bawah malam
Terheran melihat rembulan
Yang tiba-tiba menghilang dari pandang
"Rasa-rasanya rembulan hari ini
Terbenam sebelum waktunya
Kau lihat, bukan, bintang-bintang
Berguguran karenanya?"
Lalu kau menunjukkan kepadaku
Isyarat cahaya--memantulkan
Lalu memapah ke arah lain
Yang sejatinya pura-pura
Rembulan masih di saku bajuku
Sengaja kusimpan di sini
Di dekat hati
Supaya kau tahu, lantas mengerti
: Aku mencintaimu setulus cahaya
Rembulan yang memantul-mantul
(2014)

Posting Komentar