Cerita Pendek Foto

Photo by Thomas Ellmenreich on Unsplash

1
Foto yang kau ambil di sebuah gedung tua dekat hutan itu, secara mengejutkan—walau tidak semengejutkan ketika kau tiba-tiba beralih profesi dari guru menjadi juru foto, padahal orangtua, teman-teman, serta yang di sekelilingmu, tentu kecuali aku, dengan keyakinan teramat tinggi, mengetahui bahwa kemampuan fotomu masih terbilang amatiran, jauh bila disebut profesional—menampakkan sesosok perempuan cantik yang berdiri di ujung jalan. Waktu itu, kau mencoba-coba kamera baru—yang kau beli dari tabungan hasil korupsi dulu ketika jadi guru, korupsi waktu, korupsi tenaga, korupsi kewajiban, korupsi tanggungjawab, dan korupsi uang murid-murid dengan dalih tabungan murid itu wajib adanya—sekaligus mencoba-coba pekerjaanmu yang baru, fotografer freelance sebuah koran lokal.

Foto itu—yang entah bagaimana hasilnya bisa sempurna, kualitas cahaya, sudut pengambilan gambar, keseimbangan warna—masih aku pegang sekarang, misterius memang. Padahal ketika memfoto, perempuan cantik itu tidak ada. Entah gaib macam apa yang menampakkan begitu rupa. Jika atasanmu tak memintamu memfoto bangunan gedung tua itu, mungkin perempuan cantik di ujung jalan itu tak pernah ada.

Gedung tua itu—yang dulunya bekas sekolah milik Belanda, dengan plang yang terpampang di depannya bertuliskan “Hewan dan Pribumi dilarang masuk!”—sekarang sudah rusak di beberapa bagian, walaupun sebagian lain masih cukup utuh. Konon, dulu guru-guru banyak dibenci masyarakat, terutama guru-guru dari Belanda. Hingga puncaknya, masyarakat menyerang sekolah-sekolah milik Belanda. Guru-guru dibunuh dengan kejam, di gantung di tiang gantungan, kepalanya dipenggal dijadikan hiasan taman, dan bangunan-bangunan sekolah dilempari bebatuan, dibakar, segala dibinasakan.

Foto itu aku lihat lekat-lekat, seakan perempuan cantik di ujung jalan itu menangiskan darah dan menggenangi jalanan hingga pucat merah.


2
“Sejak memfoto perempuan itu, aku sering mimpi aneh, sayang.” ujarmu ketika kita duduk berhadapan di sebuah kafe. Kau tampak gelisah, tak seperti biasanya.

“Mimpi bagaimana?”

“Kepala orang-orang yang kulihat berubah menjadi kepala hewan, kepala kuda, kepala ular, kepala babi. Mereka membunuhi orang-orang yang tidak berkepala hewan, lalu memakan dagingnya beramai-ramai. Mengerikan sekali…” Lalu diam, kulihat kau meneteskan airmata.

Aku memelukmu hangat, “Tak apa-apa. Cuma mimpi, sayang. Cuma mimpi.”

Kau beberapa lama diam dalam pelukan, berusaha saling meleburkan kehangatan. “Aku mau ke kamar kecil dulu.” ujarmu sambil beranjak dari pelukan, dan berjalan ke kafe bagian belakang. Rembulan padahal terang, tapi tidak cukup untuk menerangiku yang remang-remang, soalnya aku duduk di dalam bayang-bayang tiang kafe yang menjulang.

Aku menoleh cepat ke arah belakang, rasa-rasanya ada yang daritadi memerhatikan. Aku terkejut ketika semua orang diam seperti patung—orang yang memegang sendok hendak memakan sesuatu, air yang tumpah dari gelas kaca seorang ibu, anak kecil yang jatuh tersandung tampak melayang di udara—dalam keadaan diam, beku, sama sekali tak bergerak. Waktu berhenti berputar. Serta merta aku berlari ke kamar kecil mencarimu, melewati orang-orang yang mematung itu, melewati kesunyian yang menggantung di langit-langit kafe, dan kemudian bertabrakan denganmu di jalan hendak ke kamar kecil.

“Ada apa, sayang, kenapa lari-lari?” tanyamu sambil membantuku mengangkat tubuh yang jatuh.

Aku melihat ke arahmu, dan menjerit sejadinya ketika kusaksikan kepalamu berubah jadi kepala kerbau, dan menyeringai sambil mengeluarkan darah.


3
“Tak apa-apa. Cuma mimpi, sayang. Cuma mimpi.” ujarmu dalam pelukan ketika yang kusaksikan kemarin ternyata mimpi.

Kita berpelukan lama sekali, di sebuah siang yang berhiaskan petir dan gemuruh hujan. Dari jendela kamar, pemandangan luar tampak pekat sekali, menyajikan dingin yang menusuk tulang. Betapa hujan demikian deras dan angin saling hempas-mengempas. Tapi dalam pelukanmu, aku tenang, aku senang.

Mimpiku pasti ada kaitannya dengan foto itu. Bisa saja karena terlalu memikirkan, kemudian terbawa-bawa ke alam mimpi. Aku ambil foto itu di atas meja, dan menunjukkan foto itu kepadamu.

“Mungkin ini yang membuatku mimpi buruk.”

“Maksudmu, perempuan cantik itu yang menggerayangi mimpimu? Jangan bercanda, aku tidak percaya hantu ada.” Kau tertawa.

Hantu. Benar, memangnya ada hantu yang demikian cantik, dan rela difoto di ujung jalan oleh seseorang yang entah siapa. “Aku juga tidak percaya, sayang. Tapi selalu ada kemungkinan lain tentang hal-hal yang tidak kita percayai.”

Hujan terdengar lebih deras, angin memaksa masuk lewat celah-celah jendela. Dan aku memandangmu sekali lagi, berharap kepalamu yang kerbau itu hanya sebatas mimpi.


4
Sejak hari itu, setiap hari aku memimpikan mimpi-mimpi buruk yang sama, dan setelahnya berpelukan denganmu di siang hari yang dipenuhi petir dan gemuruh hujan yang sama. Kau menenangkanku dengan kata-kata yang sama. Aku mengambil foto itu di atas meja, dan kau berkomentar dengan komentar yang sama. Tujuh hari berulang dengan kesamaan yang aneh.

“Maksudmu, perempuan cantik itu yang menggerayangi mimpimu? Jangan bercanda, aku tidak percaya hantu ada.” Kau tertawa.

Kepalaku pusing belasan keliling, apa yang terjadi sebenarnya aku tak tahu. Aku ingin keluar dari pengulangan-pengulangan yang menyebalkan, tidak mungkin jika sampai kebetulan. Sudah tujuh hari, dan segalanya harus berbeda hari ini.

“Aku juga tidak percaya, sayang. Tapi selalu ada kemungkinan lain tentang hal-hal yang tidak kita percayai.”

Setelah tanpa sadar aku mengucapkan pengulangan perkataan yang aneh itu, aku berdiri dan mengambil korek api. Aku akan membakar foto itu sekarang, biar tidak ada hal-hal aneh yang membuatku bingung dan ketakutan sendiri.

Kau menatap ngeri ketika foto itu dibakar, pelan-pelan mengabu, lalu hilang jauh melayang, melewati jendela yang basah oleh hujan, melintasi cahaya petir yang melesak-lesat tak keruan, yang tertinggal hanya bau kertas yang terbakar memenuhi ruang kamar.

“Apa yang kau lakukan, padahal itu fotoku! Foto yang susah payah aku ciptakan! Kenapa kau membakarnya!” Tiba-tiba saja kau marah sekali. Seperti kau adalah Tuhan dan aku adalah Adam yang melakukan kesalahan besar.

“Aku sudah muak dengan kesamaan-kesamaan yang aneh! Apa kau tidak sadar?”

Walaupun hari itu dihiasi dengan pertengkaran dan kau yang berlari pulang menerobos hujan tanpa dikejar olehku yang sudah malas berkomentar, aku senang. Akhirnya hari ini berbeda, tak akan ada lagi kesamaan berulang di hari kemudian.


5
Aku terbangun dari tidur, dan bergegas ke tempat kerja. Sepeda kumbang yang selama ini mendekam di balik tempat penyimpanan barang di belakang rumah, sekarang aku pakai. Mengayuh dan mengayuh, melintasi jalan-jalan yang lengang. Sepanjang sisi jalan, hanya ada pepohonan. Daerah ini masih asri dan tak terjamah peradaban. Bahkan budaya orang setempat pun, masih kuat. Pernah aku mendapati kepala-kepala hewan dipersembahkan lewat ritual pemujaan pohon keramat yang menjulang itu. Menurut kepercayaan, pohon itu sangat sakti, mampu menciptakan kehidupan. Darinya lahir semut-semut, laba-laba-laba-laba dan segala kehidupan serangga. Darinya lahir keseimbangan makhluk hidup yang sempurna.

Aku hanya mengayuh dan mengayuh saja. Maklum, aku orang baru di sini, tinggal tak begitu lama. Tak begitu tahu tentang kepercayaan mereka. Biarkan kepercayaan itu ada bagi mereka, karena tidak ada yang namanya kesalahan kepercayaan, yang ada hanya perbedaan kepercayaan. Hari ini memang berbeda, aku sudah tidak memimpikan hal-hal buruk lagi. Tidak melakukan pengulangan-pengulangan yang aneh dengan pacarku lagi.

Setelah jauh mengayuh, aku sampai di tempat kerja, bangunan tua berarsitek Belanda. Aku seorang guru. Dulu, sebelum jadi fotografer, pacarku pun bekerja di sini, bersamaku. Tak ada yang aneh hari itu, sampai terdengar teriakan warga-warga di luar. Aku melihat lewat jendela kelas, sangat banyak warga yang membawa-bawa obor dan senjata tajam, sambil berteriak, “Bunuh guru-guru asing itu! Bunuh guru-guru asing itu!”

“Mr. Vanderbilt, apa yang terjadi?” tanya murid-murid cemas. Aku mematung pucat, segalanya tampak beku. Hening sesaat. Waktu berhenti lagi kali ini. Api-api pada obor-obor warga, beku tak bergejolak, murid-murid yang tadi berpencar panik mencari jalan keluar tiba-tiba beku tak bergerak, para guru lain juga warga-warga diam dengan posisi beku masing-masing. Aku berlari, keluar pintu, keluar gerbang, melewati orang-orang itu yang penuh sesak di depan gerbang.

Sampai ketika aku tiba di jalan di depan gedung sekolah, aku melihat kau berdiri memandangku di ujung jalan. Mirip posenya dengan foto yang telah aku bakar kemarin. Tidak, tidak, sangat mirip! Tanpa aku sadari, waktu kembali berjalan. Para warga membabi buta membunuhi kami, para guru berkebangsaan Belanda. Dan sepertinya aku limbung, tewas seketika.


(Maret, 2011)

Posting Komentar