September, 2008
12:07 Duduk di samping Tempat Sampah![]() |
| Photo by Kamal Bilal on Unsplash |
Setengah tak percaya, sekarang aku memasuki dunia perkuliahan, dunia yang kata surat-surat kabar dan berita di televisi membosankan. Presiden bahkan sempat berpidato di Gedung Negara ketika perayaan kemerdekaan bulan lalu, "Jangan pernah mau menjadi mahasiswa, karena mereka bisa menciptakan perubahan yang tidak baik untuk keberlangsungan Negara ini. Ganyang mahasiswa!" Waktu itu di dalam televisi yang hitam-putih dengan gambarnya yang bergoyang-goyang sedikit, Presiden berteriak lantang sambil dibarengi sambutan riuh para pendengar. Seluruh warga negara yang melihat pidato Presiden itu berdiri, kemudian menghormat televisi seperti sikap hormat pada bendera merah-putih sambil menangis sendu. Indonesia terharu.
Aku telah menyiapkan segala sesuatunya sebelum masuk ke lingkungan kampus. Kulihat tasku yang dipenuhi peralatan perang: Pistol P3 Pindad buatan Indonesia, ribuan peluru, dan granat. Tak lupa aku mengenakan baju antipeluru, siapa tahu Presiden tiba-tiba datang dan menyerang tempat ini, menembaki kami satu persatu, membuktikan ucapannya itu. Anehnya, Presiden berani menyerang mahasiswa tetapi tidak berani menyerang negara tetangga. Ah, mungkin suatu saat nanti, akan tiba waktunya aku membunuh Presiden.
Gerbang depan kampus terlihat dipenuhi pagar-pagar listrik bertegangan tinggi, anjing-anjing berkepala tiga yang menjulurkan lidah meminta sesuap uang kertas puluhan ribu saban hari, dan dosen-dosen dengan sayap-sayap hitam yang menelungkup di balik punggung yang tampak tertawa-tawa, membicarakan kapan nilai bisa secara perlahan-lahan membuat kami sengsara kemudian mati.
Tiba-tiba aku mulai tahu tujuanku di sini.
Aku mendengar seorang gadis bernyanyi.
Mei, 201007:05 Bersandar pada Dinding Toilet
Sudah hampir dua tahun aku bersama gadis yang aku lihat ketika pertama kali aku kuliah di sini. Namanya Alina. Setiap aku mengingat namanya di malam sebelum tidur, atau di pagi sesudah bangun, aku selalu ketakutan kalau-kalau dia memintaku membawakan sepotong senja yang dikirim beserta setangkai mawar merah muda. Bukannya aku tak mampu, aku bahkan bisa menumpahkan samudra ke dalam cangkirnya yang telah setengah kosong itu, memenuhinya dengan paus, lumba-lumba, atau mungkin hiu. Tapi tidak ada lagi senja di perkuliahan, Alina, apalagi senja di tepi pantai dengan matahari yang tenggelam.
Dua bulan sudah, dia terasa berubah. Senyumnya bukan senyum Alina lagi, tetapi senyum seorang lain yang terperangkap dalam tubuh Alina. Aku tahu, mungkin ini salahku yang tidak pernah menanyakan keinginannya di setiap akhir pekan, di setiap kita berduaan di bawah lampu taman. Dia selalu diam jika aku membicarakan keinginan.
Dia mulai terasa berubah sebenarnya sudah dari satu tahun yang lalu. Ketika itu, Alina ketahuan menatap langit, kemudian menerka-nerka bentuk awan. "Sukab, lihat di sana! Awannya berbentuk istana pasir yang kita bangun dulu di pinggiran pantai." Aku memadang awan yang ditunjuk, dan mengangguk. "Tapi aku ingin melihat yang lain, senja dari awan!"
Tak pernah sebelumnya Alina menginginkan sesuatu, maksudku yang dibicarakannya bersamaku. Dan kali ini berbeda, dia menginginkan sesuatu, meminta awan berbentuk senja kepadaku! Sore harinya, aku membawa tangga yang kupinjam dari seorang teman, kemudian memanjat langit. Tentu saja aku bukan seorang pembentuk awan yang baik, tapi akan kulakukan segalanya bagi Alina. Maka, dengan modal keahlian menggambar yang sudah membakat dari zaman sekolah dasar, aku membuat senja dari awan. Orang-orang yang melihat di bawah sana, seakan terpesona dan lantas berteriak-teriak, "Lihat! Ada seorang mahasiswa yang membuat senja dari awan!"
Kabar menyebar dengan cepat, sangat cepat. Koran-koran lokal maupun nasional sibuk meliput peristiwa ini, sekilas info-sekilas info yang tayang satu jam sekali di televisi itu pun sama, semuanya memberitakan aku. Aku bahkan belum turun dari tangga ketika Alina berteriak-teriak kepadaku, "Aku tidak ingin lagi memintamu membuatkan senja dari awan! Turun, Sukab, ayo cepat!"
Ketika aku turun, wartawan-wartawan dari berbagai media langsung berebut menyodorkan pertanyaan, tetapi tanganku ditarik Alina dan kami pun kabur. Wartawan-wartawan itu mengejar kami dari belakang, sementara warga masih berteriak tak percaya, "Lihat, mahasiswa itu gagal menciptakan senja yang utuh dari awan! Bangsat, dia menghianati kita, para pengagumnya. Padahal kita sudah mempercayainya. Ayo semuanya, kita sama-sama ganyang mahasiswa!" Dalam waktu singkat, seluruh warga berbaur dengan wartawan-wartawan mengejar kami yang masih berlari. Berlari. Berlari.
Sampai aku menemukan tempat paling tersembunyi di dunia. "Aku punya ide, Alina, bagaimana kalau kita bersembunyi di dalam hati untuk sementara waktu? Kau bersembunyi di hatiku, aku bersembunyi di hatimu." Dan segera, kami saling menyembunyikan diri kami di dalam masing-masing hati.
Aku bertanya-tanya setelahnya, mengapa aku harus berlari dari wartawan-wartawan itu. Bukankah bisa saja aku nanti jadi artis dadakan, seperti Rama dan Sinta yang menarikan tari Jaipongan dengan iringan lagu dangdut Roma Irama itu. Serta-merta hati Alina menjawab, "Sukab, satu-satunya pekerjaan yang tak boleh dijadikan cita-cita adalah wartawan. Jadi, jangan percaya pada wartawan!" Aku tertawa mendengarnya, kemudian berbaring di dalam hati Alina. Ah, terasa nyaman sekali, sampai-sampai aku tertidur di dalam hati Alina.
Sejak hari itu, Alina tak pernah mau lagi menyampaikan keinginannya. Dan seharusnya aku mengerti, aku tak perlu takut Alina menginginkan senja lagi. Alina berubah.
Juni 2010
21:34 Di depan Rumah Alina
Aku tahu sekarang sebab Alina berubah. Dia memiliki pujaan lain, lelaki lain yang dicintainya, selain aku. Aku menyewa kepolisian untuk menyelidiki siapa sebenarnya yang Alina cintai itu. Rumah Alina saban malam kami intai, siapa tahu orang yang dicintai Alina itu datang. Tapi sudah tiga hari ini diawasi, hasilnya nihil. Lelaki itu tak pernah muncul. Aku mulai tidak percaya pada polisi, seakan aku lupa bahwa tugas polisi sebenarnya adalah meminta-minta uang kepada pengguna kendaraan di jalanan, sehingga aku memutuskan untuk mengawasinya sendirian. Hari ke empat, aku memasang alat penyadap di rumahnya, menyadap jaringan teleponnya, dan mengintai rumah Alina tiap malam. Sampai hari ke tujuh, aku menyerah. Aku hendak pergi, tapi tiba-tiba terdengar suara bergemuruh dari langit. Berkas-berkas sinar terlihat membelah malam, membelah pepohonan, membelah rerumputan, membelah aku. Helikopter pribadi mendarat beberapa meter di depanku, dan seseorang turun, berjalan menujuku.
"Memalukan." ujarnya sambil tertawa sinis. Aku diam, menyesuaikan mata yang disilaukan lampu helikopter itu untuk segera tahu siapa yang sedang berbicara padaku. "Kau menganggapnya kekasih, tapi nyatanya tidak tahu apa-apa tentang dia." Jantungku berdebar tak karuan, rasa-rasanya aku mengenal suara ini. Entah di mana. Semakin dia berjalan ke arahku, semakin jelas terlihat siapa dia sebenarnya. "Akulah kekasih Alina yang baru, asal kau tahu. Kau mengintai dia malam-malam selama seminggu? Sangat lucu. Aku dan dia selalu bertemu ketika senja, seminggu ini. Kau melupakan sesuatu yang penting, Sukab. Alina menyukai senja, bukan malam."
Aku kaget sekali ketika wajahnya telah jelas terlihat. Wajah yang sudah tak asing lagi di mataku. Aku melihat Presiden.
Juli, 2010
17:45 Di dalam Gedung Negara
Hari ini, aku ingin menyelesaikan semuanya. Aku selalu memimpikan saat-saat seperti ini, saat di mana segalanya terasa ringan. Rencananya, aku akan membunuh Presiden. Alasan aku menjadi mahasiswa adalah Alina. Jika Alina lebih memilih Presiden dibanding aku, tak ada lagi alasan aku tetap menjadi mahasiswa. Aku selalu tersenyum ketika nanti berhasil membunuh Presiden, namaku tercantum di koran-koran dan di televisi sebagai mahasiswa (yang bukan lagi mahasiswa) pertama di dunia yang berhasil membunuh Presiden. Perlengkapan perang yang selalu aku bawa ke kampus, hari ini aku bawa dengan lebih lengkap. Ah, kulihat langit, rasanya senja ini terasa panjang.
Hari ini, Presiden dijadwalkan berada di kamar pribadinya di dalam Gedung Negara sampai pukul 18:00. Waktuku untuk membunuhnya hanya tersisa 15 menit lagi. Aku berhasil mengendap ke dalam Gedung Negara dengan cara yang rahasia. Jika aku beritahukan caranya, aku takut akan banyak mahasiswa-mahasiswa yang membunuhi Presidennya. Saat ini, aku sudah berdiri di depan kamar pribadi Presiden. Dan tanpa basa basi, aku buka paksa pintu itu sampai rubuh. Aku tak terlalu kaget ketika Presiden tengah bercumbu dengan Alina di ranjang itu.
"Sudah berakhir, saudara, sebab kita tak akan pernah bisa lagi melihat senja besok hari." Aku hendak menarik pelatuk pistol yang sudah tepat mengarah kepada kepala Presiden, ketika sebuah tembakan melesat dari arah belakang menembus dadaku. Aku ketahuan!
Dengan serta merta, Gedung Negara meledak. Jerit warga masyarakat yang melihat kejadian itu riuh terdengar. Pemadam kebakaran berdatangan dari tiap sudut, wartawan-wartawan menyemut di sekitar area Gedung Negara. "Pasti perbuatan Mahasiswa, tidak salah lagi!" teriak warga. "Ganyang Mahasiswa!" teriak warga yang lain. Tapi aku mati dalam keadaan bahagia, orang-orang bodoh itu tidak menyadari bom-bom yang kupasangkan di sekujur tubuh. Aku mati dalam keadaan bahagia, sebab Presiden, Alina, dan senja mengikuti kematianku.
Besoknya, koran-koran dan televisi tidak memberitakan kejadian ini. Secara mengenaskan, aku terlupakan: secara mengenaskan, Mahasiswa terlupakan.
(2011)

Posting Komentar