Isyarat Ombak: Yang Ada dan Yang Terhapuskan
![]() |
| Photo by Tim Peterson on Unsplash |
aku menyentuhmu dengan tenang, dengan
pesan lewat ombak dan gelombang--masihkah
dia, sejatinya dia, yang kau tunggukan pulang?
sejak lama kau berdiri di sana dan memandang
mungkin, sejak kau hantarkan seorang itu berlayar
menuju seberang. mungkin, sejak kau lantarkan
rindu-rindu ini menjadi serangka
k
a
r
a
n
g
aku bertanya kepada langit yang menyaksikan
surut dan pasang, "cinta yang laut, cinta yang
bayang. akankah ia abadi, sungguh tiada lekang?"
aku menyentuhmu dengan tenang, dengan
debar-debar kenangan yang memanjang--tidakkah
kau sadari, telah sampai kepadamu airmata-airmataku
yang debur dan yang linang?
Kwatrin Seperti Ada Yang Ingin
Seperti ada yang ingin disampaikan
Oleh sepasang mata kita yang malu-malu
Itu, yang diam-diam saling bertukar pesan
Tentang semacam isyarat, semacam rindu
Seperti ada yang ingin diceritakan
Lewat senyuman manis dan tanganmu yang
Menengadahkan gerimis: mungkin kenangan
Yang perlahan meleburkan namaku dan namamu
Sebab
Sebab aku mencintaimu, rindu itu
Kulipat dan kuselipkan di perahu
Kertas. Aku ingin membawanya
Berlayar, lepas kemudian landas
Di hatimu. Aku tidak ingin
Membawanya karam, lantas
Hilang di kedalaman hati yang
Letih menunggumu
Sebab aku mencintaimu, aku
Melipat sebanyak-banyaknya rindu
Aubade
Kami senang menyambut geliat matamu atau kemalasan yang menyumbat harumharum bunga di pekarangan yang enggan menyemerbak ke kedalaman kamarmu atau embunembun subuh yang menyerentak jatuh satusatu menuju rimbunrimbun lusuh tanah basah waktu itu sementara ingatan sibuk memainkan lagu yang sama berulangulang tentangmu tentang rindu pada cahaya tentang biru cakrawala tentang kami yang bukan siapasiapa tetapi suarasuara itu mendesir menjalar menggema di selasar jendela yang setengah terbuka membaca ingatan kami yang hampir terlupa kemudian dengan lembut kami mengucapkan selamat pagi walau barangkali tak kau dengar suara kami sama seperti ketika kami mengatakan akan mencintaimu sekali lagi sekali lagi sebelum kami menjelma kembali jadi puisi.
Setelah Sekian Lama
Ada yang lekas pergi serupa hujan
Hari ini, di antaranya pagi serumpun
Embun yang jatuh hati-hati
Kenangan menjelma genangan di
Halaman depan, menciptakan
Bayang-bayangmu yang langit
Yang biru telanjang
Suara tiba-tiba saja hilang, daun
Menyentuh telapak tangan
Sewaktu-waktu aku ingin sekali lagi
Mencintaimu, menjadi cuaca baik bagimu
Menjadi payung atau topi di kepalamu
Menjadi hal yang pertama kau ingat
Ketika gerimis turun satu demi satu
Sewaktu-waktu aku ingin sekali lagi
Mencintaimu, seperti dulu.
Abah Nicko: Sajak Angin
:kepada (Ridwan "Suara" Firdaus)
Kau tau aku kan?
Ya, kau benar!
Aku ada di daun-daun dan ada
di antara mereka yang gugur
ketika ku elus
Sebagian dari mereka kubawa menjauh dari rantingnya
Sehelai sebelum jatuh ke tanah
Ia mengajakku merebah
di rerumputan
(Pangkal tangkainya yang pucat menguning menjemariku
"Tapi aku sedang dalam perjalanan. Kau sajalah!
Telah sampai.")
Kuusap daun-daun
Kuusap ranting-ranting
Kuusap pohon-pohon.
"Kau dari mana?"
(Sebatang pohon roboh ketika
kusentuh tadi malam)
---nickas medio april 2015
Di Sini Aku Mencintaimu
karya Pablo Neruda
terjemahan Ridwan Firdaus
Dalam gelap pohonan pinus angin mengurai diri sendiri.
Rembulan bersinar seperti fosfor pada genang air yang terlantar.
Hari-hari, semuanya sama, pada setiapnya saling kejar-mengejar.
Salju membabar di angka-angka yang menari.
Camar perak tergelincir jatuh dari barat.
Kadang kala berlayar. Tinggi, tinggi mengawang.
O salib hitam di atas kapal.
Sendirian.
Kadang kala aku bangun pagi-pagi sekali, jiwaku basah.
Dari jauh, laut menyenandung dan menggema.
Ini pelabuhan.
Di sini aku mencintaimu.
Di sini aku mencintaimu dan cakrawala sia-sia menyembunyikanmu.
Aku masih mencintaimu di antara dingin-dingin ini.
Kadang kala kecupan-kecupanku pergi bersama kapal-kapal berat itu
Yang melintasi samudera tanpa pernah ia kembali.
Aku melihat diriku terlupakan seperti jangkar-jangkar tua itu.
Dermaga meratap kala senja merapat di tepinya.
Hidupku lelah, kelaparan yang entah.
Aku mencintai yang tak aku miliki. Kau terlampau jauh.
Kegundahanku bergulat dengan senja yang turun lambat.
Tetapi malam datang dan mulai bernyanyi untukku.
Rembulan mendetakkan jarum panjang mimpinya.
Bintang-gemintang menatapku dengan matamu.
Dan sebagaimana aku mencintaimu, pohonan pinus dengan anginnya
Ingin menyenandungkan namamu lewat daun-daun kawat itu.
(2015)

ah.. indah..
BalasHapustrims mas wulung sudah mampir :)
BalasHapusfollow saya di einestadt.blogspot.com
BalasHapusplease... ^^
(oke ya wan!!)
@ ayu, udah kan, ya?
BalasHapusPenggunaan gaya bahasa yang bagus. Ditunggu kunjungan baliknya di diary-mr417.blogspot.com
BalasHapus