Puisi Hujan Kala Itu

Kunang-Kunang Hujan

Photo by Gabriele Diwald on Unsplash

Adakah engkau pernah mendengar
kisah tentang negeri kunang-kunang
tempat cahaya jingga menari dalam hujan
ranah angin bersemilir sepanjang
musim, membawa dingin rindu yang
membeku dalam embun

Di sanalah tempat kali pertama
legenda cinta abadi terdengar
ke dunia, jauh sebelum cinderella
kehilangan sepatu kaca

Kisah tentang putri cahaya dan pangeran
biru yang bertemu dalam purnama
saling tersenyum menatap mata
hingga ayat-ayat rindu mulai mengalun
bersama remang

Tapi seketika penyihir datang dari
selatan, terbang mengendarai
sapu kayu, ingin merebut tahta kerajaan biru

Pangeran tentu saja melawan
hingga disihirnya ia menjadi hujan
puteri cahaya menangis panjang
dan dengan sisa pendar ia menyerang
malang, ia pun disihir menjadi kunang-kunang

Penyihir tertawa membahana angkasa
malam dan terbang menuju kastil biru
mengambil alih singgasana kerajaan

Kini kunang-kunang hanya bisa mendekap
hujan setiap malam
hingga cahayanya kian redup terlamun
cinta yang menjelma gerhana

Begitulah, kunang-kunang hujan
pun menjadi legenda tentang cinta
yang tak pernah bisa saling menyapa
: walaupun jarak setipis angin dan suara

(2009)

Hujan Tiada Reda

Samping temaram lampu kunangkunang
taman aku menunggumu,
bidadari yang kini taburkan hujan
pada hatiku yang salju
Entah sudah berapa angin yang aku lewatkan
di sini bersama hening yang telah singgah
sejak pertama aku menjejak rindu
Aku hanya tahu, ada renggang tanpa jeda
yang memisahkan cahaya
dan matamu yang rembulan

: dan aku akan selalu menunggu hadirmu itu
sempurna, di persimpangan hujan yang tiada reda

(2009)

Sonet: Hujan

sebenarnya aku tak ingin engkau tahu
bahwa ada tangis yang aku sembunyikan
di balik daun dan di patahan ranting itu
sisa basah kemarau yang tak sempat lebih lama bertahan

kau tahu? sengaja tak kuletakan tangis di mataku
supaya aku agak terlihat seperti ilalang senja
---tak pernah berembun apalagi layu
hanya karena hujan yang sesaat tiada

dengan begitu, kuharap kau tak keberatan jika aku
mengayuh angin hingga ke utara
mengembalikan sedikit hati yang walaupun berdebu
tapi masih ada pijar cahaya di sela sela

dan aku akan membisikan padamu sedikit rahasia
: aku tak lagi mencintai hujan yang sederhana

(2009)

Trinet: Mendung [1]

bangku kayu
aku bersandar

sendiri, dengan angin yang membelah mata
menjadikannya basah tertahan di cakrawala

seperti embun
di bunga-bunga

Trinet: Mendung [2]

menunggu gugur
awan awan

di sejenak resah yang tersendat lelah
seolah senja yang menguncup di rumputan

tiada hujan
padanya impian

(2009)

Hujan Melengkapiku

Hujan melengkapiku lewat gelagatnya yang
Rahasia: dipertemukannya kita di sini, di antara
Sepasang hati yang ditakdirkan berbeda

Aku yakin, kaulah sejatinya
Langit yang meruntuhkan rindu-rindu
Percayalah, semesta menangis jika kau
Tak lagi ada di sisiku

Ah, hujan melengkapiku lewat gelagatnya
Yang rahasia

(2010)

Kepada Basah

Aku tahu hendak kemana
Mesti mengalir--telah kusabdakan
Dingin pada tiap-tiap mata yang
Memicing di bawah payung
Dan gigilmu yang gemerincing
Di rekah bibir yang mengerutkan
Angin

Aku tahu hendak bagaimana
Mesti mengukir--telah kuselusur
Wajahmu yang kering
Kusemai padanya semak
Dan semilir, di bawah rindang
Ranting: aku tersihir mantra
Air

(2014)

Haiku: Hujan

Basah meretas
Di hujung pertemuan
Senja berkabung

(2014)

Posting Komentar