Puisi Dalam Dadaku Indonesia

Radio Tua dan Indonesia Raya

Photo by Nick Agus Arya on Unsplash


pada radio tua
kuputar lagu Indonesia Raya di ruang keluarga
tak ada yang peduli, apalagi membusungkan dada
hanya aku saja yang mendengarkan bangga

aku bertanya pada jam dinding yang sinis tertawa
dimana lagi bersemayam semangat empatlima
yang dulu begitu menggebu mengecam penjajah
dan para penguasa
hingga terpetik hasil gemilang tak siasia
: indonesia merdeka!

pun kutanya bendera yang lusuh terlipat
di muka jendela
dimana lagi bersinggah teriakan para pejuang dulu kala
ketika manusiamanusia belanda yang mengangkat
senapan berpeluru tembaga
berhasil dikalahkan dengan tombak bambu
dan strategi gerilya
: indonesia berjaya!

pada radio tua
kuputar lagu Indonesia Raya di ruang keluarga
tak ada yang peduli, apalagi bangga
hanya aku saja yang membusungkan dada

(2009)

Perjalanan Matahari

kami punya jalan sendiri untuk mencuri binar matahari
tidak ke arah rantingranting api atau daundaun pagi

kami punya kompas sendiri untuk menunjukkan kemana
seharusnya kami pergi
utara barat timur selatan tertera di sudut hari

kami punya ransel sendiri untuk menyimpan segala
pelangi, alatalat mendaki, juga hati
dengannya kami siap untuk mati!

(2009)

Ranting

Mungkin engkau tak pernah tahu bahwa di dalam dadaku, telah kutanam biji matahari yang kemarin sengaja kupetik di ujung pelangi. Tiap malam kusiram ia dengan rembulan biar nanti tumbuh ranting cahaya putih serupa bintang.

Jika rantingnya sudah semakin sempurna, akan kupatahkan ia satusatu dengan kapak besi yang kutempa bersama harapan dan mimpi. Akan kupakai ia untuk bahan api unggun saat aku berkemah di belantara hatimu nanti.

Tunggu saja, sampai ranting ini siap berpesta.

(2009)

(Merah) Putih

1
kami telah menempuh perjalanan panjang dari
arah jauhan sana, entah sudah berapa lama
hanya demi mencari warna merah yang telah punah
; darah kami biru, tak pantas disandingkan
dengan putih yang samar terlihat abu-abu

2
hingga akhirnya kami temukan merah itu di dada
bocah-bocah putus sekolah yang setiap senin pagi
menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan lantang
; sambil menghormat pada bendera yang tertahan
di setengah tiang

3
kami culik bocah-bocah itu dan kami gantung bersama
putih di tengah-tengah upacara kemerdekaan
kemudian ramai-ramai kami berseru
; "Merdeka! Merdeka kami dari penjajahan!"

(2009)

Belajar Membaca

Tuhan
Ini Tuhan Budi
Hantu
Ini Hantu Budi
Ulangi
Ini Tuhan atau Hantu, Budi?

(2015)

Posting Komentar