Cerita Pendek Manusia Ungu dan Thalassophobia

Photo by Lopez Robin on Unsplash

/1/
Aku mengenalnya sebagai sosok perempuan yang gila.

Musim dingin waktu itu, hujan sedang deras-derasnya jatuh mengenai atap rumah. Aku melihat lewat kaca jendela yang kedinginan—gemeretaknya terdengar demikian jelas, malam tak menyuguhkan apa-apa untuk ditonton padahal aku sudah sangat bosan terus-terusan mengurung diri di kamar. Sakit ini menjalariku dari sejak beberapa waktu yang lalu, sakit yang aneh bahkan para dokter pun dibuat keheranan karenanya. Barangkali karena kecapaian, atau salah memasukan makanan ke perutku, dokter tak tahu pasti penyebabnya. Tetapi tubuhku berubah menjadi berwarna ungu sejak hari itu—walaupun tidak seluruh tubuh, hanya sebagian besarnya dipenuhi bercak-bercak berwarna ungu. Pigmen-pigmen kulit yang seharusnya berwarna sawo matang agak kecoklatan, kini berubah tiba-tiba. Tidak ada rasa sakit ataupun rasa gatal, semuanya baik-baik saja. Hanya saja aku ketakutan bila perubahan ini bertahan seumur hidup. Aku tentu tak mau disebut Manusia Ungu sepanjang sisa umurku. Aku masih ingin menikah, memiliki anak dan cucu, serta menikmati indahnya hari tua dengan bersantai di halaman rumah bersama segelas kopi pahit dan koran-koran usang yang memberitakan hal yang sama berulang-ulang itu—yang tanpa bosan pula orang-orang membeli dan membacanya. Tidakkah ini harapan yang wajar-wajar saja?



Sampai kemudian aku bertemu dengannya di perjalanan pulang dari rumah sakit. Kebetulan aku memakai jaket dan topi yang menutupi hampir seluruh tubuh. Aku masih belum siap dilihat orang, apalagi bila nantinya jadi bahan pembicaraan dan pemberitaan. Barangkali koran-koran usang yang memberitakan hal yang sama berulang-ulang itu akan menemukan bahan pemberitaan yang menarik setelah bertemu denganku. Siapa lagi memangnya di dunia ini yang memiliki penyakit aneh sepertiku? Aku membayangkan fotoku akan dimuat di halaman depan koran-koran dan diberi judul dengan huruf lumayan besar, sementara pihak wartawan yang mewawancaraiku tak sedikitpun memiliki niat untuk membuatku sembuh.

Dia tiba-tiba menyapaku dengan penuh semangat dan rasa penasaran. Barangkali dia tak sengaja melihat kulitku yang ungu ini, atau ada sebab lain yang membuatnya demikian tertarik kepadaku?

Bila dilihat dari dekat, dia memang terlihat cantik pada beberapa hal. Terutama matanya. Ada semacam misteri pada kedua sisinya yang memaksaku untuk pergi menyelam ke kedalamannya—hanya saja aku tak sanggup berenang terlalu dalam. Semacam hipnotis, matanya mampu membuatku sejenak tertegun seolah-olah waktu sesaat berhenti lalu ketika kedipan matanya menyadarkanku dan waktu berjalan normal kembali, aku tahu aku tiba-tiba mencintainya.

Sebentar, aku tidak bisa tiba-tiba mencintai seseorang yang baru dikenal. Aku curiga jangan-jangan dia hanya seorang wartawati dari koran-koran yang usang itu,berusaha mencari informasi dariku tentang penyakit aneh sekaligus menakutkan—media massa memang senang melebih-lebihkan. Bisa saja nanti diberitakan bahwa penyakitku adalah sejenis kesalahan genetika yang mampu membuatku meninggal dalam beberapa saat saja. Atau kemungkinan lain yang lebih parah, ada semacam bakteri atau virus yang mematikan bersemayan di dalam kulitku yang memiliki kemungkinan menular pada orang-orang sekitar melalui sentuhan. Aku tidak mungkin mau diwawancarai bila akhir beritanya menjadi sedemikian menyeramkan bagiku juga para pembaca yang tidak tahu apa-apa itu—beberapa memang senang menelan mentah-mentah informasi yang ada tanpa mau mencari tahu kebenaran yang sebenarnya. Tapi kekhawatiran tanpa alasan ini pupus ketika dia mengenalkan diri, dan sambil tertawa kecil, mengatakan kalau dia bukan wartawati atau semacamnya.

“Aku hanya ingin menyampaikan kepadamu hal penting yang harus kau tahu.” ucapnya. Gaya bicara yang tegas dan menarik ini tidak pernah sedikitpun membuatku berpikir dia gila. Sampai kemudian dia melanjutkan, “Kau adalah keturunan ras Alien yang tinggal di bumi.”


/2/
Dulu sebelum tidur, ibu selalu membacakanku dongeng—banyak sekali dongeng dari berbagai macam kebudayaan. Tentang peri, kurcaci—ada beragam dongeng yang menarik yang membuatku kemudian bisa terlelap dengan tenang di dekapan ibu. Bagian yang paling aku tunggu-tunggu adalah saat dongeng itu mendekati akhir dan aku tahu akhir dongeng itu selalu bahagia—pernah suatu ketika, aku sampai meminta dibacakan ulang dongeng yang diceritakan ibu ketika akhir dongeng itu tidak bahagia. Aku yang masih kecil tidak pernah tahu dan menerima, bahwa kehidupan memiliki banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang berbeda.

“Kau masih tak percaya?” kata sosok perempuan yang kukenal gila itu di hadapanku, duduk manis sambil memainkan kuku jari telunjuknya yang agak panjang dengan ujung kuku jempolnya—membuyarkan lamunanku.

“Maaf, tentu saja aku tidak percaya! Bagaimana mungkin aku mempercayaimu yang tiba-tiba datang menyapa, dan berkata aku keturunan Alien?” sungutku setengah berteriak. Aku masih tetap memakai jaket yang menutupi tubuh, tapi kubuka topiku dan kusimpan di meja kecil di antara aku dan perempuan gila itu—untungnya bagian kepalaku tidak ada yang berubah menjadi warna ungu.

Awalnya aku tak mau diajak duduk berdua dengan perempuan itu, aku tak mau berurusan lebih jauh dengannya. Tapi sepertinya dia adalah yang pertama mengetahui penyakitku—selain dokter yang aku minta pula merahasiakan penyakitku ini sebab aku malu. Dia agak memaksaku. Kalau tidak menuruti keinginannya, dia akan melaporkan penyakitku pada wartawan dan aku tahu bagaimana akhirnya nanti bila itu terjadi. Ancaman perempuan kadang lebih berbahaya dari ancaman perampok bank atau pembunuh bayaran sekalipun.

“Maafkan aku. Tapi aku harus meminta bantuan darimu, sebab orang lain tak mungkin bisa membantuku.” pintanya. Suasana cafe terbuka di samping jalanan ini lumayan nyaman, ada beberapa pohon yang daun-daunnya menghalangiku dan perempuan gila, yang sesekali memainkan rambut panjangnya itu, dari sinar matahari yang tak terlalu hangat—untuk beberapa kesempatan, walau sudah memakai jaket, aku bahkan dibuat kedinginan.

“Apa untungnya bagiku?” dengusku sambil memalingkan muka. Kulihat trotoar semakin ramai oleh orang yang berlalu lalang, kukira ini waktu yang tepat untuk pergi menjauhi perempuan gila ini. Ketika hendak beranjak dari kursi, tangan perempuan itu menahanku sambil memasang mata memelas. Oh, ayolah. Aku tak tahan melihat mata perempuan, apalagi yang seperti itu. Aku urungkan niatku karenanya.

Sambil tersenyum dan menarik kembali tangannya, perempuan itu berkata, “Aku tahu cara mengembalikanmu jadi manusia biasa—bukan lagi alien berkulit ungu.” Dia diam sesaat. “Tapi itu tergantung, apa kau berhasil membantuku atau tidak.”

Tentu saja aku tidak ingin berubah menjadi manusia ungu, selamanya! jeritku dalam hati. Di tengah kecamuk dadaku, dia bertanya keputusanku, dan aku menjawab bagaimana aku harus membantu—padahal aku tidak begitu yakin dengan perkataannya yang bisa menyembuhkanku itu.

Kami melanjutkan obrolan yang lumayan panjang, penuh dengan pembicaraan tentang anaknya yang hilang dan tak lagi bisa ditemukan.

Menurut ingatan terakhirnya, dia sedang berlibur bersama anak dan suaminya ke pantai di bagian selatan kota. Segalanya baik-baik saja. Anaknya, yang masih berusia sekitar empat tahun, tengah asyik membangun istana dari pasir. Suaminya tengah memesan tiga es kelapa muda—minuman kesukaan anaknya bila diajak berlibur ke pantai ini, dia akan tertawa sambil melahap habis minumannya itu sampai mulutnya penuh. Dan perempuan gila ini, aku jadi tak tega menyebutnya gila setelah mendengar ceritanya sejauh ini, tengah asyik merekam dengan kamera genggam apapun yang dilakukan anaknya—entah sedang tertawa-tawa memainkan sekop dan istana pasirnya yang tak selesai-selesai itu, atau ketika terjatuh dan menimpa istana pasir yang sudah susah payah dia bangun dan perempuan ini hanya tertawa tanpa membantu anaknya bangun, diikuti tawa anaknya yang ikut-ikutan tertawa melihat ibunya tertawa melihatnya. Tak berselang lama, suaminya muncul dari balik tirai warung dan berjalan mendekati mereka berdua.

Tiba-tiba ada yang berbeda, suaminya menjatuhkan ketiga gelas es kelapa muda mereka dengan meninggalkan tatapan kosong yang mengerikan di wajahnya, lantas serta merta lari menjauh meninggalkan anak dan istrinya. Keadaan mendadak riuh seketika. Orang-orang sibuk berlarian melewati perempuan itu, dan anaknya yang masih tertawa-tawa melihat istana yang sudah berdiri sempurna—ada yang tidak beres. Masih dengan rasa keheranan karena suaminya meninggalkannya begitu saja, dia segera memalingkan muka ke arah laut. Beberapa kilometer dari tempatnya berada, pemandangan mengerikan terpampang nyata—ombak setinggi belasan meter mengulung-gulung siap menerjang apa saja. Perempuan itu menjerit sekerasnya, dan ingin sekali pingsan saat itu juga manakala dia melihat anaknya sudah hilang entah kemana. Hanya istana pasir yang sudah rusak diinjak oleh orang-orang yang sibuk berlarian menyelamatkan nyawanya, yang tertinggal di sana.


/3/
Dulu sebelum tidur, ibu selalu membacakanku dongeng—tapi tidak pernah memberitahuku ada dongeng tentang alien. Barangkali ibu sedang berbohong waktu itu padahal dia tahu sesuatu, atau memang dia tidak tahu apa-apa, atau jangan-jangan memang alien tidak pernah ada. Tapi perempuan gila yang tadi siang meminta bantuanku—dan aku menyetujuinya, karena itulah aku bersiap-siap sekarang, percaya pada keberadaan alien dan aku keturunannya. Apa, ya, yang ada di dalam pikiran perempuan itu sampai akhirnya berkesimpulan demikian?

Aku menemukan jawabannya ketika aku mulai mengemudi, dan dia duduk di sampingku—meninggalkan pertanyaan pada ruang di kepalaku, apa yang hendak dilakukannya setelah ini. “Kautahu, ada banyak hal di dunia yang masih menjadi rahasia bagi manusia?” ujarnya berkata. “Misalnya masa depan, atau bahkan masa lalu."

Iya aku pun tidak tahu jalan pikiranmu yang gila itu, kataku dalam hati.

“Atau barangkali Alien, leluhurmu.”

Apapun katamu, perempuan gila, aku bisa terbawa gila olehmu. Emm, sebenarnya dilihat dari penampilan, sangat jauh sekali bisa disebutkan bahwa perempuan ini gila—pakaian rapi, rambut lurus terurus, pun kulitnya yang langsat terawat. Entah apa yang membuatku akhirnya menyebutnya gila—ah, kadang sulit membedakan mana yang gila mana yang tidak di zaman sekarang. Apa karena dia menyebutku keturunan Alien, ya, hingga aku berani mengatakan dia gila? Aku tak terlalu yakin juga.

“Sebenarnya, mengapa kamu percaya aku keturunan Alien?”

 “Sebab bercak ungu yang muncul di tubuhmu.”

“Darimana kau tahu aku memiliki bercak itu?”

Tanpa memperdulikan pertanyaanku, dia meneruskan perkataannya yang sempat terhenti. “Bagi keturunan Alien sepertimu, bercak ungu memiliki arti lebih dari sekedar noda di kulit. Itu semacam isyarat, akan ada perubahan besar yang terjadi pada hidupmu.”

Aku tidak peduli cerita bualanmu tentang Alien itu, tegasku dalam hati. “Yang aku ingin tahu, apa benar kau bisa menyembuhkan penyakitku ini?”

“Aku bekerja di bidang kesehatan, jadi percayalah.” katanya meyakinkan. Pandangan matanya mengarah jauh ke luar jendela, mengarah tepat ke laut di bagian selatan kota. Aku diam sambil memandang laut itu. Entah mengapa, kepalaku pusing sekali. Semacam ada yang memberontak dalam kepalaku, yang menolak keberadaan laut itu. Dia bertanya ketika aku meringis sambil memengangi kepala, ada apa. Tapi aku menjawab tak ada yang perlu dikhawatirkan. Keringat dingin mulai sedikit-sedikit menetes di sela-sela pakaian. Barangkali, sesuatu yang besar memang akan terjadi.

Aku melihat kepadanya, tatapannya masih lurus melihat ke depan. Beberapa saat yang lalu, kami sudah melewati terowongan. Sebentar lagi sampai, sebab aku melihat laut yang semakin terlihat dekat, yang sibuk menyampaikan debur kepada pasir yang basah sesaat oleh kenangan. Aku lupa beberapa hal, apa aku pun memiliki kenangan?

Di belakang kami, sebuah mobil terlihat berjalan mengikuti.


/4/
Dulu sebelum tidur, ibu selalu membacakanku dongeng—tapi ayah tidak pernah. Sekalipun aku memintanya. Ayahku tak mempercayai dongeng. Itu hanya cara manusia saja untuk menghindar dari kenyataan dan menciptakan dunianya sendiri, kau tahu, bagi mereka, dunia sudah terlalu buruk untuk dijadikan tempat tinggal, katanya suatu saat. Ayahku seorang nakhoda kapal. Kapal yang cukup besar untuk menampung ratusan penumpang, aku pernah diajak menaikinya. Sampai suatu hari, ayah tak memberiku, ataupun ibu, kabar kepulangan. Kecemasan ibu terlihat dari matanya, dan doa-doa yang ibu panjatkan selepas tengah malam. Untuk beberapa hari, barangkali karena mata ibu yang terlalu lelah mengeluarkan air mata, ibu tidak membacakanku dongeng. Ibu lebih memilih berdiam diri di kamarnya, sambil terisak-isak melihat foto ayah. Aku yang sudah terbiasa mendengarkan dongeng sebelum tidur, jadi kesulitan untuk sekedar menutup mata. Aku membayangkan peri-peri kecil dengan sayap setipis kupu-kupu mengambang di depanku, dan kurcaci-kurcaci dengan topinya yang runcing berlarian di kamarku. Kudengar dari ibu, bila aku memejamkan mata dan memohon, peri-peri dan para kurcaci—dengan kekuatan sihir mereka yang menakjubkan itu, akan mengabulkan doa dan menyampaikannya ke lautan. Menyampaikannya kepada ayah. Lalu aku memejamkan mata, dan memohon semoga ayah baik-baik saja. Besoknya, sambil menangis panjang, ibu berkata ayah tenggelam ditelan ombak besar ketika hendak berlayar pulang. Aku seolah melihat peri-peri dan kurcaci-kurcaci yang memenuhi ruangan ikut bersedih dan meneteskan air mata—seperti kami. Barangkali ayahku adalah seorang Alien yang kini pindah ke dasar laut, kataku menerka-nerka suatu hari. Sebab sejak hari itu, ibuku tidak pernah lagi membacakan dongeng, dan aku harus menciptakan dongeng-dongengku sendiri sebelum tidur supaya aku bisa terlelap.

“Aku masih bingung, sebenarnya apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?” tanyaku setelah sampai di tepi pantai. Kami berdiri di samping bebatuan yang sekali-kali diterpa ombak malam hari. Rembulan di atas sana malu-malu menampakan diri.

“Aku meminta kau memanggil nama anakku di tengah laut. Kuharap para Alien, leluhurmu itu, mendengarkan isyaratmu dan mengembalikan anakku kepadaku.”

Aku kaget, pikiran macam apa itu. Yang membuatku lebih kaget, bukan betapa gila dan tidak masuk akal permintaannya itu, tapi benarkah aku yang harus melakukannya. “Apa maksudmu? Hei dengar, aku tak mungkin bisa melakukannya. Lagi pula ini sudah malam, dan aku takut laut. Apa kau gila?” Baru kali ini aku berani menyebutnya gila secara terang-terangan.

Tapi dia tidak mendengarku, dan sambil berjalan dia berkata, “Sebaiknya kau turuti permintanku, atau penyakitmu tidak akan sembuh.”

Apa-apaan ini. Ah, sudahlah. Percuma berdebat dengan orang gila seperti dia. Tapi benar, aku takut laut. Aku sangat takut laut, apalagi melihat ombaknya. Mungkin karena ayah yang meninggal oleh laut, aku pun takut meninggal oleh sebab yang sama. Hal ini cukup menyulitkanku di beberapa kesempatan, sebenarnya.

“Bila kau ingin mengubah sesuatu, ada yang selalu harus kau korbankan.” ujar perempuan itu sambil tetap berjalan meninggalkan jejak-jejak pasir yang dingin, sementara aku mengikutinya dari belakang. Setelah tiba di tempat penyewaan perahu, aku memilih satu buah perahu yang kuat dan tak mudah terombang-ambing oleh ombak. Sepertinya segala peralatan dan persediaan selama perjalanan di atas perahu sudah siap—perempuan gila dan pemilik perahu sudah siap di atas perahu, tapi aku belum.

“Aku tidak bisa. Kau tahu, aku sangat takut laut. Melihatnya saja sudah membuatku gementar ketakutan.” kataku dengan suara bergetar. Sebenarnya aku tak pernah memikirkan kemungkinan ini—harus berlayar ke tengah laut. Aku kira, perempuan ini akan membawaku hanya ke tempat-tempat di sekitar laut saja.

“Jadi kamu mau selamanya menjadi manusia ungu?” ucapnya sambil mengulurkan sebelah tangannya, mengajakku naik. Benar-benar perempuan gila, bagaimana mungkin seseorang yang takut terhadap sesuatu disuruh untuk berhubungan langsung dengan ketakutannya itu secara tiba-tiba.

“Apa tidak ada cara lain yang tidak berhubungan dengan laut?” pintaku. Tapi dia tetap bersikukuh mengulurkan tangan mungilnya kepadaku tanpa berkata apa-apa lagi. Dengan sangat terpaksa, aku akhirnya menaiki perahu itu. Pemilik perahu diam saja melihat kami berdua, sebelum kemudian dia menghidupkan mesin perahu yang membawa kami menuju pusat segala ketakutan.


/5/
Bulan nampak lebih besar bila dilihat dari tengah laut. Aku yang dari sejak awal tadi memegang erat apa saja yang bisa digenggam saking ketakutan, perlahan-lahan mulai bisa bernafas lega dan melonggarkan genggaman. Walaupun sudah dua kali muntah karena tak tahan dengan ombak yang mengombang-ambing perahu, dan sepertinya akan ada muntah yang ketiga, tapi aku melakukan tugasku dengan baik.

Aku memanggil-manggil nama anak perempuan gila itu setiap kali ada kesempatan, sementara dia melihat ke segala penjuru laut barangkali ada yang terlewatkan. Hanya saja, tidak terjadi apa-apa, dan tidak sedikitpun laut memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Aku sudah memanggil-manggil nama anak perempuan gila itu puluhan kali—anehnya setiap kali menyebutkan namanya, ada perasaan ingin menangis semacam kehilangan yang pekat. Mungkin aku teringat pada ayahku, pada tangisan ibu yang panjang ketika itu, atau karena sebab lain yang aku tak tahu.

Sampai aku pusing karena tak kuat berdiri lebih lama, dan muntah untuk yang ketigakalinya.

“Kau terlihat payah sekali.” seru perempuan itu melihatku tak berdaya.

“Apa kau tak mendengar perkataanku tadi? Aku takut laut!” kataku setengah berteriak. Ingin rasanya aku robek-robek permukaan rembulan dan menyesapkannya ke dalam mulut perempuan gila ini supaya dia berhenti berbicara dan langsung menyembuhkanku saja.

“Kau tahu, ada yang berkata Alien hidup di banyak tempat di bumi—entah di ngarai,lembah, gunung, gua, bawah tanah, kutub utara, kutub selatan. Tapi aku lebih percaya mereka tinggal di dasar lautan.” Sejenak dia berhenti sambil melihat ke langit. Aku kira dia sedang menghitung jumlah bintang yang nampak di sana. “Planet ini punya laut yang luas, bahkan lebih luas dari daratan. Apa tidak mungkin sesuatu hidup di sana selain ikan?”

Perkataannya tentang Alien itu membuatku ingin muntah untuk yang keempat kalinya. Pemilik perahu membantuku membawakanku air, dan menyuruh untuk lebih baik kembali saja ke daratan. Tapi urusanku belum selesai, mungkin sebentar lagi. “Jadi aku harus bagaimana lagi, setelah usaha ini tidak berhasil?”

Tepat setelah aku selesai berbicara, perahu terombang-ambing lebih keras. Ombak semakin besar menggulung, dan aku semakin ketakutan. Pemilik perahu berusaha menjaga keseimbangan agar tidak membuat kami tenggelam. Serta merta perempuan itu bangkit dan berkata kepadaku, “Alien sudah datang, kau lihat. Barangkali aku yang harus menjemput anakku sendiri. Terimakasih.” Tanpa pikir panjang, perempuan gila itu melompat dari perahu dan aku berteriak panjang menahannya. Tanganku berusaha mengapai-gapai perempuan itu, tapi tak sampai. Aku terlalu ketakutan—entahlah, tapi sepertinya aku pernah mengalami ini sebelumnya, semacam de javu. Untuk beberapa saat, aku hanya melihat rembulan yang membayang berputar-putar. Langit seperti berpindah-pindah tempat, dan bintang-bintang turun ke hadapanku—cahayanya menjelma peri-peri kecil dan kurcaci-kurcaci dengan topi runcingnya, menari-nari dan tertawa riang gembira. Aku tak sadarkan diri, tepat ketika aku mendengar deru mesin perahu dan cahaya lampu dari pesisir pantai yang mengenai wajahku.


/6/
Dulu sebelum tidur, ibu selalu membacakanku dongeng. Tapi semenjak ibu kehilangan ayah, ibu menjadi orang yang berbeda. Bahkan setelah aku memiliki istri dan anak, ibu tak pernah mau membacakanku dongeng lagi. Jadi istrikulah yang kemudian secara rutin, setelah kami selesai bercinta setiap malam, membacakanku dongeng. Tapi istriku tak menyukai dongeng tentang peri dan para kurcaci, dia lebih menyukai dongeng tentang Alien.

“Anda sudah sadar?”

Aku perlahan membuka mata, dan melihat ke arah seseorang yang sedang mengajakku bicara—berpakaian putih, dengan stetoskop menggantung di jenjang lehernya. Dia memeriksa keadaanku, suhu tubuhku, dan tekanan darahku. “Ini dimana?” tanyaku keheranan, aku menebak tengah berada di salah satu ruangan rumah sakit.

“Tenang saja, anda sudah berada di bawah pengawasan kami. Istirahatlah yang cukup, nanti saya akan kembali memeriksa perkembangan anda.” kata dokter sambil meletakkan beberapa obat dan segelas air putih di atas meja. Kemudian dia melayangkan senyuman kepadaku ketika membuka pintu, sebelum kemudian dia berlalu.

Aku melihat ke arah meja di sampingku, berniat hendak minum obat pemberian dokter itu—padahal aku paling malas minum obat. Tetapi ada yang menarik perhatianku. Di sebelah ujung meja, nampak sebuah bingkai foto yang agak basah kokoh berdiri. Aku membawanya dan melihat secara seksama. Foto keluarga kecilku—aku, istriku, dan senyum manis yang disuguhkan anakku. Keluarga kecil yang bahagia. Seperti ada yang membisikan sesuatu, aku membalik bingkai foto ini dan menemukan semacam potongan koran yang sudah dilaminating—barangkali dari koran-koran usang yang tak bosan-bosannya memberitakan kesalahan orang lain. Ah, ternyata tentang berita tsunami yang terjadi beberapa tahun yang lalu.

Sayup-sayup, aku tak sengaja mendengar percakapan di luar sana. “Beruntung anda berhasil menyelamatkan nyawa pasien kami. Sebelumnya, dia tak pernah melakukan hal senekat ini.”

Seseorang berpakaian polisi terlihat dari celah pintu, kulihat tengah tersenyum sambil berkata, “Tak apa-apa, ini sudah tugas kami.” Aku melihat wajahnya, sepertinya mirip dengan pemilik perahu yang kemarin membawaku ke tengah laut.

Tiba-tiba aku merasa sekujur tubuhku bereaksi terhadap sesuatu yang entah. Aku membuka kancing baju, dan terlihat bercak-bercak berwarna ungu semakin menyebar dan membesar. Mula-mula hanya sedikit, melewati dada, lengan, paha, sampai akhirnya seluruh tubuhku berubah menjadi ungu. Mataku serasa membesar, dan telingaku mengecil. Ruas-ruas kuku nampak memanjang, seolah-olah aku menjelma menjadi sesuatu yang lain. Aku ingin menjerit memanggil-manggil siapapun yang ada di sekitarku, tapi tak bisa. Seolah-olah aku mengeluarkan suara jenis lain dalam frekuensi yang berbeda sehingga tidak sampai menimbulkan suara.

Sebentar, barangkali benar. Aku keturunan Alien, ujarku sambil menitikan air mata. Tanganku yang telah berubah menyeramkan masih memegang erat bingkai foto keluarga kecilku yang pernah bahagia.


(2014)

Posting Komentar