Di setiap kurikulum yang disusun oleh pemerintah, di dalamnya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berbeda-beda. Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik (scientific approach) sebagai pendekatan pembelajaran yang digunakannya. Pendekatan ini merujuk pada metode ilmiah yang kerap digunakan peneliti dalam pekerjaannya. Karena pada dasarnya, pembelajaran yang sesungghnya merupakan sebuah proses ilmiah yang dilakukan oleh siswa dan guru.
Dalam hal ini guru menyajikan perangkat pembelajaran berupa media pembelajaran. dalam kegitan mengamati, guru menyajikan video, gambar, miniature, tayangan, atau obyek asli. Siswa bisa diajak untuk bereksplorasi mengenai obyek yang akan dipelajarai. Mengamati dapat berupa melihat suatu kejadian/peristiwa, membaca buku/karya ilmiah lainnya, dan mendengarkan suatu cerita/informasi.
Pada langkah ini suasana pembelajaran yang berhasil adalah terjadinya komunikasi aktif diskusi materi pelajaran. Kemampuan bertanya yang baik merupakan indikasi bahwa kemampuan verbal seseorang telah berkembang dengan baik. Selain untuk membangkitkan rasa ingin tahu, bertanya berfungsi untuk melatih peserta didik berargumentasi sesuai dengan kapasitasnya, belajar menerima perbedaan pendapat, merangsang peserta didik untuk berpikir ulang, dan sekaligus belajar bagaimana sopan santun dalam bertanya atau merespon pertanyaan dengan baik.
Kegiatan belajarnya adalah (1) mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi dan (2) pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan.
Pada tahapan ini siswa mempresentasikan kemampuan mereka mengenai apa yang telah dipelajari sementara siswa lain menanggapi. Tanggapan siswa lain bisa berupa pertanyaan, sanggahan atau dukungan tentang materi presentasi. Guru berfungsi sebgai fasilitator tentang kegiatan ini. Dalam kegiatan ini semua siswa secara proporsional akan mendapatkan kewajiban dan hak yang sama. Siswa akan terlatih untuk menjadi narasumber, menjadi orang yang akan mempertahankan gagasannya secara ilmiah dan orang yang bisa mandiri serta menjadi orang yang bisa dipercaya.
Sumber: www.kompasiana.com, suhermanmaman.wordpress.com, minsukamulya.wordpress.com, k13-funlearning-scientificapproach.blogspot.co.id, www.actforlibraries.org, courses.lumenlearning.com, www.softschools.com, www.ldonline.org, www.thwink.org
Sebuah proses penelitian ilmiah menetapkan parameter yang membantu memastikan hasil yang objektif dan akurat, serta menjungjung tinggi sikap kritis, skeptis, dan logis. Pada prosesnya, kebenaran-kebenaran yang ada diuji secara ketat dan berkesinambungan.
![]() |
| Photo by National Cancer Institute on Unsplash |
Pendekatan ilmiah memiliki lima langkah yang harus dilakukan. Kadang-kadang, langkah-langkah tersebut digabungkan atau ditambahkan, tetapi kelimanya adalah struktur dasar sebagai upaya untuk menjawab pertanyaan secara obyektif. Langkah pembelajaran pada scientific approach mencakup tiga aspek yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara soft skills dan hard skills.
Langkah-langkah Pembelajaran pada Pendekatan Saintifik
Langkah-langkah pembelajaran pada scientific approach menekankan pada penggunaan pendekatan ilmiah, yang terdiri dari kegiatan mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring. Hampir mirip dengan langkah pada metode ilmiah yang terdiri dari; (1) mengamati fenomena yang tidak memiliki penjelasan yang baik atau mengajukan pertanyaan, (2) merumuskan hipotesis yang menjelaskan fenomena tersebut atau melakukan riset terhadapnya, (3) merancang percobaan untuk menguji hipotesis, (4) melakukan percobaan, dan (5) menerima, menolak, atau memodifikasi hipotesis sebagai hasil dari analisis dan kesimpulan yang dibuat.Observing (Mengamati)
Siswa mengamati obyek yang akan dipelajari. Obyek itu tidak harus mewah atau mahal, sederhana asalkan mudah digunakan dan menarik. Kegiatan belajarnya adalah membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat). Hal ini untuk menjawab pertanyaan berdasarkan pengamatan - siapa, apa, kapan, di mana, bagaimana. Kompetensi yang dikembangkan adalah melatih kesungguhan, ketelitian, mencari informasi.Dalam hal ini guru menyajikan perangkat pembelajaran berupa media pembelajaran. dalam kegitan mengamati, guru menyajikan video, gambar, miniature, tayangan, atau obyek asli. Siswa bisa diajak untuk bereksplorasi mengenai obyek yang akan dipelajarai. Mengamati dapat berupa melihat suatu kejadian/peristiwa, membaca buku/karya ilmiah lainnya, dan mendengarkan suatu cerita/informasi.
Questioning (Menanya)
Siswa mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati. Kompetensi yang dikembangkan adalah mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.. Pada kegiatan pembelajaran ini siswa melakukan pembelajaran bertanya. Siswa yang pandai dan cerdas akan bertanya atau menjawab pertanyaan baik dari guru maupun dari teman.Pada langkah ini suasana pembelajaran yang berhasil adalah terjadinya komunikasi aktif diskusi materi pelajaran. Kemampuan bertanya yang baik merupakan indikasi bahwa kemampuan verbal seseorang telah berkembang dengan baik. Selain untuk membangkitkan rasa ingin tahu, bertanya berfungsi untuk melatih peserta didik berargumentasi sesuai dengan kapasitasnya, belajar menerima perbedaan pendapat, merangsang peserta didik untuk berpikir ulang, dan sekaligus belajar bagaimana sopan santun dalam bertanya atau merespon pertanyaan dengan baik.
Associating (Menalar)
Menalar ini merujuk pada kemampuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa yang kemudian mamasukkannya menjadi penggalan memori. Pengalaman-pengalaman yang tersimpan di memori otak itu berelasi atau berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses inilah yang dikenal sebagai asosiasi atau menalar.Kegiatan belajarnya adalah (1) mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi dan (2) pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan.
Peserta didik dilatih untuk menghubungkan antara satu obyek/kejadian dengan objek/kejadian lain, sehingga hubungan antara beberapa variabel menjadi jelas, baik bersifat induktif atau deduktif. Kompetensi yang dikembangkan adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan.
Experimenting (Mencoba)
Kegiatan yang dilakukan adalah mengumpulkan informasi/eksperimen. Kegiatan belajarnya adalah melakukan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek/kejadian/ aktivitas, wawancara dengan nara sumber. Kompetensi yang dikembangkan adalah mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.Pada langkah pembelajaran ini, setiap siswa dituntut untuk mencoba mempraktekkan apa yang dipelajari. Mencari data untuk mendukung apakah informasi dapat diterima atau ditolak. Hasil belajar akan terekam kuat dalam memori peserta didik, apabila mereka diberi kesempatan untuk melakukan, mencoba, atau mengalami. Hal ini tentu sangat berbeda dengan hasil belajar karena sekedar mendengarkan atau diberitahu oleh orang lain.
Perbuatan mencoba itu dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan eksperimen. Hal ini terkait dengan hipotesis yang sudah disusun, karena untuk menguji hipotesis dilakukan dengan eksperimen dan observasi. Percobaan diulang beberapa kali untuk memastikan hasilnya dapat dipercaya dan untuk memperhitungkan kesalahan-kesalahan yang ada.
Perbuatan mencoba itu dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan eksperimen. Hal ini terkait dengan hipotesis yang sudah disusun, karena untuk menguji hipotesis dilakukan dengan eksperimen dan observasi. Percobaan diulang beberapa kali untuk memastikan hasilnya dapat dipercaya dan untuk memperhitungkan kesalahan-kesalahan yang ada.
Networking (Membentuk Jaringan) atau Mengkomunikasikan
Networking adalah kegiatan siswa untuk membentuk jejaring pada kelas. Semetara dalam bentuk sederhana, mengkomunikasikan berarti mempresentasikan atau menunjukkan hasil pekerjaannya kepada publik, secara lisan atau tulisan, atau bentuk karya lain sehingga mendapat respon yang lebih luas. Dalam ruang terbatas, peserta didik cukup menyajikan kesimpulan hasil pekerjaannya di hadapan teman-temannya di dalam kelas.Kegiatan belajarnya adalah menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya. Kompetensi yang dikembangkan adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.
Pada tahapan ini siswa mempresentasikan kemampuan mereka mengenai apa yang telah dipelajari sementara siswa lain menanggapi. Tanggapan siswa lain bisa berupa pertanyaan, sanggahan atau dukungan tentang materi presentasi. Guru berfungsi sebgai fasilitator tentang kegiatan ini. Dalam kegiatan ini semua siswa secara proporsional akan mendapatkan kewajiban dan hak yang sama. Siswa akan terlatih untuk menjadi narasumber, menjadi orang yang akan mempertahankan gagasannya secara ilmiah dan orang yang bisa mandiri serta menjadi orang yang bisa dipercaya.
Para siswa melakukan kegiatan networking ini harus dengan perasaan riang dan gembira tanpa ada rasa takut dan tekanan dari siapapun. Guru akan melakukan penilaian otentik dalam proses pembelajaran ini dan penilaian hasil pembelajaran. Siswa yang aktif dan berani mengemukakan gagasan/pendapatnya secara ilmiah tentu akan mendapatkan nilai yang lebih baik. Siswa yang masih mempunyai rasa takut dan kurang percaya diri akan terlatih sehingga menjadi pribadi yang mandiri., dan pribadi yang bisa dipercaya. Semua kegiatan pembelajan akan kembali kepada pencapaian ranah pembelajaran yaitu ranah sikap, ranah kognitif dan ranah ketrampilan. Mempresentasikan, mengkomunikasikan, atau menyimpulkan data yang telah dieksperimen.
Sumber: www.kompasiana.com, suhermanmaman.wordpress.com, minsukamulya.wordpress.com, k13-funlearning-scientificapproach.blogspot.co.id, www.actforlibraries.org, courses.lumenlearning.com, www.softschools.com, www.ldonline.org, www.thwink.org



Posting Komentar