Wow, Ini 10 Fakta Mengejutkan Tentang Sekolah di Korea!

Sebagai orang asing yang mengajar SD Negeri di Korea, seorang travel blogger asal Amerika Serikat menceritakan kisahnya seperti dilansir di laman webnya tentang bagaimana sebenarnya keadaan pendidikan di Korea. Apakah seindah film-film dramanya?

Dalam bulan pertamanya mengajar, inilah 10 fakta mengejutkan yang dia pelajari tentang sekolah di Korea.

Siswa SMA di Korea Memiliki Waktu Sekolah 16 Jam

Seberapa kuat perasaan orang Korea terhadap pendidikan? Ini akan mengejutkanmu.

Photo by Stephanie Hau on Unsplash
 
Rata-rata siswa SMA umumnya memiliki kelas dimulai dari jam 8 pagi sampai jam 9:30 malam atau 10 malam. Untuk rata-rata siswa SMA Korea, tujuannya adalah masuk perguruan tinggi dan tentunya dengan persaingan tinggi

Akibatnya, banyak yang mengikuti hagwon (program belajar sepulang sekolah) untuk mempercepat pembelajaran mereka. Hagwon dikelola oleh swasta, yang membantu memperkuat pendidikan tinggi dan kemampuan bahasa Inggris, sehingga sering ada permintaan yang tinggi untuk mereka. Seringkali, mereka menjalankan bisnis dengan ketat, menjalankan kelas demi kelas, mempersiapkan siswa untuk ujian dan keterampilan yang diajarkan di dalam buku teks. Bagi siswa, ini mungkin satu-satunya outlet sosial dan cara mereka untuk bertemu teman-teman lain.

Karena pendidikan menjadi seperti olahraga ekstrakurikuler utama, rata-rata remaja tidak sampai di rumah sampai tengah malam. Makanya, makan malam sebenarnya disajikan di sekolah.

Sekolah menengah sedikit lebih lunak, karena kelas akan berakhir sekitar jam 4 sore, dengan kemungkinan hagwon sesudahnya.

Sekolah Pada Hari Sabtu

Jika kamu berpikir siswa Korea memiliki akhir pekan untuk rekreasi, pikirkan lagi. Hari-hari sekolah resmi dimulai pada hari Senin sampai Sabtu, yang hal ini tidak membuat siswa atau guru bahagia.

Sejak tahun 2010, jadwal sekolah telah berubah dan dilonggarkan. Sekarang sistem sekolah negeri di Korea menerapkan dua kali hari sabtu di setiap bulannya diliburkan. Dan menurut seorang relawan dari Korean Culture and Information Service (KOCIS), sejak 2012 sistem sekolah umum di Korea telah meliburkan siswanya setiap hari Sabtu.

Oh, Guru yang Terhormat

Di Korea, ada pepatah yang mengatakan, "Teachers are as high as God."

Kamu tidak akan menebaknya dari skala gaji mereka, tapi guru memegang tempat yang berharga dan dihormati di masyarakat. Korea menekankan pentingnya pendidikan kepada rakyatnya. Akibatnya, Korea memiliki penghormatan yang tinggi terhadap guru sebagai pilar utama sistem sekolah.

Usia pensiun tidak sampai 65 tahun. Senioritas berarti kenaikan gaji dan keseluruhan jam kerja, liburan dan tunjangan liburan dikatakan lebih baik daripada pekerjaan kantor reguler.

Sisi Bisnis Pengajaran

Pembelajaran di Korea sudah biasa memakai teknologi semacam PowerPoint dan presentasi. Memang ini terdengar seperti pekerjaan kantor, tapi hampir semua sekolah belajar dengan sistem seperti ini.

Cara berpakaian seorang guru dianjurkan untuk memakai setelan pakaian kasual seperti pekerjaan kantoran, digunakan mulai dari sekolah dasar. Korea penuh dengan budaya yang modis dan modern. Setelan yang bagus dengan jaket atau blazer adalah awal yang baik karena seseorang harus tampak terhormat saat mengajar.

Ruang kelas dilengkapi dengan komputer, terhubung dengan sistem proyektor overhead atau layar datar LCD. Memang semua guru diharuskan untuk mengerti cara penggunaan teknologi tersebut.

Siklus Rotasi Guru Lima Tahunan

Guru dirotasi dari satu sekolah ke sekolah yang lain setiap lima tahun sekali. Tidak masalah jika kamu mencintai sekolahmu atau tidak.

Setelah setiap lima tahun, para guru, wakil kepala sekolah dan kepala sekolah menjalani sistem undian dan harus mengganti sekolahnya. Jadi, setiap tahun, sebuah sekolah bisa mendapatkan staf baru.

Sistem ini lahir untuk memberi setiap guru kesempatan yang sama untuk bekerja di sekolah yang baik dan buruk. Semua staf pengajar tunduk pada sistem penilaian dan menerima poin untuk ujian yang mereka ambil, lokakarya yang mereka hadiri serta menerima poin insentif untuk seberapa baik peringkat sekolah mereka di kabupaten tersebut. Juga, ada beberapa sekolah yang dikenal sebagai sekolah model di mana mereka memiliki siswa berprestasi dan guru Korea lainnya akan melakukan perjalanan ke sana untuk melihat bagaimana mereka menjalankan kelas mereka dan mengatur program mereka agar siswa mereka dapat fokus dan belajar. Belajar adalah persoalan yang serius!

Sekolah Model adalah sekolah yang diinginkan oleh semua guru. Mereka mengembangkan keunggulan dalam kurikulum mereka dan memiliki siswa yang berkualitas tinggi.

Bermain Peran Seperti Hollywood

Beberapa sekolah memiliki teknologi layar biru dan ruangan khusus untuk bermain peran bagi anak-anak. Satu contoh kelas yang ditampilkan adalah pemandangan pasar. Mereka memiliki lorong, rak dan ban berjalan yang nyata.

Ada juga sekolah yang memiliki ruang bermain peran dengan tema lalu lintas lengkap dengan topi polisi dan jaket serta perlengkapan lalu lintas lainnya. Atau juga bermain peran dengan latar ruang rumah sakit, dengan diagram mata, stetoskop, pengukuran tinggi dan timbangan berat, meja pemeriksaan, kursi roda dan lab lab dokter. Menarik, ya!

Hukuman Fisik Masih Ada

Sementara di AS, hukuman fisik terhadap anak-anak akan dituntut secara hukum, sistem pendidikan dan orang tua di Korea kurang mempermasalahkan kedisiplinan yang diterapkan secara fisik di kelas-kelas di sekolah.

Hukuman fisik dulu diperbolehkan, dan sekarang, agak ditolerir secara terselubung. Pada tahun 2010, sistem sekolah sudah menindak penyalahgunaan ini, tapi masih terjadi kasus-kasus di beberapa sekolah. Salah satu sekolah bahkan memiliki tongkat disiplin di sekolah mereka, yang oleh para guru Korea disebut "tongkat ajaib". Biasanya yang bertugas mendisiplinkan siswa dengan cara-cara seperti ini adalah guru laki-laki.

Memang pada zaman dulu, Korea menerapkan sistem kedisiplinan secara fisik. Salah satunya dapat dilihat di bawah ini, yaitu metode hands-off yang masih digunakan di beberapa ruang kelas, sebagai cara untuk membuat siswa merefleksikan perilaku mereka yang salah, dengan menantang daya tahan mental mereka.

Hukuman yang umum (meski tidak bersifat jasmani) bagi orang muda adalah tangan keluar atau terangkat di udara.

Beberapa Siswa Korea Memiliki Nama Berbahasa Inggris

Orang Korea yang menggunakan nama Inggris sering kali sangat bangga dengan itu. Alice, Lola atau Angelina. Beberapa memang lucu, karena itu seperti nama-nama yang digunakan ketika sedang bermain peran. Tapi pernahkah bertanya-tanya di mana orang Korea mendapatkan nama mereka?

Nah, kamu bisa menyalahkan pada guru bahasa asing terutama guru bahasa Inggris yang memberikannya kepada mereka.

Beberapa program bahasa Inggris di sekolah dan hagwon menyarankan siswa menggunakan nama bahasa Inggris. Bahkan seorang dosen memberi tahu bahwa mungkin ada setidaknya 25 sampai 100 nama bahasa Inggris untuk dipilih atau diberikan kepada siswa.

Kemudian, beberapa guru membiarkan murid mereka memilih nama mereka. Jadi jika kamu memiliki seorang siswa yang mendatangimu dan memperkenalkan dirinya sebagai Robocop, kamu mungkin bisa menebak apa yang terjadi.

Siswa Bertanggung Jawab atas Kebersihan Sekolah Mereka

Satu hal yang saya kagumi tentang nilai-nilai di Korea adalah bahwa sistem sekolah Korea mengajarkan siswa untuk bertanggung jawab atas perawatan sekolah mereka. Sementara petugas kebersihan yang dipekerjakan cenderung melakukan tugas-tugas utama yang lebih penting. Pekerjaan seperti membuang sampah di tempatnya wajib dilakukan oleh siswa setiap pagi sebelum bel sekolah berdering!

Etika Sepatu di Ruang Kelas

Sesuai dengan tradisi di Asia, siswa-siswa di Korea diharuskan melepas sepatunya saat kamu memasuki rumah.

Budaya dan etika Korea memiliki tradisi yang sama dengan budaya Asia lainnya, karena mereka menganggap kakinya kotor; Jadi kotor itu sebenarnya, mereka pakai sandal rumah di rumah. Tapi etika ini juga diterapkan di kelas. Siswa dan staf sekolah harus melepas sepatu luar mereka dan menggantinya dengan sendal khusus untuk lingkungan sekolah saat memasuki gedung.

Sebagian fakta-fakta itu berlaku pula di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia, mungkin karena sama-sama berada di Asia jadi tradisi dan budayanya tidak terlalu berbeda. Yang jelas, kebudayaan yang baik perlu dilestarikan.

Sumber: grrrltraveler.com

Posting Komentar