Kemarin adalah hari besar bagi Indonesia, karena 74 tahun lalu pada hari yang sama Indonesia akhirnya merdeka. Tapi pernahkan terbayangkan bagaimana keadaan sekolah dasar zaman dahulu? Apakah sama dengan sekolah-sekolah yang ada sekarang?
Tidak seperti sekarang, pendidikan bisa dirasakan oleh segenap kalangan masyarakat, sesuai dengan cita-cita bangsa yang tercantum dalam pembukaan UUD 45. Zaman dahulu, sekitar abad ke-20, di Indonesia (atau zaman dahulu masih dikenal dengan nama Hindia Belanda) memang sudah berdiri banyak sekolah.
Tidak seperti sekarang, pendidikan bisa dirasakan oleh segenap kalangan masyarakat, sesuai dengan cita-cita bangsa yang tercantum dalam pembukaan UUD 45. Zaman dahulu, sekitar abad ke-20, di Indonesia (atau zaman dahulu masih dikenal dengan nama Hindia Belanda) memang sudah berdiri banyak sekolah.
![]() |
| Photo by Capturing the human heart. on Unsplash |
Namun, sekolah-sekolah itu hanya bisa diakses oleh kalangan elit saja. Memang diskriminatif dan eksklusif, karena pendidikan kolonial itu tidak bertujuan untuk memajukan rakyat Indonesia, tetapi sebagai bekal bagi rakyat untuk bisa masuk ke ranah industri dan adminisrasi kolonial.
Sekolah Dasar Masa Penjajahan
Di zaman penjajahan Belanda, jenjang yang setara dengan SD adalah Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang didirikan sejak 1914 dan Europeesche Lagere School (ELS) yang didirikan sejak 1817. Sekolah dasar di masa penjajahan Belanda ini termasuk salah satu bentuk diskriminasi awal dalam dunia pendidikan.
Hollandsche Inlandsche School (HIS) dikhususkan bagi anak Indonesia yang orang tuanya mempunyai tingkat ekonomi yang cukup atau berpenghasilan 100 gulden, setara Rp.758.585,84 masa sekarang. Mereka bisa masuk saat berumur enam tahun. Bila kini waktu mengenyam pendidikan di SD hanya sampai enam tahun, di HIS dan ELS, murid harus menempuhnya selama tujuh tahun.
Hollandsche Inlandsche School (HIS) dan Europesche Lager School (ELS) hanya diperuntukan khusus bagi warga Belanda dan anak pembesar pribumi. Perbedaanya sangat mencolok. Jika seorang anak bersekolah di HIS, menemukan teman sesama bangsa Indonesia sangat mudah. Tapi di ELS, hampir sulit hal itu terjadi. Selain diisi oleh anak-anak orang Belanda, sangat jarang anak Indonesia yang bisa masuk ke sana.
Tan Malaka dan Perkembangan Sekolah
Nama asli Tan Malaka adalah Sutan Ibrahim, sedangkan Tan Malaka adalah nama semi-bangsawan yang ia dapatkan dari garis turunan ibu. Nama lengkapnya adalah Sutan Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Pada tahun 1921, Syarikat Islam (SI) cabang Semarang mendirikan sekolah alternatif bagi rakyat, karena sekolah-sekolah yang ada pada saat itu sangat diskriminatif terhadap rakyat Indonesia. Tan Malaka, yang baru bergabung dengan SI cabang Semarang kala itu, menjadi pengajar utama di sekolah ini.
SI Semarang sangat memperhatikan keadaan pendidikan sejak lama. Misalnya, sejak tahun 1916 SI Semarang mengusulkan agar pengajaran rakyat Hindia diatur dengan cara standenschool atau sekolah negeri. Juga pada tahun 1917, usulan lain yang ditawarkan adalah agar semua rakyat tanpa pengecualian bisa diterima di HIS. Sayangnya, tidak ada satupun usulan-usulan ini ditanggapi oleh pemerintah kolonial waktu itu.
Karena hal tersebut, muncul ide untuk membuat sekolah sendiri. Dan ide ini terwujud salah satunya berkat andil Tan Malaka, beliau sebagai alumnus Kweekschool (Sekolah Guru) di Negeri Belanda sudah tidak asing lagi dengan hal ihwal pendidikan. Perkembangan sekolah-sekolah ini pun sangat pesat. Rakyat berbondong-bondong mengirimkan anak-anaknya untuk bersekolah di sana. Tidak hanya di Semarang, tetapi juga di tempat-tempat lain pun mulai dibangun sekolah-sekolah. Tujuannya hanya satu, mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sayangnya, Tan Malaka tidak bisa terus mendampingi perkembangan sekolah-sekolah tersebut. Pada bulan Maret 1922, setelah rapat umum bersama kaum buruh di Semarang, Tan Malaka ditangkap di Bandung. Penangkapan itu berlangsung tepat setelah ia usai mengajar di sekolah SI Bandung. Banyak yang memprotes penangkapan ini, tetapi Tan Malaka tetap diasingkan oleh pihak kolonial yang tidak suka dengan sepak terjangnya.
Namun, penangkapan Tan Malaka terbukti tidak berhasil menahan laju gerakan rakyat yang memperjuangkan kesetaraan dan hak pendidikan di tanah Hindia. Semakin banyak sekolah-sekolah yang didirikan, bahkan menginspirasi seorang tokoh pergerakan seperti Ki Hajar Dewantara yang mendirikan sekolah rakyat bernama Taman Siswa. Kemudian beberapa lembaga Islam, seperti Muhammadiyah, mendirikan lembaga pendidikan sendiri. Dengan demikian, sekolah-sekolah mandiri yang didorong oleh bangsa jajahan sendiri mulai berkembang pesat saat itu.
Pasca perpecahan di tubuh Syarikat Islam, maka sekolah-sekolah yang berbasis Syarikat Islam pun mengalami perubahan. Sekolah-sekolah tersebut terbagi menjadi dua dengan nama yang berbeda, yaitu Sarekat Rakyat dan Sekolah Rakyat.
Dalam perkembangannya, pihak kolonial melakukan banyak hal untuk menjegal sekolah-sekolah ini. Tetapi semangat juang rakyat Indonesia bisa mengatasi hal-hal tersebut. Seyogyanya, semangat juang ini jangan pernah hilang dari dalam diri rakyat Indonesia.
Sumber: boombastis.com, okezone.com, wikipedia.com



Posting Komentar