Ini Lho 8 Alasan Sistem Pendidikan Finlandia Lebih Baik Dari Indonesia!

Finlandia mengulang kesuksesannya di bidang pendidikan nasional seperti yang dilaporkan di sini, menunjukkan setidaknya ada beberapa hal yang bisa Indonesia pelajari darinya.

Salah satunya, Negara Nordik kecil ini sangat mementingkan pendidikan awal. Sebelum anak-anak Finlandia mempelajari berbagai hal di sekolah, mereka belajar terlebih dulu bagaimana menjadi anak-anak. Seperti cara bermain dengan satu sama lain, bagaimana memperbaiki luka emosional.

Tetapi bahkan setelah anak-anak itu tumbuh, Negara Finlandia membuat upaya bersama untuk menempatkan anak-anaknya pada jalur kesuksesan.

Photo by NeONBRAND on Unsplash

Berikut adalah beberapa cara terbesar Finlandia menang dalam pendidikan global.

Kompetisi Tidak Sepenting Kerjasama

Finlandia tahu bahwa persaingan tidak akan berdampak sebaik bagaimana kerjasama berdampak di antara sekolah-sekolah yang ada.

Salah satu alasan untuk itu adalah Finlandia tidak memiliki sekolah swasta. Setiap institusi akademik di negeri ini didanai melalui uang rakyat. Guru dilatih untuk mengeluarkan tes hasil buatan mereka sendiri bukan tes standar dari pemerintah.

“Tidak ada kata untuk akuntabilitas dalam bahasa Finlandia,” pakar pendidikan Pasi Sahlberg pernah mengatakan kepada peserta di Teachers College of Columbia University. Guru dipercaya untuk melakukannya dengan baik tanpa motivasi kompetisi.

Mengajar Adalah Salah Satu Profesi yang Paling Dihormati

Guru tidak digaji murah di Finlandia seperti mereka di Indonesia. Bahkan, guru dihargai tinggi sejak Finlandia menempatkan banyak saham dalam masa kanak-kanak sebagai landasan dan bagian dari program pengembangan seumur hidup.

Photo by Tra Nguyen on Unsplash

Untuk menjadi seorang guru di Finlandia, calon guru harus memiliki setidaknya gelar master (S2). Guru siswa sering mengajar di sekolah dasar afiliasi yang berdampingan universitas. Hasilnya, guru dapat diandalkan untuk melakukan penelitian pedagogis terbaik tentang pendidikan yang ada di luar sana.

Finlandia Mendengarkan Penelitian

Di Indonesia, studi penelitian tentang apa yang berhasil diterapkan di kelas dan apa yang tidak seringkali hasilnya tidak pasti dan samar-samar. Bahkan bisa saja, orang tua berpendapat kebijakan tertentu tidak tepat untuk anak-anak mereka.

Di Finlandia, penelitian datang tanpa bagasi politik seperti pemerintah membuat keputusan kebijakan pendidikan yang didasarkan hampir semata-mata pada efektivitas. Jika data menunjukkan perbaikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di sana akan mencobanya.

Finlandia Tidak Takut Untuk Bereksperimen

Salah satu manfaat besar dari mendengarkan penelitian ini adalah Anda tidak terikat kekuatan-kekuatan luar, seperti uang dan pengaruh politik. Guru Finlandia didorong untuk membuat laboratorium mini sendiri untuk hal yang berkaitan dengan gaya mengajar, menjaga apa yang berhasil dan memperbaiki apa yang tidak.

Ini pelajaran bagi Indonesia, sebuah pola pikir eksperimental di atas dapat menyebabkan guru untuk berpikir outside the box.

Waktu Bermain Adalah Sakral

Dibandingkan dengan Indonesia, di mana waktu bermain bebas telah berkurang sejak taman kanak-kanak, hukum Finlandia mengharuskan para guru untuk memberikan siswa 15 menit bermain untuk setiap 45 menit selama pembelajaran.

Kebijakan ini berasal dari kepercayaan pada buku cerita Finlandia bahwa anak-anak harus tetap menjadi anak-anak untuk selama mungkin. Ini bukan tugas mereka untuk tumbuh dengan cepat dan menjadi penghafal dan pemikir atau dewasa sebelum waktunya.

Hasilnya berbicara sendiri. Penelitian demi penelitian telah menemukan bahwa siswa yang diberikan setidaknya satu istirahat setiap hari selama 15 menit atau lebih berperilaku baik di sekolah dan mengerjakan tugas lebih baik.

Anak-anak Memiliki Sangat Sedikit Pekerjaan Rumah

Untuk semua hal yang sekolah Finlandia tawarkan kepada anak-anak, yang tampaknya kurang adalah pekerjaan rumah. Banyak anak-anak hanya menerima sejumlah kecil PR setiap malam.

Filosofi ini berasal dari tingkat saling kepercayaan bersama oleh sekolah, guru, dan orang tua.

Photo by Shubham Sharan on Unsplash

Orangtua menganggap guru telah mencukupi sebagian besar kebutuhan pendidikan dari apa yang mereka butuhkan di sekolah, dan sekolah menganggap hal yang sama. Bekerja secara ekstra sering dianggap tidak perlu oleh semua orang yang terlibat.

Waktu yang dihabiskan di rumah dihabiskan untuk keluarga, di mana di sana anak-anak diajarkan oleh orangtua mereka tentang kehidupan.

PAUD (Prasekolah) Memiliki Kualitas Tinggi dan Universal

Hanya beberapa dari anak-anak Indonesia mendapatkan kesempatan untuk mengekspresikan imajinasi mereka, bermain kotor-kotoran, dan bermain game ketika belajar di PAUD. Masalahnya adalah, orang tua sering mengekspektasikan dengan membayar untuk pendidikan di awal usia anak yang seharusnya bukan untuk belajar, misalnya dengan mengajarkan baca tulis. Padahal usia anak masih usia bermain.

Di Finlandia, orang tua dijamin segalanya. Preschool dan tempat penitipan anak yang baik sampai usia 7 tahun, dan lebih dari 97% dari 3 sampai 6 tahun mengambil keuntungan dari hal ini dengan membiarkan anak berkembang sesuai dengan usia perkembangannya.

Lebih dari itu, meskipun keberadaan TK atau PAUD memang baik, mereka menyelaraskan kurikulumnya satu sama lain dan mempersiapkan anak-anak dengan perlakuan yang sama. Pada saat anak-anak mulai mendapatkan pendidikan yang sebenarnya, orang tua dapat yakin pelajaran yang sama akan diajarkan juga di tempat lain di seluruh kota.

Biaya Kuliah Gratis

Tidak seperti mahasiswa Indonesia, yang menghabiskan puluhan hingga ratusan juta untuk biaya pendidikan, Finlandia memastikan mahasiswanya gratis tanpa biaya selama menempuh perkuliahan di perguruan tinggi. Untuk sarjana, magister, dan program doktor sama saja, pendidikan mereka disubsidi oleh kombinasi dari pembayar pajak dan pemerintah federal.

“Ini membutuhkan beban besar dari pikiran orang muda ketika mereka tidak perlu bertanya-tanya apakah mereka mampu membayar untuk pendidikan mereka,” kata Pasi Sahlberg, Direktur Jenderal di Center for International Mobility.

Sahlberg mengatakan sistem ini berasal dari keyakinan bahwa, “Pendidikan, termasuk pendidikan tinggi, adalah hak asasi manusia dan juga penyetaraan besar dalam masyarakat kita.”

Sumber: www.businessinsider.sg

Posting Komentar