Tahu, kan, kalau katak suka bernyanyi di saat hujan? Padahal yang sebenarnya terjadi adalah para katak itu sedang menangis. Cerita rakyat kali ini berkisah tentang katak hijau yang senang memberontak. Cerita ini berasal dari cerita rakyat Korea yang menjelaskan mengapa katak menangis saat hujan–sebuah cerita yang populer di Korea hingga hari ini. Pelajaran dari cerita ini adalah agar mengajari anak-anak untuk menghormati dan mematuhi orang tua mereka sebelum terlambat.
![]() |
| Photo by David Clode on Unsplash |
Dahulu kala di sebuah kolam kecil, Franky, katak hijau tinggal bersama ibunya. Dia adalah katak kecil yang bahagia dan ibunya sangat mencintainya. Tapi dia adalah pemberontak hijau kecil yang tidak pernah patuh pada orang tuanya.
Suatu pagi ibunya berkata, "Tolong tangkap beberapa lalat untuk makan malam hari ini!" Tapi dia malah pergi meninggalkan rumah untuk bermain di sungai dengan Todd, si penyu.
"Sayang, maukah kamu pergi ke pasar untukku?" ibunya bertanya. "Aku butuh tepung teratai untuk membuat biskuit."
"Tidak!" dia menolak permintaan ibunya, dan memilih pergi ke tepi sungai, berguling di lumpur basah dan menutupi tubuh kecilnya yang hijau dengan lumpur hitam yang lengket.
Pada suatu hari yang panas di bulan Juni, saat Franky mengasuh kecebong baru keluarga katak, dia membawa anak-anak kecil itu ke tepi sungai untuk bermain, meskipun ibunya telah memintanya untuk tetap tinggal bersama mereka di kolam saat dia pergi.
Dan begitulah, berkali-kali Franky tidak pernah menuruti permintaan ibunya. Tentu saja, ibu Franky menjadi sangat khawatir dengan perilakunya. Tetapi tidak peduli seberapa keras dia mencoba untuk mengajarinya berperilaku baik, itu tidak berhasil.
Seiring berlalunya waktu, Franky tumbuh menjadi kodok muda yang tampan, kuat, dan muda, sementara ibunya semakin tua dan lemah. Sayangnya, sikap ketidaktaatannya masih sama.
Akhirnya, ibunya menjadi sangat sakit dan memanggilnya ke sisinya untuk membuat satu permintaan terakhir. “Tolong kubur tubuhku di tepi sungai saat aku mati,” pintanya. Dia sengaja meminta Franky untuk melakukannya karena dia yakin bahwa dia akan menolak untuk mengikuti perintahnya dan melakukan hal yang sebaliknya. Harapan Ibu Franky yaitu bisa disemayamkan di sisi cerah di dataran tinggi pegunungan.
Franky sangat sedih saat ibunya akhirnya meninggal. Dia sangat menyesal bahwa dia tidak pernah mematuhinya dan tidak mendengarkan nasihatnya selama dia masih hidup.
![]() |
| Photo by Anna Atkins on Unsplash |
Jadi, untuk kali ini, dia memutuskan untuk mengabulkan keinginannya. Dia menguburkannya di tepi sungai! Saat hujan, dia terus-menerus khawatir air akan naik dan sungai meluap.
Sayang sekali, suatu hari di musim panas selama musim hujan, hujan lebat berlangsung selama beberapa hari dan menyapu makam ibunya. Franky yang malang duduk di tengah hujan lebat di tepi sungai, dan menangis terus menerus.
Dan itulah mengapa, hingga hari ini, katak menangis saat hujan. Dari cerita ini, kita bisa memetik pelajaran agar sebagai anak-anak haruslah mematuhi dan menghormati orang tua sebelum terlambat. Di Korea sana, orang tua akan menyebut anak-anak yang tidak patuh dengan sebutan "katak hijau".
Sumber: www.childrenswritersguild.com




Posting Komentar