Tahun 2020 adalah tahun yang sulit bagi semua masyarakat dunia. Pada tahun ini, orang-orang dipaksa untuk melakukan hal-hal di luar kebiasaannya. Tahun dimana virus corona yang menyebalkan itu mulai menyebar secara cepat dan membabibuta. Penyebarannya bukan hanya antara hewan dan manusia, tapi antar manusia juga. Hal ini yang kemudian membuat panik dunia. Maka diputuskanlah peraturan yang mengharuskan sekolah-sekolah di seluruh dunia untuk menghentikan aktivitas sekolahnya dan menggantinya dengan kegiatan daring, atau belajar dari rumah menggunakan fasilitas online.
Setelah hampir satu tahun berlalu, jumlah pasien yang terkonfirmasi positif virus corona sudah melebihi angka satu juta! Februari ini pendidikan di Indonesia masih belum diperbolehkan dibuka seperti sedia kala. Program daring masih menjadi andalan pengganti pembelajaran tatap muka yang sudah dilaksanakan bertahun-tahun lamanya. Mari kita review kembali, selama setahun ini, bagaimana wajah pendidikan Indonesia: akankah bisa sama seperti dulu lagi?
Pendidikan di Masa Pandemi
Sekolah-sekolah yang ada di Indonesia ini mau tidak mau harus beradapatasi. Perubahan yang terjadi adalah tidak ada lagi aktifitas pembelajaran di ruang-ruang kelas sebagaimana lazim dilakukan oleh tenaga pendidik, guru maupun dosen. Langkah yang tepat untuk menekan penyebaran wabah virus Covid-19, namun tanpa persiapan yang memadai akibatnya banyak tenaga pendidik gagap menghadapi perubahan drastis ini. Para guru diharuskan menguasai berbagai teknologi online seperti Google Classroom, WhatsApp Group, dan sejenisnya dalam waktu yang sangat singkat.
![]() |
| Photo by Bonneval Sebastien on Unsplash |
Memang pada kenyataannya pembelajaran daring tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena banyak permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Seperti keterbatasan siswa dan orang tua dalam menggunakan dan mengakses teknologi serta media pembelajaran daring, lemahnya jaringan internet, penambahan biaya kuota, dan keluhan-keluhan orang tua dalam mendampingi dan mengawasi anak-anaknya di rumah.
Beberapa sekolah bahkan memilih untuk mengambil resiko dengan memilih proses pembelajaran secara luring dengan tetap menjaga protokol kesehatan secara ketat meski hanya sehari dalam seminggu ataupun dua pekan sekali untuk mengantisipasi mereka yang kesulitan belajar online. Tapi langkah ini tidak direkomendasikan, karena resiko penularannya sangat tinggi.
Guru di Masa Pandemi
Guru adalah aktor utama dalam dunia pendidikan yang menguasai berbagai macam kompetensi; kompetensi pedagogik, profesional,
kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.
Di masa pandemi ini, tentu guru harus tetap melaksanakan keempat kompetensi tersebut. Maka dari itu, guru dituntut untuk lebih siap beradaptasi dengan
segala kondisi.
Guru
dihadapkan dengan berbagai persoalan, misalnya sulit beradaptasi
dengan teknis pembelajaran daring, turunnya motivasi belajar siswa karena pembelajaran yang dilaksanakan berbeda dengan yang biasa dilakukan,
kurangnya kerjasama orang tua siswa sampai dengan membengkaknya biaya
kuota untuk pembelajaran online tersebut. Meski dalam himpitan persoalan yang dihadapi, guru dituntut harus
tetap profesional, demi terwujudnya cita-cita pendidikan di Indonesia.
Maka dari itu, guru haruslah dapat berfikir kreatif dan inovatif dalam memberikan pembelajaran secara daring, sehingga anak-anak tidak mudah jenuh dalam menerima pembelajaran. Komunikasi yang baik pun harus terus dibangun kepada siswa dan orang tuanya, sehingga pembelajaran yang disajikan dapat berjalan dengan baik.
Siswa di Masa Pandemi
Siswa dituntut untuk selalu mengikuti pembelajaran daring dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dalam pembelajaran tersebut secara tuntas. Siswa harus belajar secara virtual, di mana dialog interaktif antara guru dan anak tidak semudah jika pembelajaran dilakukan secara tatap muka. Tingkat pemahaman siswa pada materi yang diberikan tentu berbeda-beda, dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk bisa menyentuh setiap perbedaan kemampuan siswa ini.
Selain tingkat pemahaman yang berbeda-beda, fasilitas yang ada pun berbeda-beda. Ada yang memiliki handphone, ada pula yang tidak. Jaringan internetnya bagus, atau jaringan internetnya buruk. Ada ataupun tidak ada kuota internetnya, semua harus menjadi bahan pertimbangan seorang guru dalam mendidik siswanya selama masa pandemi ini.
Peran Orangtua
Orang tua yang sibuk bekerja dengan terpaksa harus mendampingi anak-anak mereka pada saat jam pembelajaran daring. Anak-anak yang biasanya di sekolah, sekarang harus standby di depan gadget masing-masing demi mengikuti pembelajaran daring. Untuk level SMP, SMA, hingga perguruan tinggi barangkali tidak terlalu mengkhawatirkan. Namun untuk level SD bahkan SMP, tidak sedikit orang tua siswa yang mengeluh akibat perubahan ini.
![]() |
| Photo by Bonneval Sebastien on Unsplash |
Ditambah lagi, orang tua juga harus menjadi guru dadakan bagi anak-anaknya. Tentu saja hal ini sangat berat jika orang tua dituntut untuk dapat menjelaskan apa yang dijelaskan oleh guru, dan membantu mengerjakan tugas pekerjaan rumah anak-anaknya. Selain itu, orang tua juga harus memberikan fasilitas seperti handphone, laptop, internet, kuota dan bahan-bahan untuk mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Sayangnya, beberapa keluarga yang tidak punya fasilitas tadi, merasa tertinggal dari keluarga lainnya. Jangankan untuk memberikan fasilitas pendidikan, untuk makan saja sulit. Dengan demikian, perlu adanya kerjasama antar berbagai aspek pendidikan agar pendidikan dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Peran Pemerintah
Peran pemerintah juga sangat penting dalam memberikan kualitas pendidikan kepada anak bangsa, karena pendidikan adalah kunci dari kenberhasilan sumber daya manusia suatu negara. Di tangan anak-anaklah, masa depan bangsa ini dipertaruhkan. Untungnya, pemerintah dengan berbagai kebijakannya sudah mengirimkan beberapa bantuannya. Misalnya pemberian kuota belajar bagi siswa-siswa sekolah dan memberikan dana lebih untuk kebutuhan pokok sehari-hari bagi keluarga yang kurang mampu dan keluarga yang terdampak akibat pandemi virus corona.
Dalam memberikan dana tersebut, sebaiknya pemerinah harus lebih selektif lagi. Dana-dana tersebut harus tepat sasaran dan efektif sampai kepada mereka yang benar-benar memerlukan. Sebab pendidikan merupakan ujung tombak keberhasilan suatu negara, dan akan menentukan kemana bangsa ini akan dibawa. Apakah menuju kejayaan dan kedigdayaan, atau menjadi bangsa pesakitan. Semoga pandemi ini segera berakhir, dan pendidikan dapat dilaksanakan tanpa perlu memberatkan berbagai pihak.
Sumber: djkn.kemenkeu.go.id, fai.almaata.ac.id, dikti.kemdikbud.go.id, www.kemenkopmk.go.id, mediaindonesia.com, kompas.com




Posting Komentar