Puisi Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu

Photo by Alex Iby on Unsplash

"Ajari aku mencintai angin."

Sedari dulu, telah kupendam perasaan ini, perasaan bahwa ternyata aku mencintaimu. Tak pernah punya cukup keberanian untukku mengutarakan. Hingga senja mulai tenggelam, perasaan ini tak pernah beranjak dari karam. Sebenarnya jarak kita cukup renggang, karena aku yang ingin kita seperti itu. Aku ingin menjauhimu, seperti isyarat yang tak pernah dimengerti daun pada angin yang menjadikannya gugur.

"Ajari aku mencintai purnama."

Dengan atau tanpamu, aku berusaha untuk sekuat tenaga bertahan. Entah dari riak telaga atau ombak samudera. Keadaan yang sederhana sebenarnya, tapi aku yang membuatnya rumit. Dengan derasnya deru masalah yang menimpaku, setidaknya aku telah belajar untuk tetap berdiri; di puncak karang ataupun di lengan hari. Aku ingin mandiri, seperti cahaya yang dipancarkan rembulan pada malam yang menjadikannya purnama.

"Ajari aku mencintai senja."

Aku tahu, aku adalah pecundang yang bisanya hanya bersembunyi di balik mentari. Aku tak pantas menjadi nama yang terukir di lingkar emas yang kemudian manis mendekap jemarimu dalam diam. Untuk itu, aku ingin berhenti mencintaimu, seperti warna yang dilukis senja pada lembayung yang hanya sesaat adanya.

"Ajari aku mencintai salju."

Sejak saat kuputuskan untuk membuang jauh rasa cintaku padamu, ternyata aku tak mampu lagi bahkan untuk sekadar berkata-kata. Suara seakan pergi, karenaku, karena hati yang terlalu mencintaimu hingga membuatku lupa bahwa aku masih mempunyai nafas untuk hidup. Aku sadar, aku tak pernah bisa benar-benar berada di sisimu. Tapi setidaknya, biarkan aku tetap mengingatmu, seperti dingin yang diciptakan salju pada air yang menjadikannya beku.

"Ajari aku mencintaimu."

Karena itu, ajari aku mencintaimu. Dengan sakit yang bersemayam di mataku, dengan perih yang tertoreh di hatiku. Biar kukulum semuanya bersama senyum hangat yang kulayangkan hanya untukmu. Aku bahagia, ketika kau lengkungkan senyum balasan yang walaupun bukan untukku. Setidaknya dengan aku melihatmu tersenyum, ada sedikit luka yang tertutupi. Dan ijinkan aku tetap mencintaimu, seperti derai hujan yang tak pernah lelah berjatuhan dari mataku.

Biarkan aku tetap seperti ini, mencintaimu yang tak pernah bisa kumiliki.

(2009)

Aku Mencintaimu

aku mencintaimu sepenuh langit yang bertabur
kunangkunang
tanpa rembulan

aku mencintaimu segenap samudera yang tertutup
riak temaram
tanpa bayangan

(2009)

Mencintaimu

mencintaimu
seperti jejak-jejak debu yang kesepian
diterbangkannya ia oleh angin merindu itu

mencintaimu
seperti ranting-ranting kemarau yang menangis
digugurkannya dedaunan itu menjadi airmata tanpa garis

mencintaimu
seperti kuncup-kuncup mawar yang abadi
dijadikannya embun itu seolah tak punya arti

(2009)

Dua Sajak Kecil Tentang Istana Yang Kau Idam-Idamkan Itu

Buckingham 
Tiba-tiba, kau menjelma Cinderella dan 
Aku sepatu kaca yang hilang ketika pesta dansa waktu itu, waktu 
Denting jam mulai kembali bersuara --sementara kau mencariku di mana-mana, aku 
Berjalan-jalan di hatimu dengan leluasa 

Windsor 
Kita pernah menghabiskan masa kecil dengan 
Bermain perang-perangan, di suatu akhir 
Pekan, dengan pistol-pistol dan senapan mainan 
Kita saling mengejar, meletuskan tembakan 
Yang terdengar seperti sungguhan, seperti 
Asli--hingga aku terjatuh dan selamanya 
Tak sadarkan diri 
Aku melihat kau menciptakan gerimis 
Lagi 

(2010)

Satu-Satunya Musik yang Kumainkan Lewat Piano Tua Dan Bayanganmu Itu yang Berkelebat Begitu Saja

Moonlight Sonata 
Seperti redup lampu-lampu taman, aku sering 
Melihatmu duduk sendirian, memainkan dingin dan 
Bayang-bayang pepohonan--lalu aku menghampirimu 
Sebagai kunang-kunang yang tak tahu jalan pulang 
Seperti danau dimana kita pernah berjalan 
Bergandengan, menyusuri sisi-sisinya yang 
Tenang, menyenandungkan langit sore itu sambil 
Saling melemparkan senyuman 
Seperti bandara dan lalu-lalang 
Orang-orang, aku menyaksikan awan-awan 
Hari itu hanya menyuguhkan isak-tangis dan sebuah 
Perpisahan--sungguh, di matamu, aku telah 
Kehilangan jalan pulang

(2010)

Seperti Itu Aku Mencintaimu

"Aku mencintaimu sedalam-dalamnya, dengan
Atau tanpamu sepenuhnya"

Seperti unggun-unggun api, disampaikannya
Kibar hangatmu pada dedaunan yang
Mengering oleh rinduku

"Aku mencintaimu sesungguh-sungguhnya, tak
Peduli kau ada untukku atau untuknya"

Seperti riak-riak telaga, disibakkannya
Bening matamu oleh sentuhan angin
Yang telah dingin karena cintaku

(2010)

Perihal

Telah lama ia tuliskan
Ribuan surat--semacam hikayat
Tentang kisah yang
Malu-malu, yang ia tulis
Pada wewangi pagi
Henyak matahari
Pun senja yang tak lekas bersembunyi
Barangkali dua belas musim
Yang telah reda adalah saksi
Penantian yang seolah-olah bukan
Tetapi benar--wanita itukah gerangan
Yang pada tiap tangisan kau sebutkan
Berulang-ulang?
"Ini kisah palih perih, yang daripadanya
Menjelma hujan, ombak, banjir,
Taufan, dan derai-derai yang
Mengaburkan kenangan!" katamu
Sambil lalu. Angin membeku
Tetapi tak ada satupun yang
Berkenan membaca. Huruf demi
Huruf mulai ia ajak berjalan-jalan
Menghampiri malam, lalu ia
Susun kemudian mereka itu membentuk
Semacam wujud
Serupa nama--wanita itukah gerangan
Yang karenanya bintang bukan
Lagi bintang tetapi cahaya lampu
Jalan yang mulai redup sebentar-sebentar
Lantas hilang?
"Tetapi tak kutemukan kau di malam
Manapun padahal telah kubawa serta
Namamu, kutuliskan pada ribuan
Rindu, kusampaikan di setiap hela nafas
Yang memburu
Pada setiap kelana dan perjalanan
Pada setiap samudra dan lautan
Entah, tak kunjung berbalasan"
Lalu ia menepi di sudut malam dekat
Rembulan yang sekarat. Ia menuliskan
Lembar terakhir surat--matanya sayat
Di punggungnya huruf-huruf
Jadi mayat.

(2014)

Posting Komentar