![]() |
| Photo by Greg Rakozy on Unsplash |
Malam ini, seorang lelaki tengah terduduk diam sambil memandang langit dari halaman rumahnya. Matanya yang berbinar-binar itu, menyiratkan pertanda bahwa ia sedang ingin sendiri, bersama bintang-bintang yang bertaburan seperti serpihan-serpihan cahaya rembulan yang berserakan hingga membuatnya tak sepenuhnya purnama. Tiba-tiba pintu di sampingnya terbuka. Lelaki itu menengok, seorang perempuan muda berjalan kearahnya.
“Kikan,” Senyum lelaki itu terkembang ketika tahu siapa yang membuka pintu.
Perempuan itu membalas senyumannya. “Sedang apa, Har? Sendirian saja,” tanyanya setelah duduk bersebelahan.
Kemudian tatapan Hari berpaling lagi ke arah langit, “Sedang menatap bintang yang berkedip.” Dia berhenti sejenak dan tersenyum ramah kepada Kikan. “Kau tahu? Sebenarnya bintang memancarkan energinya relatif konstan setiap saat. Kedipan bintang terjadi karena atmosfer bumi. Karena banyaknya lapisan udara—kau pernah belajar, kan, di SMA tentang lapisan-lapisan atmosfer yang bertingkat-tingkat itu?”
Awalnya Kikan terkejut, baru saja tiba sudah disuguhi materi astronomi. Tapi Kikan sudah terbiasa menghadapi hal-hal seperti ini, karena dia tahu memang seperti inilah sifat lelaki di sampingnya itu. Kikan mengangguk, “Ya, rasanya aku pernah tahu. Tapi sekarang sudah lupa.” Mereka tertawa kecil, kemudian Hari melanjutkan.
“Ya, karena lapisan-lapisan itu memiliki temperatur yang berbeda-beda, maka lapisan-lapisan udara tersebut bergerak-gerak sehingga menghasilkan turbulensi.”
“Turbulensi?” tanya Kikan cepat.
“Tenang, sayang. Biar kekasihmu ini menjelaskannya untukmu.” Hari tersenyum nakal, membuat Kikan salah tingkah. “Turbulensi ini bentuknya sama seperti ombak di lautan, atau riakan-riakan di kolam renang. Coba bayangkan sebuah uang logam yang tergeletak di dasar kolam.”
Kikan memejamkan mata, “Hemm, tidak terbayang. Masalahnya, di dalam pikiranku hanya ada bayanganmu.” Kikan tersenyum menggoda, dan kemudian terkekeh ketika melihat paras Hari yang mulai memerah.
“Dasar,” kata Hari sambil mengacak-acak rambut Kikan yang tergerai sebahu itu. “Aku anggap kau sudah membayangkannya. Sebuah koin yang tergeletak di dasar kolam, akan terlihat bergerak gerak jika kita melihatnya dari atas permukaan air. Ini terjadi karena adanya pembiasan.”
“Oh, jadi sama seperti pensil yang terlihat bengkok jika kita memasukkannya ke dalam gelas kaca berisi air?” tanya Kikan sambil merapikan rambutnya yang sesaat tadi diacak-acak Hari.
“Pintar kamu.” ujar Hari menyeringai.
“Masa kita sudah pacaran dua tahun kamu baru tahu.” kata Kikan sambil tertawa.
“Iya, deh. Kamu pintar, pintar makan, pintar tidur, pintar—“
“Pintar merayu pangeran yang kini tengah terduduk tanpa pedang.” potong Kikan sebelum Hari menyelesaikan kalimatnya. Kikan mengedipkan sebelah matanya kepada Hari.
“Biar saja, asal ada sang puteri di sampingku, tak ada lagi keraguan di dadaku untuk tetap terus melindungimu.” Hari balas mengedipkan sebelah matanya. “Ah, ya. Sudah sampai mana tadi?”
“Pembiasan. Tampan-tampan kok pikun.” Kikan terkekeh.
“Oke, lanjut.” kata Hari sambil menjulurkan lidahnya pada Kikan. Kikan tahu, dari matanya, Hari senang dia sebut tampan. “Menurut ilmu fisika, ketika berkas cahaya melewati dua medium dengan indeks bias yang berbeda—air dan udara—maka cahayanya akan dibiaskan atau dibelokkan. Dan karena permukaan air kolam itu tidak tenang, posisi uang logam yang sebenarnya pun akan tampak berpindah-pindah.”
“Oh.” Kikan mengangguk-angguk, entah mengerti atau tidak. “Terus, apa hubungannya sama bintang yang berkedip itu?” tanya Kikan ingin tahu.
“Nah, peristiwa ini sama dengan perjalanan cahaya bintang yang melewati atmosfer bumi. Ketika memasuki atmosfer, cahaya bintang dibelokkan oleh lapisan udara yang bergerak-gerak. Akibatnya, posisi bintang menjadi tidak tetap, berpindah-pindah. Tapi, karena pergeseran posisi bintang itu sangat kecil untuk dilihat mata kita, maka kita melihatnya seolah bintang itu berkedip.”
Kikan menatap lama ke arah Hari yang kini terdiam menatap langit. Hari yang sadar dirinya tengah diperhatikan, berpaling dan tersenyum, “Ada apa, sayang? Kok melihatku seperti itu?”
“Emm, kamu suka bintang?” Entah kenapa, Kikan merasa pertanyaannya terdengar menggelikan.
Hari terdiam beberapa saat kemudian tersenyum, “Ya, dari kecil bahkan. Mereka pelarianku jika aku menghadapi masalah yang sulit. Itulah mengapa aku tidak suka hujan ketika malam. Memangnya ada apa? Jangan bilang kalau kamu cemburu sama bintang.” kata Hari terkekeh.
“Sebenarnya iya.” kata Kikan ragu-ragu. “Kau bahkan bisa bertahan berjam-jam demi melihat bintang yang tak mungkin melihatmu. Sedangkan bersamaku, kau tak pernah bisa benar-benar melihatku yang jelas-jelas selalu melihatmu.”
Hari benar-benar dibuatnya terdiam untuk beberapa saat, kemudian tertawa, “Ya ampun, sayang, kamu serius?”
“Sebenarnya, tidak juga.”
Hari tersenyum dan membelai rambut Kikan. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Kikan yang kini terpaku. Dengan mesra, ia mengecup kening Kikan agak lama—Kikan benar-benar membatu. Mata Hari dan mata Kikan sekarang bertemu, “Percayalah, aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu. Biarlah bintang meninggalkan jejaknya di mataku. Tapi sungguh, tak ada jejak lain yang lebih kuperhatikan daripada jejakmu di hatiku.”
Dari ekspresinya, Kikan terlihat lega. Aku mencintaimu, Hari.
“Nah, agar kau tak lagi cemburu, bagaimana kalau aku perkenalkan siapakah bintang itu sesungguhnya sehingga aku menyukainya, ok?” kata Hari penuh keyakinan. Kikan tersenyum dan mengangguk. Kemudian mereka bersama-sama melihat langit.
“Kita mulai dari mana?” tanya Hari sambil tersenyum lembut.
Kikan tidak segera menjawab. Matanya tengah menjelajah langit cerah yang bertabur bintang. Kemudian, dia berpaling sambil menunjuk ke arah langit. “Har, kau tadi bilang bahwa bintang berkedip, bukan? Mengapa yang itu tidak?”
Hari melihat kearah mana telunjuk Kikan mengarah, dan tersenyum, “Oh, itu planet, bukan bintang. Nah, perbedaan mendasar antara keduanya adalah bahwa planet tidak berkedip. Karena jaraknya yang dekat ke bumi dan ukurannya yang cukup besar jika dilihat dari bumi, maka turbulensi atmosfer tidak memberikan pengaruh yang nyata pada berkas cahaya planet—kecuali saat kondisi turbulensi di atmosfer sangat kuat. Dan kukira kamu sudah mengenal planet itu bahkan sejak dari SD.”
Kikan menggeleng, “Aku tidak tahu, Merkurius ya?” tebak Kikan.
“Bukan, justru Merkurius adalah planet yang paling kecil kemungkinannya untuk kita amati, karena kesempatan untuk memerhatikannya hanya ketika waktu sebelum matahari terbit atau sesudah matahari tenggelam dengan durasi tidak lebih dari satu setengah jam.”
“Lantas, itu planet apa?”
“Jupiter, planet terbesar dalam tata surya kita.” kata Hari dengan suara bangga. “Jupiter adalah planet yang sangat terang, terletak di sekitar rasi Sagittarius. Coba kamu bandingkan dengan bintang-bintang di sekitarnya yang berkelap-kelip itu, indah bukan?” Kemudian Hari menjelaskan bintang-bintang apa saja yang terletak di sekitar Jupiter. Di sebelah barat daya, ada bintang merah Arcturus. Di timur laut, ada Vega. Di selatan, ada rasi layang-layang atau Salib Selatan yang terbentuk dari empat bintang. Dan dua bintang lainnya, yaitu Alfa dan Beta Centauri, berkedip mesra di dekat Jupiter.
“Jujur saja, aku tidak terlalu mengerti.” Kikan tertawa, disusul tawa Hari yang agak sedikit terlambat.
“Nah, begitu dong. Kalau kamu tertawa, aku tak perlu mencemaskanmu lagi.” Lagi-lagi, untuk yang kesekian kalinya, Hari tersenyum pada Kikan. “Ada lagi yang ingin kau tahu tentang bintang?”
Kikan menatap Hari lekat-lekat. “Aku ingin tahu apa alasanmu menyukainya.” kata Kikan setengah berbisik.
“Pertanyaan bagus,” Hari menatap Kikan, kemudian mengangkat kedua bahunya, “sejujurnya, aku tidak tahu mengapa aku menyukai bintang. Sama seperti aku mencintaimu. Bukankah tak terlalu dibutuhkan alasan untuk mencintai, jika kita percaya bahwa sesuatu itu pantas untuk dicintai?”
Paras Kikan memerah. Ada perasaan tenang ketika dia malam ini berada di samping Hari. “Entah kenapa, aku ingin menyanyikan lagu Fly Me To The Moon untukmu malam ini—di bawah siraman cahaya bintang dan rembulan setengah purnama. Lagunya Sinarta, kau tahu kan?” tanya Kikan dengan senyuman yang bisa membuat siapapun lelaki yang menatapnya, akan langsung jatuh hati. Dan malam ini, Hari benar-benar sadar, dia beruntung bisa mencintai Kikan.
“Tidak. Lagu apa itu?”
“Bagus kalau begitu. Aku beruntung bisa menjadi perempuan pertama yang menyanyikan lagu ini hanya untukmu.” Dan mulailah Kikan bernyanyi. Suaranya membuat Hari lupa bahwa malam ini begitu dingin, dan karena kehadirannyalah segalanya terasa hangat.
Fly me to the moon
And let me play among the stars
Let me see what spring is like on Jupiter and Mars
*Teruntuk RIDE, dan para penyuka bintang, 28 Juli 2009

Posting Komentar