Puisi Berjudul Panjang

Sebelum Tidur, Aku Memejamkan Mata Jam Dinding yang Terus Berputar Itu Biar Lelap Ia, Sehingga Aku Tak Harus Bangun Dari Tidurku Nanti Ketika Aku Tengah Asyik Memimpikanmu Hanya Karena Mulut Jam Dinding Itu Berkokok Pagi-Pagi

Photo by David Mao on Unsplash


setelah itu, aku pergi memekarkan selimut yang bergambar awan dan kututupi penuh kepalaku dengan harapan mimpiku akan berloncatan di antara awan-awan yang beku itu dan menemukan tempat persembunyianmu tepat di teduh matahari sehingga dari jarak aku berdiri yang terlihat hanyalah kecantikanmu yang tertutup bayang-bayang.

dan aku tertidur kemudian, dengan kedua tangan mendekap impian dan harapan tentang dirimu yang aku tahu akan selalu memenuhi ruang-ruang kenangan.

setelah aku yakin aku telah benar-benar terpejam dan bermimpi, aku berusaha merasakan hadirmu di tiap hela nafasku ini. tapi tak kutemukan dirimu ke manapun aku memandang. awan-awan dari selimut itu telah berubah mendung--yang sepertinya akan berpesta tak lama lagi.

(hujan. ah, hatiku basah, mataku tenggelam. dan tubuhku, o tubuhku, perlahan-lahan menjelma rumpun-rumpun awan yang rindang)

(2009)

Setiap Malam, Sesaat Sebelum Aku Menatap Bintang, Aku Selalu Bertanya Pada Hatiku Tentang Seberapa Besar Rasa Cintaku Kepadamu Dan Setiap Kali Itu Pula Aku Mendapatkan Jawaban Yang Sama Bahwa Seberapapun Besarnya Cintaku Kepadamu Itu Menjadi Tak Ada Artinya Ketika Pada Kenyataannya Tak Ada Cinta Yang Kau Sisakan Untukku Walau Hanya Sedikit Saja 

tapi lagi-lagi aku mencoba tak percaya pada kata hatiku dan lebih memilih percaya pada senyummu saja, dengan begitu mungkin aku akan tetap bertanya sambil lalu pada hatiku sesaat sebelum aku melihat kembali bintang--yang sejak bertemu denganmu rutin aku lakukan, di malam selanjutnya tanpa memerdulikan jawaban yang hanya akan mengundang airmata itu aku mencintaimu, untuk itulah di setiap malamku dan malammu yang mungkin saja berbeda, aku menanam bintang-bintang dengan bibit dari keringatku yang menetes ketika terlalu lelah aku berlari menujumu hanya demi membalas senyummu yang tertinggal begitu saja di mataku  

aku membayangkan di suatu hari baik nanti, ketika tanganku dan tanganmu adalah satu, bintang-bintang itu tumbuh menjadi matahari dan menyinari mataku dan matamu dengan tanpa memerdulikan cuaca dan waktu karena hari-hari hanya menjanjikan terang bahkan pada malam-malam tergelapmu dan kau akan menciptakan bayangan panjang di belakangmu untuk kau titipkan padanya rindu sementara aku menciptakan bayangan di hatimu untuk aku sampaikan padanya rayu, dan aku hanya tinggal menunggu bayanganmu berpaling dan kemudian berdua aku dan kau melihat bayangan kita terikat di antara terang matahari dan teduh cinta yang sejati 

(karenanya aku percaya kelak suatu hari hatiku akan senang menerima kabar gembira, bahwa ternyata dirinya pantas untuk kau miliki seutuhnya) 

(2009)

Ketika Aku Berjalan Ke Arah Timur, Senja Telah Usai Sementara Kelebat Burung-Burung Walet Tanpa Pekikan Nampak Terbang Landai, Angin Menyapaku Dari Seberang Jalan Setapak Tetapi Aku Pura-Pura Tak Melihat. Nyiur Dedaunan Yang Mengikat Harummu Telah Sempat Kusapa, Mengabari Bahwa Aku Baik-Baik Saja. Tak Perlu Lagi Ada Kecemasan Sebab Kiranya Senja Sudah Jauh Hari Tiada 

/1/ 
Aku masih membayangkan selusur jalan setapak ini tak lagi sama tanpa kita yang saling berpegangan tangan--kau barangkali lupa, ada kecupan kening selepas senja yang aku curi-curi selekas kau memejamkan mata. Pun ketika kubisikan pada angin bahwa alasan aku masih disini adalah kau satu-satunya--meski selesai itu angin membawa ruhku jauh terbang bersama helai-helai kering rumput ilalang tanpa sempat sedikit saja bersuara. 

/2/ 
Sepi, katamu. Kepalamu sedikit bersandar pada bahu. Lalu kau menunjuk cakrawala, merujuk burung-burung walet untuk terbang tanpa suara--aku bertanya mengapa, tapi kau menjawab dengan kecupan bibir sementara mata kita saling berbicara. 

/3/ 
Kau tahu, bunga-bunga itu masih harummu, liuk lambainya masih milikmu, warna pucatnya masih serangkum wajahmu. Aku petik sekuntum, kusesap dalam-dalam sisa rindumu sementara degup jantungku riuh menjeritkan namamu. Angin menjeratkan cahaya pada redup cakrawala selagi aku masih berdiri di setapak jalan menuju rumahmu--tak ada isak tangis atau suara parau yang pilu, aku menyaksikan senja itu embun-embun bunga luruh satu demi satu. 

(2015)

Bila Saja Dingin Yang Kau Tiupkan Lewat Celah Jendela Merambat Ke Selasar Rinai-Rinai Kaca Lalu Melambat Di Hela Nafas Aku Yang Sekadar Hanya Menghela Satu Nama 

sungguh aku akan duduk di sini berjam-jam lamanya tanpa menghiraukan apa-apa. udara sedikit mengharukan ketika aku dengar bisik-bisiknya yang perlahan dan terbata-bata, aku sendirian dan aku kira kau pun demikian. 

tak perlu aku jelaskan bagaimana dada ini luluh mendenyar ketika aku mendengar suaramu perlahan menjauh samar-samar. aku lupa berapa detak jarum jam yang sudah melewati pekarangan rumah atau berapa detik kenangan yang kembali datang tanpa membawa serta kabar kepulangan--tapi aku ingat, aku mencintaimu tanpa mengenal istirahat. 

bila saja dingin yang kutiupkan lewat celah jendela merambat ke setapak rindu yang rahasia lalu melambat di pejam matamu yang hanya memandang satu rupa, sungguh aku akan duduk di sini berjam-jam lamanya tanpa perlu meneteskan airmata. 

(2015)

Posting Komentar