![]() |
| Photo by Jeremy Bishop on Unsplash |
Aku paling lihai bersembunyi. Sejak dari kecil, bahkan, aku tahu aku berbakat dalam hal yang satu ini. Misalnya saja ketika itu aku dan teman-teman bermain petak umpet di halaman sekolah dasar. Entah bagaimana bisa, teman-teman tak pernah menemukan tempat persembunyianku, padahal tempatnya pun tak sulit-sulit amat untuk ditemukan—sebuah ruang sempit di antara dua ruangan, barangkali dulunya digunakan untuk gudang atau semacamnya sampai tanpa aku tahu sebabnya tempat ini tak dipakai lagi oleh pihak sekolah. Ruang kecil yang pas sekali untuk tubuhku yang kecil—tinggiku paling pendek di antara teman-teman lelakiku, ditambah rambutku yang ikal, tak jarang aku jadi bahan olok-olokan-setengah-bercanda mereka.
Aku, entahlah barangkali instingku yang berbicara, menemukan lubang besar menganga di bawah sofa yang usang tak terpakai—yang ditempatkan miring begitu saja menyilang bertumpu pada dua dinding di antaranya. Tanpa pikir panjang lagi, aku bersembunyi disana, sampai teman-temanku menyerah untuk menemukanku dan aku keluar bak pahlawan yang menang perang. Betapa kerennya aku waktu itu, aku membayangkan.
Kejadian ini tentu bukan satu dua kali terjadi. Bakat bersembunyiku sudah banyak berkali-kali membantuku dari kejaran teman-teman yang marah, atau perkelahian yang tak mungkin aku menangkan. Dan tentu saja, aku percaya, bakat ini bukan bakat yang biasa-biasa saja.
/2/
Kotaku bukan kota yang terlalu tua, tapi di sini banyak sekali cerita-cerita yang menarik. Ibu dan Ayah bukan asli kota ini, jadi mereka tidak terlalu paham dan mengerti, tapi pacarku tahu banyak hal. Dari pacarkulah aku tahu tentang kisah manusia setengah ikan penghuni danau pinggiran kota yang senang bernyanyi dan berenang ketika tiba bulan purnama.
Yang menarik dari cerita itu bukan pada betapa mustahilnya makhluk aneh yang dikatakan pacarku itu ada—barangkali hanya kenampakan alam biasa yang terlalu dilebih-lebihkan, tetapi aku tertarik dengan cara mereka, aku tidak masalah percaya mereka ada—bersembunyi. Aku bahkan sempat berpikir ingin menjadi seperti mereka, pandai menyembunyikan rasa ketakutan dengan hanya menunjukkan diri sesekali, lalu selebihnya bersembunyi sehingga orang-orang tak bisa melihat keberadaannya lagi. Betapa bahagianya mereka, pikirku. Hidup yang penuh dengan persembunyian. Ah, ya. Aku memakai kata mereka pada mereka karena yang kudengar, konon, manusia setengah ikan bukan hanya ada satu saja.
Pacarku, yang menyenangi ilmu pasti dan matematika, tentu saja tidak percaya. Dia selalu menambahkan kalimat, ”Entah apa yang ada di pikiran mereka yang percaya hal-hal semacam itu, dunia sudah menjamah planet di angkasa tapi orang-orang di kota ini masih saja mengurusi perkara tidak penting macam manusia ikan? Oh, yang benar saja.”
Tapi orang-orang memang sangat percaya dengan keberadaan mereka. Sisi baiknya, danau di pinggiran kota itu menjadi sangat tertata dengan baik. Tak sedikit pun sampah terlihat mengotori sungai, pinggiran jalan, atau wilayah sekitar danau. Sejauh yang aku ingat, danau ini adalah danau paling bersih. Tidak ada yang berani mengotorinya barang sedikit. Sebab kata orang yang sudah pernah melakukannya—barangkali karena penasaran, iseng, tak percaya, tak sengaja, atau memang benar-benar berniat melakukannya, entah mengapa selama beberapa hari setelahnya, mereka menjadi sangat sial.
Tetangga pacarku, misalnya. Ketika ia membuang sampah—bungkus dari rokok yang habis ia lahap di siang hari yang terik pada musim panas tahun lalu, ke permukaan danau, pada malam harinya rumahnya tanpa alasan jelas tiba-tiba saja kebanjiran. Bukan banjir besar memang, hanya genangan air yang ditemukan di beberapa bagian rumah. “Tapi tentu saja aku tak percaya cerita bohong macam itu,” kata pacarku setengah mencibir. “Paling-paling juga istrinya lupa menutup kran air hingga airnya tumpah ke lantai rumah.”
Entahlah, tapi aku tak terlalu ambil pusing dan memperdulikannya terlalu dalam. Ada perasaan semacam penasaran dan ketakutan yang bersamaan hadir, kemudian menguap begitu saja karena aku tak mau terlalu memikirkannya juga. Tentu saja kepandaian mereka bersembunyi tetap menarik minatku, sebab aku masih percaya pada bakat bersembunyi milikku—bakat ini bukan bakat yang biasa-biasa saja, kan?
/3/
Aku bermimpi malam itu.
Di bawah cahaya rembulan purnama, sedikit desiran angin yang tak terlalu dingin, juga suasana malam yang sepi, hanya ada suara-suara serangga malam yang memekakan telinga, bagai tambur yang dipukul-pukulkan tepat di dalam gendang telinga. Sangat mengganggu. Aku berjalan perlahan-lahan. Suara langkah kaki ini demikian nyata terdengar, sampai aku bisa merasakan debu dan debur tanah yang aku pijak di sepanjang langkah. Jalan ini lurus, tak ada ujungnya, aku pikir. Di tiap sisinya tumbuh pepohonan yang rantingnya meliuk-liuk bagai jemari penyihir abad pertengahan—seolah-olah hendak menyihirku jadi manusia setengah ikan yang menggelepar tak berdaya di tengah jalan karena kekurangan air. Entah bagaimana, aku kemudian memilih berkelok menuju sebuah danau yang pada tepinya nampak beragam cahaya kunang-kunang silih terbang kesana-kemari.
Sebentar, bukankah ini danau yang sama yang ada di pinggiran kota itu, ya? tanyaku dalam hati setelah berjalan mendekat. Aku melihat rembulan purnama mengambang di tengah-tengah danau.
Di salah satu sisi danau, tertambat perahu kecil yang mengalun-alun pelan. Aku menaikinya, dan membawa diriku yang tak tahu apa-apa ini berlayar ke tengah danau—aku tahu ini mimpi, tapi yang aku tak tahu ternyata di dalam mimpi seseorang tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Angin masih mendesir di sepanjang ayuhan dayung perahu, kulihat cahaya kunang-kunang yang tadi banyak sekali, sekarang tak satupun tampak. Aneh sekali, ah segalanya nampak aneh di sini. Sampai di tengah-tengah danau, tepat di sampingku rembulan membayang pecah-pecah, aku berhenti. Riak-riak yang diciptakan dayung, nampak memelan dan tenang. Hanya saja, serta-merta aku merasakan getaran hebat dari dasar danau. Perahu bergoyang hampir oleng, riak-riak yang tadi pelan kini menjelma gelombang yang membesar dan kian membesar. Sampai kemudian aku terlempar dan tenggelam, perahuku terbalik dan mengambang di permukaan.
Setengah sadar, aku melihat bayang-bayang perempuan yang berenang mendekat. Menatapku dalam, merangkulku perlahan, dan membawaku berenang ke dasar perairan. Di saat seperti ini, ingin sekali aku bersembunyi menghindar. Rasanya seperti sesak, dada ini ingin meledak. Sampai pada titik dimana pernafasanku menyerah untuk bekerja, aku terbangun. Kepalaku sedikit pusing, keringat bercucuran. Kulihat jam dinding di atas kamar, sudah lewat tengah malam. Aku takut memejamkan mata kembali, jadi aku keluar kamar dan berjalan mondar-mandir tak keruan sambil memegang segelas minuman.
/4/
Aku percaya mimpi adalah pertanda rahasia tentang masa depan. Bisa pertanda baik, atau pertanda buruk. Tapi pacarku menghiburku dengan ciuman dan berusaha menenangkanku yang tengah gusar karena mimpi semalam.
“Tak ada yang perlu dicemaskan. Mimpi hanya bayang-bayang kekhawatiranmu saja pada kenyataan.” ujarnya sambil tersenyum. Senyuman yang masih sama yang menghantarkanku pada takdir yang mempertemukan kami berdua. Tubuhnya lebih tinggi sedikit dariku ketika aku bertatap muka di suatu stasiun kereta saat aku hendak berlibur ke luar kota. Rambutnya hitam semampai, seperti landai ilalang yang rimbung melambai diterpa angin musim semi. Sementara sepasang matanya adalah mata air yang jernih, bibirnya adalah puncak bukit dimana segala bunga tumbuh seakan berkelakar, rebahlah di sini barang sejenak. Ah, sebab darinya, aku menyukai segala yang nampak.
“Kau kenapa melamun begitu?” ucapmu khawatir, aku tersenyum padanya dan berkata tidak apa-apa. Hanya sekedar ingatan tentangnya yang tiba-tiba datang begitu saja.
Aku memutuskan cuti dari pekerjaan selama beberapa hari, karena sejak mimpi itu badanku jadi kurang sehat. Sedikit-sedikit pusing, dan keringat dingin bercucuran tiba-tiba di banyak kesempatan. Sore ini, pacarku berencana mengajakku berjalan-jalan. Mau kemana, kataku bertanya. Tetapi pacarku hanya menjawab, rahasia. Sepertinya pacarku sudah belajar banyak dariku tentang bersembunyi, kali ini pacarku pintar sekali menyembunyikan apapun termasuk rahasia. Aku penasaran dibuatnya.
Sore hari ini cuacanya dingin, aku sampai menyiapkan jaket tebal penutup kepala sarung tangan dan syal yang melilit leher karena tak kuat menahan dinginnya. Salju memang tak turun, tetapi sisa-sisanya nampak di jalanan dan beberapa atap rumah. Rasa-rasanya aku hafal jalanan ini, dan hendak kemana pacarku membawaku pergi.
“Bukankah ini jalan ke arah danau itu ya?” ujarku sambil melihat ke arah luar jendela, sementara pacarku sedang asyik mengemudi sambil mendengarkan beberapa musik jazz kesukaannya.
“Iya, tak apa-apa, kan? Aku hanya mau membuktikan mimpimu itu tak punya makna apa-apa.”
Aku menggeleng tak keberatan, apa salahnya pikirku. Di sisa perjalanan, aku larut dalam lantunan musik dan percakapan ringan tentang kenangan-kenangan masa lalu antara pacarku dan aku. Entah mengapa, kali ini dia nampak bahagia sekali. Apa, ya, yang membuat dia bahagia? Kukira bukan karena perjalanan ini, atau lagu jazz yang hampir selesai itu, atau mimpiku yang jelas-jelas tak ia percaya. Barangkali sesuatu yang penting, yang sengaja ia jadikan rahasia. Ketakutanku akan mimpi tadi malam mendadak hilang tak berbekas, karena kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya. Serta merta tubuhku ini terasa lebih baik.
/5/
Ketika kami berdua duduk di sebuah kedai kopi kecil tak jauh dari danau pinggiran kota, lalu pelayan mendatangi kami dan kemudian kepadanya kami memesan dua cangkir cappucinno hangat dengan taburan coklat di atasnya, wajah pacarku masih nampak bahagia.
“Ada yang sebenarnya ingin kusampaikan kepadamu.” katanya sambil melihatku dalam-dalam. Pesanan kopi kami tiba tak berapa lama. Aku sesap harumnya, sebelum kuteguk sedikit demi sedikit. Sensasi hangat kemudian menjalari tubuhku yang kedinginan sepanjang perjalanan.
“Tentang apa? Aku kira mimpiku malam tadi sudah selesai.” ucapku sambil meletakkan cangkir kopi, kulihat kopinya belum ia sentuh sama sekali.
Pacarku melihat ke arah perutnya—memegang-megangnya pelan sambil sesekali diusap-usap memutar, sebelum kemudian ia memandangku kembali sambil tersenyum. “Kau tahu apa yang menjadi kebanggaanmu sebagai lelaki?”
Barangkali ini memang sesuatu yang penting. Aku memikirkan pertanyaan dari pacarku itu, sebelum akhirnya aku memilih untuk menunggu kata-kata selanjutnya dari pacarku.
Setengah berbisik, sambil masih memegang perutnya, pacarku berbicara, “Kau akan menjadi seorang ayah. Aku hamil satu minggu.”
Mendengar pernyataannya, aku terlonjak dari kursi saking bahagia. Aku rangkul, aku peluk, aku angkat, aku putar-putar pacarku dan kukecup keningnya beberapa kali. Tentu saja pacarku bahagia, aku bahkan tidak menyadari ini sama sekali. “Benarkah kau hamil?” tanyaku masih dengan nada tak percaya.
Pacarku memberi jawaban dengan kecupan hangat di bibirku. Aku tak lagi bisa berkata apa-apa.
/6/
Sudah sembilan bulan sejak pacarku memberitahu kehamilannya kepadaku di sore hari itu. Selama sembilan bulan pula, kami melewati beberapa musim yang sulit. Ini kehamilan pertamanya, karenanya aku ingin membuat segalanya sempurna. Tak pernah sedikitpun aku melewatkan kesehatannya. Beberapa kali aku membawanya ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan, dan segalanya nampak baik-baik saja. Apa yang diminta oleh pacarku selama ini, telah kukabulkan sesuai permintaan. Aku tak mau terjadi apa-apa dengan calon anakku.
Aku membayangkan anakku akan menjadi seorang penyanyi yang pandai merangkai nada-nada menjadi indah—menurut pacarku, jabang bayi yang ada di dalam perutnya adalah perempuan. Jenis musik favoritnya sama seperti ibunya, sama-sama menyukai jazz. Aku bisa dengan jelas membayangkan album-album miliknya meledak di pasaran, dipajang di setiap toko-toko musik di seluruh kota. Namanya, tak ada seorangpun yang tak mengenalinya. Ah, iya. Aku telah menghabiskan beberapa waktu untuk mencarikannya nama yang sempurna. Ini sulit, sebab aku tak berbakat menciptakan nama. Bakatku hanya bersembunyi saja. Pekerjaanku pun tak jauh-jauh dari bakatku ini, sebab aku masih percaya pada bakat bersembunyi milikku—bakat ini bukan bakat yang biasa-biasa kan? Apapun itu, aku bahagia. Telah kutaruh masa depanku pada kelahiran anakku kelak—tiba-tiba saja aku merindukan tangisan seorang bayi kecil dalam gendongan hangat ibunya.
Sampai kemudian, tiba-tiba saja aku mengalami mimpi yang sama. Aku berjalan melewati pepohonan yang rantingnya berkelit-kelit serupa jemari penyihir abad pertengahan—aku sudah pernah menceritakan mimpi ini, sampai kemudian aku mengayuh perahu dan setelah insiden gelombak besar air danau yang menggulung-gulung itu, aku tenggelam setengah tak sadar. Berbeda dengan mimpi sebelumnya, kali ini sosok perempuan kecil yang menyeretku tempo hari tidak membawaku ke dasar danau, tetapi membawaku kembali ke daratan. Matanya berlinang dan bibirnya tersenyum menyakitkan. Setelah sosok itu pergi, cahaya kunang-kunang yang selama beberapa saat menghilang, kini mulai kembali berdatangan.
Ketika terbangun, aku memegangi kepala karena pusing yang sama yang pernah aku alami kembali menjalar. Aku kembali memikirkan mimpi yang baru saja terjadi. Apa maksudnya, ya, bukankah ini nampak semakin aneh saja?
/7/
Tengah malam di hari selanjutnya, pacarku merasakan sakit yang sangat. Dia menjerit sambil memegangi perutnya. Aku yang masih tertidur, tiba-tiba saja terbangun dan melihat ke arah pacarku. Rupanya dia akan segera melahirkan—aku panik, ini pengalaman-kelahiran-sebagai-ayah yang pertama. Tanpa pikir panjang, aku membawanya ke rumah sakit terdekat. Barangkali sepuluh menit sudah sampai, bila tidak ada halangan. Sepanjang perjalanan, aku berusaha menenangkan pacarku yang semakin kencang berteriak menahan rasa sakitnya.
Dokter bergerak cepat, ia membawaku dan pacarku ke sebuah ruang bersalin yang berada di pojok jauh—mungkin perlu waktu beberapa menit untuk sampai bila berlari dari gerbang depan. Pacarku meregang, menahan, berusaha mengeluarkan bayi kecil kami yang kami harap baik-baik saja. Aku setia menemani di sampingnya, tak peduli berapa kali ia merenggut kepalaku dan mengacak-acak rambutku, atau mencengkram bajuku hingga beberapa kancingnya jatuh. Entah berapa lama aku di sini, waktu mendadak berhenti saat itu.
Sampai kemudian suara tangisan bayi terdengar menggelegar di selingkup ruangan. Bayi kami akhirnya lahir, bayi perempuan kecil kami yang kelak menjadi penyanyi. Hanya saja ada yang janggal, aku melihat dokter tampak tidak bahagia. Dia berusaha memanggilku, sementara pacarku kutinggalkan. Biarlah ia istirahat sejenak, pikirku.
“Anda percaya pada manusia ikan?” kata dokter itu mengawali pembicaraan. Sebuah awal pembicaraan yang aneh, tak biasanya dokter berbicara tentang manusia ikan.
“Saya tak keberatan percaya, beberapa kali saya pernah bermimpi tentang itu sebelumnya. Memangnya ada apa, ya?” tanyaku penasaran. Sepertinya ada gelagat aneh yang ditunjukkan dokter ini. Dia lalu mengajakku melihat bayiku yang sudah bersih, dan betapa terkejutnya aku setelahnya.
Aku membayangkan, ketika aku berjalan kembali ke ruangan pacarku dan kemudian dia berkata, dimana anakku, aku berusaha menenangkannya dan menjawab kalau bayi kami tidak selamat. Lalu akan ada tangisan panjang di antara kami berdua, yang amat sedih yang demikian menyayat-nyayat—yang bahkan menular kepada siapa saja yang melihat. Aku tenggelam dalam pelukan pacarku, dan pacarku yang sudah terlalu lelah itu tenggelam dalam pelukanku. Kami berdua bersama-sama menyembunyikan diri, seolah-olah semuanya tak pernah terjadi dan waktu bisa kami putar kembali. Entah mengapa, tiba-tiba saja aku teringat akan danau di pinggir kota. Kota yang walaupun tidak terlalu tua, tapi menyimpan banyak sekali cerita yang menarik.
Bakatku sejak kecil adalah bersembunyi, sebab itu aku masih percaya pada bakat bersembunyi milikku—bakat ini bukan bakat yang biasa-biasa saja, kan?
Aku melihat ke arah jendela kaca. Rembulan purnama nampak tenang bertengger di atas langit yang rahasia.
(2014)



Posting Komentar