Goatman dari Maryland

Terkadang, di film-film Holywood, makhluk gaib digambarkan mirp dengan monster yang menyeramkan. Entah memang wajahnya yang buruk rupa, atau memiliki kemiripan dengan hewan tetapi berbadan manusia. Salah satu yang akan kita bahas pada episode kali ini adalah monster yang memiliki tubuh manusia tetapi memiliki wajah atau kepala kambing. Nama terkenalnya yaitu Goatman. Bukan, bukan superhero Marvel atau DC. Tapi memang monster dari Maryland.

Aku jadi ingat salah satu sekte sesat bertuhankan makhluk dengan kepala yang serupa. Barangkali nanti di episode-episode selanjutnya akan dibahas.

Photo by I.am_nah on Unsplash
 
Karena ini akan jadi cerita yang panjang, aku kutip langsung dari sumbernya, dengan sedikit perubahan. Persiapkan dirimu, karena ini akan menjadi pengalaman panjang yang kurang menyenangkan. 

Legenda Urban Goatman dari Maryland

Hank James, lelaki 17 tahun itu, sedang duduk dengan santai. Di sebelah kanannya, dengan baju levis hitam dan sweter katun putih, duduk pula Liza Jane Benedict. Mungkin bukan gadis tercantik di kawasan tempat tinggalnya, tapi Liza memiliki pesona yang menggoda.

"Aku sama sekali tidak suka ini," kata Liza, ketika Hank mengarahkan mobil ayahnya ke kegelapan jalan Fletchertown. "Maksudku, bukannya aku memercayai hal bodoh itu. Tapi, yah... bagaimana kalau dia benar-benar ada di luar sana?"

"Siapa?" kata Hank, meraih untuk menepuk lutut gadis itu.

"Kau tahu, aku tidak sedang membicarakan ayahku," kata Liza, menyilangkan tangannya.

Setiap dia mendengar tentang legenda urban yang terkenal di Prince George, nama monster itu tidak pernah gagal membuat Hank merinding. Jadi dia lebih dari berterima kasih ketika Liza menahan diri untuk tidak mengucapkan sebutan yang mengerikan itu.

Ketika Hank mengemudikan mobil di sepanjang jalan-jalan yang berliku di Bowie, dia mengira kota itu tampak kosong pada tiap Jumat malam. Kawan-kawannya ada di rumah Ledo dan berbicara omong kosong, tapi di mana orang lain? Dia mencoba menjaga dirinya dalam semangat yang mantap, tetapi ketika dia memutar mobil ke Jalan Zug dan lampu depan menyapu salib putih yang menandai kuburan tanpa nama di pemakaman gereja ...

"Jalan Zug," bisik Liza. "Di situlah anjing itu dimutilasi. Di situlah monster itu pertama kali terlihat, kan?"

Ketika Hank merasa Liza semakin dekat dengannya, dia tahu dia telah membuat keputusan yang tepat. Persetan monster itu. Mungkin tidak benar-benar monster, mungkin hanya badak yang kotor saja. Dengan bayangan nafsu dan pikiran kotor di tengkoraknya, Hank terus mengemudi, berencana untuk berhenti di tengah-tengah rel kereta api. Biarlah ketakutan melakukan tugasnya dengan baik, pikirnya. Tapi malam ini, entah kenapa, palang relnya terbuka lebar.

"Tidak mungkin, Hank. Jikapun Goatman tidak menangkap kita, tapi kita bisa mati karena kereta itu."

Tetapi terlepas dari kenyataan bahwa Liza akhirnya mengatakan nama kotor monster itu, Hank masih tidak mendengarkan. "Ayo kita pergi sebentar ke sana."

Didorong oleh adrenalin dan ketakutan, ia mengemudikan mobil ayahnya melalui mulut palang rel kereta yang menganga, berbelok sedikit, dan parkir di bawah pohon yang mati. "Sekarang, apakah ini sangat menakutkan?" dia bertanya, meraih minuman di kursi belakang.

Liza, yang teralihkan perhatiannya dengan melihat-lihat sekelilingnya untuk melihat monster itu, bergumam, "Tidak." Namun, ketika Hank menabrak dan menghancurkan lampu depan, Liza cukup ketakutan. "Ayolah, berhenti, Hank," pintanya. "Kita tidak akan berada di sini cukup lama dengan lampu yang mati, kan."

Hank memandangi mulut wanita yang kecil dan merah itu dan menganggukkan kepalanya. Tetapi ketika dia mencondongkan tubuh ke arahnya, bibirnya belum sempat menyentuh bibir Liza, seketka Liza menyentak dengan keras dan berteriak, "Seseorang di luar sana!"

"Ayolah, Liza," desah Hank, "jangan menipuku dengan cerita hantu sialan. Aku tahu cerita seperti The Legend of Sleepy Hollow." Hank berbalik ke arah kaca depan. "Dan kamu tidak akan percaya pada cerita Headless Horse—"

Tapi kemudian dia melihatnya juga. Ya, dia melihat sesuatu. Sesuatu seperti kaki. Sesuatu yang mirip manusia, tapi bukan. Ah, kostum. Itu harusnya kostum badut atau semacamnya. Kenyataannya, Hank nyaris yakin bahwa dia bisa melihat gaya rambut makhluk itu yang nampak kasar.

"Apakah itu O'Sullivan?" kata Hank, mengernyitkan matanya. "Sial, dia hanya mencoba menakuti kita, itu saja."

Liza menunjuk satu jari ke wajah Hank, "Kamu pergi ke sana dan beri tahu O'Sullivan atau siapa pun yang ada di sana sekarang."

Hank memandangi Liza, akan sangat memalukan jika dia terlihat ketahukan di hadapan gadis paling populer di Eleanor Roosevelt itu. Dan membuka pintu, engselnya membuat pekikan yang mengerikan, dan berbalik ke Liza, "Setidaknya satu teguk minuman saat aku pergi, please?"

Ketika Hank berjalan menuju bayangan itu, Liza mengunci semua pintu. Dia menyalakan radio dan mencoba bernyanyi sekerasnya—dan saat itulah dia mulai mendengar banyak hal. Retak ranting pohon menutup mulutnya. Lalu lolongan entah darimana menahan nafasnya. Dan akhirnya, suara tap-tap-tap meyakinkannya untuk tetap diam.

Tap-tap-tap. Seperti setetes hujan yang menimpa kaleng. Tap-tap-tap.

Ketika detik-detik berubah menjadi menit-menit, ketukan tap-tap-tap itu tetap mengeluarkan ritme yang memuakkan. Mata Liza berlinang air mata dengan semua hal yang terjadi di sekelilingnya, sampai-sampai dia kencing di celana.

Entah bagaimana, ketika Liza memikirkan kembali suara yang mirip metronome itu, ia tertidur dan tersentak bangun pada dini hari dengan kereta api yang menderu beberapa meter jauhnya. Dia melepaskan jeritan yang menembus kabut dan membanting tegak tubuhnya.

Dan ketika dengungan lokomotif akhirnya memudar menjadi hening, suara hentakan berlanjut: tap-tap-tap.

Sedikit terhibur oleh cahaya matahari, dan kereta api batu bara berjalan dari barat, dia membuka pintu dan menyaksikan tetes darah pertama menyebar di lengan sweter putihnya. Lalu yang lain. Dan satu lagi. Dia bisa mencium bau darah mulai memanggang lambat di bawah sinar matahari, dan dia menelan ludah. Bau busuk itu tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang terjadi selanjutnya. Teriakannya—serak, mentah, tak ada habisnya—hilang dalam peluit lokomotif, ketika Liza Jane Benedict mendongak ke kanopi dan menyadari apa arti semua suara tap-tap-tap itu...

Penutup

Bisa kamu tebak, bagaimana akhir cerita Hank dan Liza? Iya, Hank ditemukan tewas terbunuh dengan luka dan darah yang menetes jatuh dari kanopi dan menetes ke baju dan sweter Liza. Kupikir yang membunuh Hank adalah Goatman, karena monster itu terlihat pada malam itu di saat Hank terakhir kali terlihat hidup.

Sebenarnya ceritanya masih sangat panjang, dan seru untuk diikuti. Barangkali di episode lain akan aku bahas lebih lanjut, tapi apakah kamu juga percaya itu perbuatan Goatman? Atau seperti kata Hank, mungkin saja itu hanya manusia biasa yang memakai kostum? Well, tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, Goatman pernah beberapa kali menampakan diri.


Sumber: www.washingtoncitypaper.com, sites.psu.edu, cryptidz.fandom.com, www.derbycityweekend.com

Posting Komentar