Cerita ini sudah aku dengar sejak lama, terutama kabar tentang betapa menyeramkannya cerita ini. Ceritanya sangat populer di kalangan para pencinta creepypasta, cerita-cerita horor nan mengerikan. Jadi, kuputuskan untuk menceritakan kembali cerita ini di sini. Siap-siap, ya. Katanya, cerita ini asli dan diangkat dari kisah nyata.
Sumber: creepypasta.fandom.com, www.news.com.au, headcramp.boredomtherapy.com
Kisah Menyeramkan Ini Dimulai
Peneliti dari Rusia, pada akhir 1940-an, membuat percobaan terhadap lima orang. Percobaan itu mengharuskan kelima orang tersebut tetap terjaga selama lima belas hari menggunakan stimulan berbasis gas eksperimental. Mereka disimpan di ruangan tertutup untuk memantau asupan oksigen mereka dengan hati-hati agar gas tidak membunuh mereka, karena gas itu beracun dalam konsentrasi yang tinggi. Terdapat kamera pengintai di ruangan itu.
![]() |
| Photo by Alexandra Gorn on Unsplash |
Walaupun demikian, mereka hanya memiliki mikrofon dan jendela lubang kaca berukuran lima inci untuk memantau mereka dari luar. Kamar itu penuh dengan buku-buku, dipan-dipan untuk tidur tetapi tidak ada tempat tidur, air yang mengalir dan toilet, dan makanan kering yang cukup untuk mereka berlima selama lebih dari sebulan.
Orang-orang yang diuji dalam eksperimen ini adalah tahanan politik yang dianggap musuh negara selama Perang Dunia II.
Semuanya baik-baik saja selama lima hari pertama; subjek penelitian itu hampir tidak mengeluh karena telah dijanjikan akan dibebaskan jika mereka mengikuti tes ini dan tidak tidur selama 30 hari, walaupun sebenarnya janjinya palsu. Percakapan dan kegiatan mereka dipantau dan dicatat. Selama mereka di sana, mereka terus berbicara tentang insiden yang traumatis di masa lalu mereka. Setelah empat hari, percakapan-percakapan mereka mulai memperlihatkan sisi yang lebih gelap.
Setelah lima hari mereka mulai mengeluh tentang keadaan dan peristiwa yang membawa mereka ke tempat mereka berada dan mulai menunjukkan paranoia yang parah. Mereka berhenti berbicara satu sama lain dan mulai berbisik-bisik secara bergantian ke mikrofon dan jendela intip cermin satu arah. Anehnya, mereka semua tampaknya berpikir bahwa mereka bisa mendapatkan kepercayaan dari para peneliti dengan menyerahkan kawan-kawan mereka, subjek-subjek lain yang terdapat di dalam ruangan bersama mereka. Pada awalnya para peneliti menduga ini adalah efek dari gas itu sendiri.
Setelah sembilan hari, mulai ada yang berteriak. Dia berlari sepanjang kamar, berulang kali berteriak selama tiga jam berturut-turut. Dia terus berusaha menjerit tetapi pada akhirnya hanya mampu menghasilkan suara mencicit. Para peneliti menyimpulkan bahwa dia, secara fisik, telah merobek pita suaranya sendiri. Hal yang paling mengejutkan tentang perilaku ini adalah bagaimana para tahanan lainnya bereaksi terhadapnya, atau lebih tepatnya tidak bereaksi terhadapnya. Mereka terus berbisik ke mikrofon sampai tawanan kedua mulai menjerit. Kedua tawanan yang tidak berteriak itu memisahkan buku-buku, diolesi halaman demi halaman dengan kotoran mereka sendiri dan menempelkannya dengan tenang di atas lubang intip kaca. Teriakan itu segera berhenti.
Begitu juga bisikan ke mikrofon.
Setelah tiga hari berlalu, para peneliti memeriksa mikrofon setiap jam untuk memastikannya masih berfungsi, karena mereka pikir tidak mungkin tidak ada suara yang masuk dari lima orang yang ada di dalam. Konsumsi oksigen dalam ruangan menunjukkan bahwa kelima orang itu masih hidup. Faktanya, jumlah oksigen yang dikonsumsi kelima orang itu sangat banyak, seperti konsumsi oksigen oleh orang yang sedang berolahraga yang sangat berat.
Pada pagi hari tanggal 14, para peneliti melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak akan mereka lakukan untuk mendapatkan reaksi dari para tawanan. Mereka menggunakan interkom di dalam kamar, berharap bisa memancing reaksi dari tawanan. Para peneliti itu khawatir jika para tawanan sudah mati atau semacamnya.
Semuanya baik-baik saja selama lima hari pertama; subjek penelitian itu hampir tidak mengeluh karena telah dijanjikan akan dibebaskan jika mereka mengikuti tes ini dan tidak tidur selama 30 hari, walaupun sebenarnya janjinya palsu. Percakapan dan kegiatan mereka dipantau dan dicatat. Selama mereka di sana, mereka terus berbicara tentang insiden yang traumatis di masa lalu mereka. Setelah empat hari, percakapan-percakapan mereka mulai memperlihatkan sisi yang lebih gelap.
Setelah lima hari mereka mulai mengeluh tentang keadaan dan peristiwa yang membawa mereka ke tempat mereka berada dan mulai menunjukkan paranoia yang parah. Mereka berhenti berbicara satu sama lain dan mulai berbisik-bisik secara bergantian ke mikrofon dan jendela intip cermin satu arah. Anehnya, mereka semua tampaknya berpikir bahwa mereka bisa mendapatkan kepercayaan dari para peneliti dengan menyerahkan kawan-kawan mereka, subjek-subjek lain yang terdapat di dalam ruangan bersama mereka. Pada awalnya para peneliti menduga ini adalah efek dari gas itu sendiri.
Setelah sembilan hari, mulai ada yang berteriak. Dia berlari sepanjang kamar, berulang kali berteriak selama tiga jam berturut-turut. Dia terus berusaha menjerit tetapi pada akhirnya hanya mampu menghasilkan suara mencicit. Para peneliti menyimpulkan bahwa dia, secara fisik, telah merobek pita suaranya sendiri. Hal yang paling mengejutkan tentang perilaku ini adalah bagaimana para tahanan lainnya bereaksi terhadapnya, atau lebih tepatnya tidak bereaksi terhadapnya. Mereka terus berbisik ke mikrofon sampai tawanan kedua mulai menjerit. Kedua tawanan yang tidak berteriak itu memisahkan buku-buku, diolesi halaman demi halaman dengan kotoran mereka sendiri dan menempelkannya dengan tenang di atas lubang intip kaca. Teriakan itu segera berhenti.
Begitu juga bisikan ke mikrofon.
Setelah tiga hari berlalu, para peneliti memeriksa mikrofon setiap jam untuk memastikannya masih berfungsi, karena mereka pikir tidak mungkin tidak ada suara yang masuk dari lima orang yang ada di dalam. Konsumsi oksigen dalam ruangan menunjukkan bahwa kelima orang itu masih hidup. Faktanya, jumlah oksigen yang dikonsumsi kelima orang itu sangat banyak, seperti konsumsi oksigen oleh orang yang sedang berolahraga yang sangat berat.
Pada pagi hari tanggal 14, para peneliti melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak akan mereka lakukan untuk mendapatkan reaksi dari para tawanan. Mereka menggunakan interkom di dalam kamar, berharap bisa memancing reaksi dari tawanan. Para peneliti itu khawatir jika para tawanan sudah mati atau semacamnya.
Mereka mengumumkan, "Kami akan membuka ruangan untuk menguji mikrofon; menjauhlah dari pintu dan berbaringlah di lantai atau Anda akan ditembak. Kepatuhan dari Anda akan memberi Anda keuntungan dengan langsung dibebaskan."
Yang mengejutkan, mereka mendengar satu kalimat respons salah satu tahanan yang berbicara dengan tenang: "Kami tidak lagi ingin dibebaskan."
Perdebatan pun muncul di antara para peneliti dan pasukan militer yang mendanai penelitian. Mereka tidak dapat memancing respons lagi menggunakan interkom, akhirnya diputuskan untuk membuka kamar pada tengah malam pada hari kelima belas.
Ruangan itu memerah oleh gas stimulan, tetapi segera setelahnya, udara pun kembali bersih setelah diisi dengan udara segar. Tiba-tiba suara-suara dari mikrofon mulai mengajukan keberatan. Tiga suara yang berbeda mulai mengemis, seolah memohon untuk dihidupkannya kembali gas stimulan. Ruangan itu dibuka dan tentara dikirim masuk ke dalam. Mereka mulai berteriak lebih keras dari sebelumnya, dan begitu pula para prajurit ketika mereka melihat apa yang ada di dalamnya. Empat dari lima subjek masih hidup, meskipun tidak bisa disebut hidup seutuhnya.
Selama lima hari ini, makanan yang disuguhkan tidak disentuh sama sekali. Ada potongan-potongan daging dari paha dan dada tahanan yang mati dijejalkan ke selokan di tengah ruangan, menghalangi selokan dan membiarkan empat inci air menggenangi lantai, air yang bercampur dengan darah. Keempat tahanan yang masih hidup juga memiliki koyakan di sebagian besar otot dan kulitnya. Daging dan tulang yang hancur berada di sekitar ujung jari mereka, mengindikasikan bahwa luka itu ditimbulkan oleh tangan, bukan dengan gigi seperti yang dipikirkan oleh para peneliti. Pemeriksaan yang lebih rinci menunjukkan bahwa sebagian besar luka-luka itu disebabkan oleh diri mereka sendiri.
Organ perut di bawah tulang rusuk dari keempat tahanan itu telah diangkat. Sementara jantung, paru-paru dan diafragma tetap di tempatnya. Kulit dan sebagian besar otot yang melekat pada tulang rusuk telah terkelupas, memperlihatkan paru-paru melalui tulang rusuknya. Semua pembuluh darah dan organ tetap utuh. Beberapa bagian tubuhnya itu baru saja diambil dan diletakkan di lantai, mengepul di sekitar tubuh tahanan yang dikeluarkan namun masih hidup. Saluran pencernaan keempat orang itu bisa dilihat, berfungsi dan dapat mencerna makanan. Dapat disimpulkan dengan cepat bahwa apa yang mereka cerna adalah daging mereka sendiri yang telah mereka ambil dan makan selama berhari-hari.
Sebagian besar prajurit yang terlibat dan berada di dalam fasilitas itu adalah prajurit khusus Rusia yang terlatih, tetapi masih banyak yang menolak untuk kembali ke kamar itu dan mengeluarkan para tahanan. Mereka terus berteriak agar ditinggalkan di kamar itu dan bergantian memohon dan menuntut agar gas dinyalakan kembali, supaya mereka tidak tertidur.
Yang mengejutkan semua orang, para tahanan melakukan perlawanan sengit demi tidak dikeluarkan dari kamar. Salah satu tentara Rusia tewas karena tenggorokannya robek, yang lain terluka parah karena testisnya robek dan arteri di kakinya terputus oleh salah satu gigi tahanan. Lima tentara lainnya kehilangan nyawa jika tentara yang bunuh diri pada minggu-minggu setelah insiden tersebut masuk hitungan.
Dalam pergulatan itu, salah satu dari empat tahanan yang masih hidup mengalami pendarahan hebat. Para peneliti medis berusaha membiusnya tetapi mustahil. Dia disuntik dengan lebih dari sepuluh kali dosis manusia normal dan masih bisa meronta-ronta seperti binatang yang terpojok, mematahkan tulang rusuk dan lengan seorang dokter. Jantungnya terlihat berdetak selama dua menit penuh setelah dia mengalami pendarahan itu, dan ada lebih banyak udara dalam sistem pembuluh darahnya daripada darahnya itu sendiri. Bahkan setelah jantungnya berhenti pun, dia terus berteriak dan meronta-ronta selama tiga menit, berjuang untuk menyerang siapa pun dalam jangkauannya dan hanya mengulangi kata "More!" berulang-ulang, semakin lemah dan semakin lemah, sampai akhirnya dia terdiam.
Tiga tahanan yang masih hidup ditahan dengan ketat dan dipindahkan ke fasilitas medis. Dua orang yang masih memiliki pita suara yang utuh terus-menerus memohon agar gas yang dimintanya itu tetap diberikan.
Yang mengejutkan, mereka mendengar satu kalimat respons salah satu tahanan yang berbicara dengan tenang: "Kami tidak lagi ingin dibebaskan."
Perdebatan pun muncul di antara para peneliti dan pasukan militer yang mendanai penelitian. Mereka tidak dapat memancing respons lagi menggunakan interkom, akhirnya diputuskan untuk membuka kamar pada tengah malam pada hari kelima belas.
Ruangan itu memerah oleh gas stimulan, tetapi segera setelahnya, udara pun kembali bersih setelah diisi dengan udara segar. Tiba-tiba suara-suara dari mikrofon mulai mengajukan keberatan. Tiga suara yang berbeda mulai mengemis, seolah memohon untuk dihidupkannya kembali gas stimulan. Ruangan itu dibuka dan tentara dikirim masuk ke dalam. Mereka mulai berteriak lebih keras dari sebelumnya, dan begitu pula para prajurit ketika mereka melihat apa yang ada di dalamnya. Empat dari lima subjek masih hidup, meskipun tidak bisa disebut hidup seutuhnya.
Selama lima hari ini, makanan yang disuguhkan tidak disentuh sama sekali. Ada potongan-potongan daging dari paha dan dada tahanan yang mati dijejalkan ke selokan di tengah ruangan, menghalangi selokan dan membiarkan empat inci air menggenangi lantai, air yang bercampur dengan darah. Keempat tahanan yang masih hidup juga memiliki koyakan di sebagian besar otot dan kulitnya. Daging dan tulang yang hancur berada di sekitar ujung jari mereka, mengindikasikan bahwa luka itu ditimbulkan oleh tangan, bukan dengan gigi seperti yang dipikirkan oleh para peneliti. Pemeriksaan yang lebih rinci menunjukkan bahwa sebagian besar luka-luka itu disebabkan oleh diri mereka sendiri.
Organ perut di bawah tulang rusuk dari keempat tahanan itu telah diangkat. Sementara jantung, paru-paru dan diafragma tetap di tempatnya. Kulit dan sebagian besar otot yang melekat pada tulang rusuk telah terkelupas, memperlihatkan paru-paru melalui tulang rusuknya. Semua pembuluh darah dan organ tetap utuh. Beberapa bagian tubuhnya itu baru saja diambil dan diletakkan di lantai, mengepul di sekitar tubuh tahanan yang dikeluarkan namun masih hidup. Saluran pencernaan keempat orang itu bisa dilihat, berfungsi dan dapat mencerna makanan. Dapat disimpulkan dengan cepat bahwa apa yang mereka cerna adalah daging mereka sendiri yang telah mereka ambil dan makan selama berhari-hari.
Sebagian besar prajurit yang terlibat dan berada di dalam fasilitas itu adalah prajurit khusus Rusia yang terlatih, tetapi masih banyak yang menolak untuk kembali ke kamar itu dan mengeluarkan para tahanan. Mereka terus berteriak agar ditinggalkan di kamar itu dan bergantian memohon dan menuntut agar gas dinyalakan kembali, supaya mereka tidak tertidur.
Yang mengejutkan semua orang, para tahanan melakukan perlawanan sengit demi tidak dikeluarkan dari kamar. Salah satu tentara Rusia tewas karena tenggorokannya robek, yang lain terluka parah karena testisnya robek dan arteri di kakinya terputus oleh salah satu gigi tahanan. Lima tentara lainnya kehilangan nyawa jika tentara yang bunuh diri pada minggu-minggu setelah insiden tersebut masuk hitungan.
Dalam pergulatan itu, salah satu dari empat tahanan yang masih hidup mengalami pendarahan hebat. Para peneliti medis berusaha membiusnya tetapi mustahil. Dia disuntik dengan lebih dari sepuluh kali dosis manusia normal dan masih bisa meronta-ronta seperti binatang yang terpojok, mematahkan tulang rusuk dan lengan seorang dokter. Jantungnya terlihat berdetak selama dua menit penuh setelah dia mengalami pendarahan itu, dan ada lebih banyak udara dalam sistem pembuluh darahnya daripada darahnya itu sendiri. Bahkan setelah jantungnya berhenti pun, dia terus berteriak dan meronta-ronta selama tiga menit, berjuang untuk menyerang siapa pun dalam jangkauannya dan hanya mengulangi kata "More!" berulang-ulang, semakin lemah dan semakin lemah, sampai akhirnya dia terdiam.
Tiga tahanan yang masih hidup ditahan dengan ketat dan dipindahkan ke fasilitas medis. Dua orang yang masih memiliki pita suara yang utuh terus-menerus memohon agar gas yang dimintanya itu tetap diberikan.
Yang paling terluka dari ketiganya dibawa ke satu-satunya ruang operasi bedah yang dimiliki fasilitas itu. Dalam proses persiapan untuk menempatkan kembali organ-organnya kembali ke dalam tubuhnya, ditemukan bahwa tahanan itu secara efektif kebal terhadap obat penenang yang telah mereka berikan kepadanya untuk menjalani operasi. Dia berjuang keras melawan ketika anestesi yang ada mulai habis. Dia berhasil merobek sebagian besar kulitnya selebar empat inci pada satu pergelangan tangannya, bahkan dengan seorang prajurit seberat 200 pon yang memegang pergelangan tangannya itu.
Hanya butuh sedikit obat bius dari biasanya untuk menenangkannya dan begitu kelopak matanya tertutup, jantungnya berhenti berdetak. Dari hasil otopsi, ditemukan bahwa darahnya memiliki tiga kali lipat tingkat oksigen yang normal. Otot-ototnya yang masih melekat pada tulangnya sobek parah dan dia telah mematahkan sembilan tulang dalam usahanya untuk tidak ditundukkan. Sebagian besar dari mereka berasal dari kekuatan yang otot-ototnya berikan pada mereka.
Sisa tahanan yang selamat mulai berteriak. Pita suaranya hancur, jadi dia tidak bisa memohon atau keberatan untuk operasi, dan dia hanya bereaksi dengan menggelengkan kepalanya dengan keras dalam ketidaksetujuannya ketika anestesi didekatkan kepadanya. Dia menggelengkan kepalanya ketika seseorang menyarankan, dengan enggan, mereka mencoba melakukan operasi tanpa anestesi. Tahanan itu tidak bereaksi selama enam jam, seluruh prosedur untuk mengganti organ perutnya telah dilaksanakan dan para peneliti ini berusaha untuk menutupinya dengan apa yang tersisa dari kulitnya. Ketua ahli bedah menyatakan berulang kali bahwa secara medis pasien mungkin masih hidup. Seorang perawat yang ketakutan menyatakan bahwa dia telah melihat mulut pasien itu tersenyum beberapa kali setiap kali matanya bertemu.
Ketika operasi berakhir, tahanan itu melihat ke ahli bedah dan mulai mengigau dengan keras, berusaha untuk berbicara sambil meronta-ronta. Para peneliti berasumsi, pasti ada sesuatu yang sangat penting untuk dikatakan. Maka, ahli bedah mengambil pulpen dan bantalan agar pasien dapat menulis pesannya. Sederhana saja, dia menulis, "Teruslah memotong."
Dua tahanan lainnya diberi operasi yang sama, keduanya dilakukan tanpa anestesi juga. Meskipun mereka harus disuntik hingga lumpuh selama operasi, dokter bedah mendapati tidak mungkin untuk melakukan operasi sementara pasien tertawa terus menerus. Setelah lumpuh, subjek hanya bisa melihat peneliti yang hadir dengan mata mereka. Kelumpuhan membersihkan sistem tubuh mereka dalam waktu singkat yang tidak normal dan mereka segera berusaha melepaskan diri dari ikatan. Saat mereka dapat berbicara, mereka kembali meminta gas stimulan. Para peneliti mencoba bertanya mengapa mereka melukai diri mereka sendiri, mengapa mereka merobek nyali mereka sendiri dan mengapa mereka ingin diberi gas lagi.
Hanya satu tanggapan yang diberikan, "Saya harus tetap terjaga."
Pengekangan ketiga tahanan diperkuat dan mereka ditempatkan kembali ke dalam kamar menunggu keputusan tentang apa yang harus dilakukan terhadapnya. Para peneliti dimarahi habis-habisan oleh pihak militer karena telah gagal mencapai tujuan proyek mereka, yang dianggap membunuh tahanan yang masih hidup. Petinggi militer ingin melihat apa yang akan terjadi jika mereka dimasukkan kembali ke dalam ruang gas. Para peneliti sangat menentangnya, tetapi tidak digubris olehnya.
Dalam persiapan untuk penyegelan kembali di dalam ruangan lagi, tahanan dihubungkan ke monitor dan bantalannya dikunci untuk kurungan jangka panjang. Yang mengejutkan semua orang, ketiganya berhenti melawan pada saat mereka menghirup kembali ke gas itu. Jelas bahwa pada titik ini ketiganya berusaha keras untuk tetap terjaga.
Salah satu tahanan yang bisa berbicara, terus bersenandung dengan keras. Tahanan yang bisu mengencangkan kakinya dengan sekuat tenaga: pertama kiri, lalu kanan, lalu yang kiri. Subjek yang tersisa memegang kepalanya diselimuti bantal dan berkedip cepat. Setelah terhubung ke layar monitor, sebagian besar peneliti memantau gelombang otaknya dengan terkejut. Gelombang oraknya normal di sebagian besar waktu tetapi kadang-kadang datar berjajar yang aneh dan tak dapat dijelaskan. Sepertinya, otaknya mengalami kematian beberapa kali, sebelum kembali normal. Ketika para peneliti fokus pada kertas yang keluar dari monitor hasil pemindaian gelombang otak, hanya satu perawat yang melihat matanya terpejam pada saat yang sama kepalanya mengenai bantal. Gelombang otaknya segera berubah menjadi tidur nyenyak, lalu datar untuk terakhir kalinya ketika jantungnya serentak berhenti.
Satu-satunya subjek yang tersisa yang bisa berbicara mulai berteriak kembali. Gelombang otaknya menunjukkan garis datar yang sama dengan seseorang yang baru saja meninggal karena tertidur. Petinggi dari pihak militer memberi perintah untuk menutup ruangan dengan kedua subjek di dalamnya, serta tiga peneliti.
Salah satu dari tiga orang yang disebutkan itu segera mengeluarkan senjatanya dan menembak komandan itu dengan mata kosong, kemudian mengarahkan senjatanya pada tahanan bisu dan meledakkan otaknya juga. Dia mengarahkan senjatanya ke satu-satunya tahanan yang tersisa, yang masih tertahan di ranjang ketika anggota tim medis dan peneliti yang tersisa melarikan diri. "Aku tidak akan terkunci di sini dengan semua hal ini! Tidak denganmu!" Dia berteriak pada pria yang diikat di meja. "Siapa kamu?" Dia meminta. "Aku harus tahu!"
Hanya butuh sedikit obat bius dari biasanya untuk menenangkannya dan begitu kelopak matanya tertutup, jantungnya berhenti berdetak. Dari hasil otopsi, ditemukan bahwa darahnya memiliki tiga kali lipat tingkat oksigen yang normal. Otot-ototnya yang masih melekat pada tulangnya sobek parah dan dia telah mematahkan sembilan tulang dalam usahanya untuk tidak ditundukkan. Sebagian besar dari mereka berasal dari kekuatan yang otot-ototnya berikan pada mereka.
Sisa tahanan yang selamat mulai berteriak. Pita suaranya hancur, jadi dia tidak bisa memohon atau keberatan untuk operasi, dan dia hanya bereaksi dengan menggelengkan kepalanya dengan keras dalam ketidaksetujuannya ketika anestesi didekatkan kepadanya. Dia menggelengkan kepalanya ketika seseorang menyarankan, dengan enggan, mereka mencoba melakukan operasi tanpa anestesi. Tahanan itu tidak bereaksi selama enam jam, seluruh prosedur untuk mengganti organ perutnya telah dilaksanakan dan para peneliti ini berusaha untuk menutupinya dengan apa yang tersisa dari kulitnya. Ketua ahli bedah menyatakan berulang kali bahwa secara medis pasien mungkin masih hidup. Seorang perawat yang ketakutan menyatakan bahwa dia telah melihat mulut pasien itu tersenyum beberapa kali setiap kali matanya bertemu.
Ketika operasi berakhir, tahanan itu melihat ke ahli bedah dan mulai mengigau dengan keras, berusaha untuk berbicara sambil meronta-ronta. Para peneliti berasumsi, pasti ada sesuatu yang sangat penting untuk dikatakan. Maka, ahli bedah mengambil pulpen dan bantalan agar pasien dapat menulis pesannya. Sederhana saja, dia menulis, "Teruslah memotong."
Dua tahanan lainnya diberi operasi yang sama, keduanya dilakukan tanpa anestesi juga. Meskipun mereka harus disuntik hingga lumpuh selama operasi, dokter bedah mendapati tidak mungkin untuk melakukan operasi sementara pasien tertawa terus menerus. Setelah lumpuh, subjek hanya bisa melihat peneliti yang hadir dengan mata mereka. Kelumpuhan membersihkan sistem tubuh mereka dalam waktu singkat yang tidak normal dan mereka segera berusaha melepaskan diri dari ikatan. Saat mereka dapat berbicara, mereka kembali meminta gas stimulan. Para peneliti mencoba bertanya mengapa mereka melukai diri mereka sendiri, mengapa mereka merobek nyali mereka sendiri dan mengapa mereka ingin diberi gas lagi.
Hanya satu tanggapan yang diberikan, "Saya harus tetap terjaga."
Pengekangan ketiga tahanan diperkuat dan mereka ditempatkan kembali ke dalam kamar menunggu keputusan tentang apa yang harus dilakukan terhadapnya. Para peneliti dimarahi habis-habisan oleh pihak militer karena telah gagal mencapai tujuan proyek mereka, yang dianggap membunuh tahanan yang masih hidup. Petinggi militer ingin melihat apa yang akan terjadi jika mereka dimasukkan kembali ke dalam ruang gas. Para peneliti sangat menentangnya, tetapi tidak digubris olehnya.
Dalam persiapan untuk penyegelan kembali di dalam ruangan lagi, tahanan dihubungkan ke monitor dan bantalannya dikunci untuk kurungan jangka panjang. Yang mengejutkan semua orang, ketiganya berhenti melawan pada saat mereka menghirup kembali ke gas itu. Jelas bahwa pada titik ini ketiganya berusaha keras untuk tetap terjaga.
Salah satu tahanan yang bisa berbicara, terus bersenandung dengan keras. Tahanan yang bisu mengencangkan kakinya dengan sekuat tenaga: pertama kiri, lalu kanan, lalu yang kiri. Subjek yang tersisa memegang kepalanya diselimuti bantal dan berkedip cepat. Setelah terhubung ke layar monitor, sebagian besar peneliti memantau gelombang otaknya dengan terkejut. Gelombang oraknya normal di sebagian besar waktu tetapi kadang-kadang datar berjajar yang aneh dan tak dapat dijelaskan. Sepertinya, otaknya mengalami kematian beberapa kali, sebelum kembali normal. Ketika para peneliti fokus pada kertas yang keluar dari monitor hasil pemindaian gelombang otak, hanya satu perawat yang melihat matanya terpejam pada saat yang sama kepalanya mengenai bantal. Gelombang otaknya segera berubah menjadi tidur nyenyak, lalu datar untuk terakhir kalinya ketika jantungnya serentak berhenti.
Satu-satunya subjek yang tersisa yang bisa berbicara mulai berteriak kembali. Gelombang otaknya menunjukkan garis datar yang sama dengan seseorang yang baru saja meninggal karena tertidur. Petinggi dari pihak militer memberi perintah untuk menutup ruangan dengan kedua subjek di dalamnya, serta tiga peneliti.
Salah satu dari tiga orang yang disebutkan itu segera mengeluarkan senjatanya dan menembak komandan itu dengan mata kosong, kemudian mengarahkan senjatanya pada tahanan bisu dan meledakkan otaknya juga. Dia mengarahkan senjatanya ke satu-satunya tahanan yang tersisa, yang masih tertahan di ranjang ketika anggota tim medis dan peneliti yang tersisa melarikan diri. "Aku tidak akan terkunci di sini dengan semua hal ini! Tidak denganmu!" Dia berteriak pada pria yang diikat di meja. "Siapa kamu?" Dia meminta. "Aku harus tahu!"
Tahanan itu tersenyum.
"Apakah kamu sudah lupa begitu mudah?" Tahanan itu bertanya. "Kami adalah kamu. Kami adalah kegilaan yang bersembunyi di dalam diri kalian semua, memohon untuk bebas setiap saat dalam pikiran hewan terdalammu. Kami adalah apa yang kamu sembunyikan di tempat tidurmu setiap malam. Kami adalah apa yang menenangkanmu dalam keheningan dan kelumpuhan ketika kamu pergi ke surga malam di mana kami tidak bisa melangkah. "
Peneliti itu berhenti. Kemudian diarahkan ke jantung tahanan dan meletuskan tembakan. Layar monitor menampilkan garis datar saat tahanan terakhir dengan lemah tersedak, "Aku bebas."
"Apakah kamu sudah lupa begitu mudah?" Tahanan itu bertanya. "Kami adalah kamu. Kami adalah kegilaan yang bersembunyi di dalam diri kalian semua, memohon untuk bebas setiap saat dalam pikiran hewan terdalammu. Kami adalah apa yang kamu sembunyikan di tempat tidurmu setiap malam. Kami adalah apa yang menenangkanmu dalam keheningan dan kelumpuhan ketika kamu pergi ke surga malam di mana kami tidak bisa melangkah. "
Peneliti itu berhenti. Kemudian diarahkan ke jantung tahanan dan meletuskan tembakan. Layar monitor menampilkan garis datar saat tahanan terakhir dengan lemah tersedak, "Aku bebas."
Penutup
Sangat menyeramkan. Cerita yang konon merupakan kisah nyata ini melegenda, bahkan terkenal di seantero dunia. Apakah kamu percaya atau tidak? Yang pasti, menyeramkan jika seseorang tidak bisa tidur berhari-hari lamanya. Tentu akan muncul ilusi-ilusi dan bayangan yang membuatnya seolah hidup di alam lain yang berbeda, biasanya orang menyebutnya dengan istilah insomnia.
Sumber: creepypasta.fandom.com, www.news.com.au, headcramp.boredomtherapy.com



Posting Komentar