Gundala dan Ajian Rawarontek

Sudah menonton film Gundala, belum? Film tersebut sudah tayang sejak akhir bulan lalu. Antusias para penonton terlihat dari penuhnya bangku bioskop ketika saya menontonnya minggu lalu. Tentu saja, sejak terakhir hype film Marvel berjudul Avengers: End Game, penonton Indonesia pun membayangkan dan menerka apakah ada pahlawan-pahlawan asli Indonesia. Sebagian dari kita mungkin sudah mengetahui film Gundala yang perdana tayang pada tahun 1981. Film ini mengangkat cerita pahlawan super dari komik karya Hasmi.

Tapi, saya tidak akan bercerita lebih jauh tentang film Gundala dan jalan ceritanya. Ada baiknya menonton sendiri saja di bioskop terdekat supaya bisa merasakan sendiri keseruannya. Walaupun memang tidak sempurna, tetapi sangat direkomendasikan untuk ditonton (mungkin karena saya penggemar berat garis keras Joko Anwar, haha).

Saya tertarik membahas adegan terakhir di film itu, ketika Ki Wilawuk bangkit dari tidur panjangnya. Yang membangkitkannya adalah Ghani Zulham (serta dibantu oleh Gundala sendiri).

Bagaimana caranya, lihatlah saja di filmnya, ya. Ki Wilawuk adalah tokoh jahat yang memiliki ilmu hitam. Tubuh dan kepalanya terpisah. Orang mengenal ilmu hitam ini dengan sebutan Rawarontek atau ada juga yang menyebutnya Pancasona. Ilmu apa itu sebenarnya?

Mengenal Rawarontek dan Pancasona

Secara bahasa, Rawarontek bermakna kepala putus. Ilmu ini sangat sakti, meskipun ada harga yang harus dibayar mahal. Ilmu Rawarontek membuat pengamalnya kebal. Selain itu, mampu menyerap tenaga lawan bahkah bisa tiba-tiba menghilang begitu saja. Tetapi penggunanya tidak diperbolehkan menikah sampai meninggal.

Photo by freestocks.org on Unsplash

Pengamal ilmu hitam Rawarontek bisa kebal terhadap senjata api, senjata tajam dan ilmu sihir. Seorang dengan ajian ini hanya akan mati jika tubuhnya dipisah menyeberang sungai dan digantung agar tidak menyentuh tanah. Jika jasadnya menyentuh tanah, bagian-bagian tubuh tersebut dapat kembali bersatu, dan orang yang memiliki ajian ini bisa hidup lagi. 

Efek sampingnya, di dalam tubuh pengamalnya akan ada hawa yang sangat panas. Akibatnya, emosi pengamal menjadi tidak stabil, mudah marah, brutal dan anarkis. Konon, hawa panas ini berasal dari makhluk gaib yang mendiami jiwanya. Selain itu, setelah mati, pengamal ilmu ini akan menerima kutukan. Kutukannya adalah tubuh pengamal akan mengecil. Mirip dengan jenglot, lah.

Meskipun Rawarontek sakti luar biasa, bukan berarti tak benar-benar bisa dikalahkan. Menurut orang-orang zaman dulu, cara mengalahkan pengamal Rawarontek adalah dengan menggantungnya di atas sebuah pohon. Mengapa? Nah, tanah adalah kekuatan terbesar para pemilik Rawarontek. Misalnya ia terluka dan kakinya masih menapak tanah, maka pemilik Rawarontek akan mampu mengeluarkan kesaktiannya. Namun, ketika ia dilukai atau dibunuh sedangkan kakinya tak menginjak tanah, maka mereka akan mati.

Berbeda dengan ajian Pancasona. Ajian Pancasona ini merupakan versi ilmu putih dari Rawarontek. Pengamal ajian Pancasona apabila terkena senjata, maka lukanya akan menghilang dengan seketika. Bila badannya terbelah, maka akan tersambung kembali seperti semula. Ilmu ini lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan Rawarontek, serta tidak membawa hawa panas di dalam tubuh pengamalnya. Pancasona sendiri berarti lima tempat. Ilmu ini datang dari lima tempat berbeda; langit, bumi, gunung, samudera dan surga.

Pendapat lain mengatakan bahwa ilmu Rawarontek adalah ilmu yang suci, bukan ilmu hitam seperti kebanyakan orang mengetahuinya. Alasannya karena cerita sejarah, pada zaman kerajaan dahulu. Mari saya ceritakan kembali kisahnya, dikutip dari sini.

Kisah Awal Mula Rawa Rontek

Di Kerajaan Medang Kamulyan, terjadi pemberontakan. Pihak kerajaan kesulitan menghadang para pemberontak. Saat itu, petinggi merasa bingung karena ternyata kekuatan para pemberontak sangat besar. Raja merasa sedih melihat rakyatnya dibantai, prajuritnya pun banyak yang meninggal selama perang.

Di dalam hati, Raja memohon lirih, ”Wahai Tuhanku, apa kesalahan hambamu ini. Hamba tak pernah berbuat kejam apalagi membunuh orang. Hamba selalu hidup dengan menebar benih-benih kasih sayang. Kali ini hamba bertemu para pemberontak dan penjajah yang benar-benar kejam hingga rakyat dan prajuritku banyak yang mati dengan tubuh tanpa kepala dan kaki serta tangan ikut pula terputus. Bahkan para senopati-senopatiku tubuhnya hancur lebur oleh kesaktian para pemberontak. Apa yang harus hamba lakukan sedangkan kemampuan dan kesaktian hamba seolah tak mampu menandingi pimpinan pemberontak."

Photo by Balaji Malliswamy on Unsplash

Tak lama kemudian, cahaya putih kemilau hadir di depan Raja dan berkata dengan lembut, "Janganlah bersedih hati, wahai hamba yang baik hati. Untuk menghadapi musuh-musuhmu, akan saya perkenankan ilmu yang tidak ada tandingannya, bahkan kamu bisa hidup seribu tahun ataupun lebih terserah keinginanmu. Ilmu ini saya berikan dengan dua tahapan: Rawarontek dan Pancasona." 

Kedua ilmu ini telah menyatu dalam darah dan tubuh Raja, serta seluruh ruang dan waktu yang menyelimutinya. Suara itu berbicara kembali, "Pergunakan ilmumu untuk menolong kaum yang tertindas. Jangan pernah menyerang musuh jika kamu belum diserang. Namun, jika tindakan musuhmu melampaui batas, maka musnahkanlah. Saya akan melindungimu dan menyelamatkanmu tanpa pernah kamu mengetahuiku.”

Setelah mendapat wangsit tersebut, Raja bertapa selama 40 hari 40 malam di dalam gua. Istri dan kerabatnya serta sisa prajuritnya diungsikan ketempat yang lebih aman. Sebab, Istana Kerajaan Medang Kamulyan telah diambil alih oleh para pemberontak. Di sana, banyak rakyat yang dijadikan budak yang siap dibantai serta para perempuan yang diperkosa hingga tewas mengenaskan.

Pertapaannya selesai tepat di hari ke-40. Raja Kamulyan akhirnya mendapat ajian Rawarontek dan Pancasona dengan sempurna. Dia bergegas menemui istri, kerabat dan sisa pasukannya untuk menyusun kekuatan sehingga bisa mengambil kembali kendali kerajaan.

Photo by Vincentiu Solomon on Unsplash

Hanya dalam satu malam, seluruh pasukan pemberontak dikalahkan. Tidak ada perlawanan berarti dari para pemberontak, mudah sekali dikalahkan oleh Raja. Seketika nama Raja langsung terkenal di seluruh dunia karena kesaktiannya ini. Hal ini pun menjadi inspirasi bagi raja-raja lain pada saat itu untuk menerapkan hukum kasih sayang dan kedamaian tanpa ada hukum yang kejam dan radikal sehingga terciptalah dunia yang indah dan damai.

Penutup

Kesaktian ilmu Rawarontek memang hebat. Hanya saja, apakah memang benar adanya? Ya, kita tak perlu mengikuti atau mengamalkan hal-hal seperti ini. Berurusan dengan dunia gaib, terutama ilmu hitam, resikonya terlalu besar. Lebih baik, kita saksikan saja film kedua dari serial Bumilangit Cinematics Universe (BCU) ini dengan kemungkinan lakon Gundala melawan Ki Wilawuk. Seru enggak, tuh!

Mari kita tutup saja tulisan ini dengan pupuh Pangkur Wedhatama. Kekerane ngelmu karang, kekarangan saking bangsaning gaib, iku boreh paminipun, tan rumasuk ing jasad, amung aneng sajabaning dagng kulup, yen kapengok pancabaya, ubayane mbalenjani.

Sumberwww.merdeka.com, www.wakidyusuf.wordpress.com, www.suaramerdeka.com, www.boombastis.com, bumilangit.com, berberita.com, kerisku.id

Posting Komentar