Cerita Pendek Sayap-Sayap Nephilim

Cerita pendek ini saya tulis di tahun 2014 lalu, enam tahun lalu. Meski begitu, cerita ini sangat seru untuk disimak, terutama bagi para pecinta angelologi. Penasaran? Simak cerita berikut ini, ya.

***

Aku berdiri di depan cermin besar yang teronggok tak terurus di kamar ibu. Memandang jauh ke kedalaman prasangka tentang diriku dan yang berada di sekelilingku. Aku melihat cahaya kecil pernah berpijar menyalak-nyalak di mataku, tapi seakan redup sekarang. Tubuhku yang tinggi besar tak pernah terlihat lebih kerdil seperti ini, seakan cermin ini memiliki kuasa rahasia yang dengannya bisa mengubah tinggi badan seseorang, sesukanya.

Aku memandang sekeliling, menjamah setiap sudut kamar ibu dengan mataku yang nanar dan sayu. Ibu pernah berkata suatu waktu, di antara lembayung dan cahaya yang membias segala penjuru, di senja paling hangat tahun lalu, “Lelaki malaikat tak boleh menangis, Kian. Langit akan bergetar nanti. Kau tak ingin tiba-tiba langit rubuh dan menimpa rumah kita satu-satunya ini, kan, anakku?”. Ibu terkekeh kecil diikuti dengan senyuman polosku kala itu, dan kemudian kami bersama-sama menyaksikan langit yang menenggelamkan matahari. Tiba-tiba aku merasa ibu memancarkan cahaya paling hangat, mungkin karena tidak ada matahari lain yang memancarkan cahaya sehangat ibu.

Photo by Ramazan Tokay on Unsplash

Senja itu adalah senja terakhir yang paling hangat aku nikmati bersama ibu. Setelahnya, ibu jatuh sakit, lama sekali. Jika bisa, aku ingin mengabadikan kehangatan kala itu di secangkir kopi dengan serbuk-serbuk gula dan krimer putih pada permukaannya yang rapuh. Lalu aku hirup dalam-dalam aromanya hingga menjalar ke segala tubuh. Tak akan aku minum barang setetes, memangnya siapa yang rela menghabiskan kenangan tentang kehangatan senja dan sosok ibu yang meluruh. Tiba-tiba sosok ibu demikian sesak di dadaku, aku kini sendirian.

Berbeda dengan ibu, aku tak pernah mengenal sosok ayah. Ayah pergi sejak aku dilahirkan. Ibu mengatakan, ayah adalah jenderal perang yang menunggangi kuda putih dengan gagah perkasa dan tanpa tandingan. Ia mengalahkan banyak musuk dengan tebasan dan busur panah, sungguh, pada pundaknya tak pernah ia menangguhkan rasa lelah. Empat sayap mengepak tumbuh di punggungnya. Warnanya suci, lembut, dan penuh rahasia—rahasia karena ibu tak pernah benar-benar melihatnya.

Jelas aku tak mempercayai Ibu, seperti aku tak mempercayai pandangan orang-orang di luar rumah tentang aku. Mata yang sinis sekaligus ketakutan, laksana badai-badai laut yang mengombang-ambing keberadaan, mengusirku dari keramaian, lantas mendamparkanku untuk kemudian berdiam diri di batas hutan. Hingga kemudian Ibu menghadiahiku bulu sayap di usiaku yang ketujuhbelas. Aku kira sayap angsa, sebab putihnya yang pudar mengingatkanku akan kecantikan kepak sayap angsa di landai sungai. Tapi bukan, kata ibu. Ini adalah bulu dari sayap ayah yang sengaja ditinggalkan ayah untuk menemani ibu di sini, bersamaku. Dan aku kemudian memilih percaya.

Bulu sayap itu aku genggam sekarang. Rencananya, aku akan terbang ke Syurga, menemui ayah. Tapi aku tak tahu caranya terbang. Iya, tiba-tiba aku sadar, aku terlahir tanpa sayap malaikat.

/1/

Menarilah, menari bersama ufuk yang
Tenggelam, lagu-lagu malaikat seolah
Berputar-putar mengelilingimu, menadakan
Simponi sendu tentang hikayat dan nubuat
Yang mereka tulis bagimu. Tapi tetaplah
Menari bersama ufuk yang tenggelam
Hingga tak lagi kau dengar, lagu-lagu
Malaikat tentang riwayat kehilanganmu

Nisan itu tegar tertanam di tanah hutan. Bebungaan yang jatuh dari jauh, menyelimutinya pelan-pelan. Sementara angin menyibakkan harum-harum hujan, untuk waktu yang lama, aku tertunduk diam. Tak ada lagi isyarat suara yang menyentuh lembut telinga, hanya hambar suara dari nyanyian orang-orang kota yang berbahagia. Aku tak terkejut jika suaranya sampai ke tempat ini—Ya, ini bukan yang pertama.

Pernah suatu ketika, ketika ayam-ayam hutan masih tertidur, dan bulan masih menjaga pintu rumah dari ular-ular buruk rupa itu, suara-suara meriam terdengar riuh di langit malam. Aku terjaga seketika  cahaya berbagai warna ramai menghiasi sela-sela jendela yang terbuka. Ada perang, aku berpikir ada kericuhan yang tak bisa kumengerti yang sedang terjadi. Dan tentu saja, aku gembira, karena jika langit sedang berperang, aku bisa menemui ayah. Tapi kemudian segalanya menjadi gelap dan hening, perang usai. Padahal aku sedang berlari menyusuri hutan dan belukar liar, dengan harapan ayah bisa membawa serta aku dan ibu menuju Syurga, tempat dimana segala yang ada nampak sempurna. Harapan ini tiap tahun aku jaga, aku lipat hati-hati, dan aku sembunyikan di kedalaman hati yang tak bisa dijangkau manusia. Aku menyimpannya untuk dibaca oleh malaikat, oleh ayahku kelak—Namun tiba-tiba aku cemas, apa malaikat bisa membaca tulisanku?

Aku bangkit dari lamunan, dari peristirahatan panjang ibu yang terakhir, dan dari kehidupanku yang tak lagi menyimpan masa depan. Selesai berdoa (tentu saja aku memiliki keyakinan, bukankah ayahku seorang malaikat yang menyampaikan doa-doa), aku pergi dengan bekal secukupnya. Meninggalkan rumah, meninggalkan segala peristiwa tentang masa lalu yang hilang. Menjauh, menjauh, semakin jauh rumahku semakin kecil terlihat, kemudian samar tertutup dedaunan yang melambaikan pekat.

Photo by ros dagos on Unsplash

Di rendah cahaya rembulan, aku berjalan ke jantung hutan. Mencari rahasia sayap malaikat yang tak terungkapkan. Menjauh dari orang-orang yang mencoba menyiksaku dengan pecutan, racun, api, dan panah-panah dari kayu tua yang mematikan. Mereka tak benar-benar ingin membunuhku sebenarnya, hanya menyuruhku untuk tak membaur bersama mereka. Tubuhku lain, cara hidupku lain, tapi mereka tidak tahu kalau hatiku dan hati mereka terbuat dari perasaan cinta yang sama. Karenanya, aku tak punya seorangpun yang bisa memberitahu kemana aku harus belajar terbang. Aku berjalan semakin ke dalam hutan, dan secara bersamaan, perasaanku semakin tak keruan. Ada semacan firasat tak enak menyeruak di seisi tubuh dan detak jantung. Tiba-tiba dari arah belakang, puluhan cahaya bergerak cepat dengan dibarengi oleh teriakan-teriakan kemarahan. Aku sadar harus lebih cepat berjalan, entah bagaimana aku tahu, mereka mengincarku, sepertinya selama ini aku salah beranggapan. Mereka mengincar kematianku.

/2/

“Kau yakin bulu itu milik malaikat?” ujar salah seorang yang membawa lentera.

“Aku yakin benar, aku melihatnya sendiri ketika aku mencari kayu di pinggiran hutan dekat rumahnya itu.” ujar seorang lain yang mencengkeram busur panah dengan kuatnya. “Ibunya yang meninggal beberapa hari lalu, pernah memberikan ia bulu, seperti bulu angsa, tapi kau tahu, bulu itu bersinar terang dan cahayanya menenangkanku untuk beberapa saat.”

“Ini perburuan paling hebat dalam sejarah. Siapa yang melakukan hal yang sama di dunia ini selain kita.” ujar yang lain menimpali sambil tertawa. “Mari kita rebut bulu sayap itu, dan tahukah kalian, kitalah yang akan pertama kali menemukan malaikat!”

Dengan semangat membara, para pemburu itu mempercepat langkah mereka dan meneriaki namaku. “Kian! Kian! Kian!”

Aku tak tahu kemana harus bersembunyi, karena tubuhku yang hampir tak mungkin tak terlihat karena besarnya. Yang bisa kulakukan hanya berlari menjauh, dan menjauh. Hujan kian lebat, disertai petir yang berkilat-kilat. Jalan di depanku kian tak menentu. Aku berbelok ke kanan, tapi yang ada hanya jurang terjal yang tak berdasar. Aku beralih ke kiri, semak-semak berduri menghalangi jalurku berlari. Nafasku mulai terasa berat. Di saat-saat seperti inilah aku membutuhkan ayah, dan karenanya aku menggenggam bulu sayap ini lebih erat.

“Mengapa kita tak dari dulu saja mengambilnya?” tanya seseorang dengan ikat kepala yang basah kuyup.

“Bodoh, ibunya masih hidup waktu itu. Tidak mungkin kita merebutnya begitu saja dari tangannya, bisa-bisa kita yang nanti celaka.” Dengan setengah berbisik, dia meneruskan, “Kau tak tahu, ya, ibunya dilindungi oleh banyak malaikat penjaga. Dari fajar sampai sore, dan dari sore sampai fajar, tak henti-hentinya malaikat menjaganya. Berbeda dengan dia, anaknya yang seorang Nephilim itu. Tak ada malaikat yang bakal menjaganya, kau tahu.”

Jarak antara orang-orang itu dan aku semakin dekat saja. Aku sudah berusaha sekencang mungkin berlari, tapi karena aku membawa tubuhku yang besar dan bulu malaikat yang harus aku jaga hati-hati, membuatku lamban berlari. Aku mencoba merubuhkan beberapa pohon, supaya memperlambat orang-orang itu mendekatiku. Tapi pepohonan tak henti-hentinya menangis, setiap aku menebangnya. Aku tak tega, maka aku lebih memilih membiarkan orang-orang itu mendekatiku lebih cepat.

Sampai kemudian aku menemui tebing terjal, mendinding tebal di hadapku. Pekikan kemarahan orang-orang di belakangku semakin dekat dan dekat. Aku melihat sekeliling, tak ada gua atau semacamnya. Di sisi-sisi setapak jalan, hanya ada pepohonan dan gelap pandang yang tak ada ujung dan awal, hanya jauh. Hujan masih menyelimuti udara, membuat dingin hela nafas dan tiap-tiap peluh. Sepanjang hidup, baru kali ini aku demikian ketakutan di kesendirian.

Orang-orang mulai datang mendekat ketika hujan yang tak juga reda, menyediakan percikan-percikan di setiap derap larinya. Aku terpojok di dinding batu, menanti orang-orang yang menenteng cahaya-cahaya lentera yang sayu. Nafasku tertahan, dan tubuhku sesaat terpaku.

/3/

“Aku menyesal telah melahirkanmu”. Kata-kata itu seakan memberontak keluar dari dadaku menyeruakkan kenangan tentang ibu. Aku tak tahu mengapa ibu berbicara seperti itu, setengah berbisik ketika dikiranya aku sudah terlelap. Diiringi isak tangis yang tertahan, ibu keluar kamar padahal belum ia mengecup keningku seperti biasanya. Aku yang masih kecil, tak tahu bahwa waktu itu semestinya aku sakit hati. Mungkin tubuhku yang terlalu besar membuat ibu malu, atau kekuatanku yang terlampau kasar membuat ibu malu. Pertanyaan yang hanya bisa dijawab ibu, sayangnya ibu tak mau menjawab setiap kali aku tanyakan. Dia menghindar, menjauh, sampai rasa penasaran dan sakit hatiku perlahan-lahan kulupakan. Aku memang tak normal, fisikku besar bahkan melampaui atap-atap rumah manusia, tapi andai saja ibu tahu bahwa kasih sayangku kepadanya tak pernah cacat dan palsu.

Dan ditengah kerumunan orang-orang yang memburuku, aku menangis atas nama ibu. Jika memang aku harus menyerah, aku menyerah karena kasih sayangku yang tak pernah cacat kepada ibu. Jika memang aku harus kalah, aku kalah karena kasih sayang ibu yang ternoda sebab cacatku yang membuat ibu malu.

“Hahaha, akhirnya kau terpojok juga. Kau tak bisa lari kemana pun.” Seseorang dengan ikat kepala yang basah kuyup tertawa sinis.

“Jadi dimana bulu sayap malaikat itu?” tanya seorang lain yang mencengkeram busur panah dengan kuatnya.

“Kau tak akan pernah mendapatkan apapun dariku, tak akan!” Gelegar suaraku seakan-akan membuat gempa bumi untuk sesaat. Daun-daun merengkuh di rinai hujan, di riuh suara-suara yang tersesat. Aku semakin menggenggam bulu ayahku erat, erat.

“Omong kosong! Hajar Nephilim ini, saudara-saudaraku. Berikan siksaan terbaik kalian, rebut malaikat itu darinya!” teriak salah seorang yang membawa lentera, kemudian teriakan riuh rendah memecah jatuhan hujan dan suara-suaranya yang parau. Aku dalam bahaya besar.

Photo by Krissara Lertnimanorladee on Unsplash

Yang bisa kulakukan adalah menutup mata. Sosok ibu tiba-tiba terbayang dalam gelap pandangku. “Jangan pernah kau berkelahi, Kian anakku. Ayahmu tak pernah suka perpecahan. Sebaiknya kau mengalah saja, atau menjauh dari keramaian. Percayalah, langit akan membantumu bertahan”. Suara ibu sayup-sayup terdengar, dadaku kembali bergetar.

Ketika anak-anak panah hendak dilesakkan, dan tombak serta pedang hendak diayunkan, tiba-tiba langit seperti runtuh, petir menyambar-nyambar, hujan menjadi demikian deras. Air yang tadi hanya genangan, tiba-tiba melebar dan meninggi. Semakin tinggi dan tinggi sehingga cukup untuk membuat orang-orang itu panik dan berhamburan berlari.

“Banjir! Banjir besar datang! Langit marah dan sebentar lagi tumpah!”

“Selamatkan diri kalian!”

“Ini karma Tuhan! Ini karma Tuhan! Tak seharusnya kita mengganggu keturunan malaikat!”

/4/

Hutan dalam sekejap tergenang air hujan yang melaut. Air telah sampai di ketinggian lutut. Pinggang. Dada. Aku mendadak takut. Aku tenggelam, serta merta aku bisa terbang, tanpa sayap. Aku mengambang, melayang, berenang ke pucuk pepohonan, ke puncak tebing yang basah. Tapi air terus menaik, meninggi. Padahal aku sudah teramat lelah.

Aku tak kuat lagi bertahan. Langit tak menolongku, malah membuatku semakin tenggelam. Sampai tiba-tiba dari ujung langit, berlayar bahtera besar yang perkasa. Menyelamatkan manusia-manusia baik yang masih tersisa, hewan-hewan dan tetumbuhan yang masih berjasa. Aku berenang ke sana, berusaha mencapainya. Tapi rasa lelahku seakan menarikku untuk tenggelam lebih dalam. Dan seketika pandangan gelap, aku tak bisa lagi bernafas.

Lama. Lama sekali aku tenggelam. Aku bisa merasakan tubuhku melayang ke dasar bebatuan, ke permukaan hutan di dasar lautan. Meninggalkan cahaya yang ditawarkan langit dan bahtera yang sudah tak lagi berlayar di sekitarku, melewatiku yang terlanjur tenggelam lebih dalam. Kulihat di tanganku, bulu sayap malaikat memancarkan sinar kehangatan, dibuainya aku dalam remang. Melintasi kenangan tentang rumah, kamar ibu, dan cermin besar yang teronggok tak terurus di sudut ruang.

Kurasakan punggungku gatal, seakan sesuatu hendak menyeruak keluar. Rasa sakit tiba-tiba menyerang, membuatku menjerit sampai kerongkongan terasa panas terbakar. Aku sakit, seakan anak-anak panah, pedang, dan senjata tajam yang tadi dibawa oleh orang-orang yang memburuku menyerangku bersamaan. Tak kurasakan hela nafasku yang tersenggal menahan, aku hanya berusaha menggenggam bulu sayap malaikat lebih erat dan tak kubiarkan lepas. Pelan-pelan, aku merasa di punggungku tumbuh sesuatu selembut kapas. Aku mengembangkannya, mengepakkannya, dan tiba-tiba aku terkejut melihat sepasang sayap putih indah menyelimutiku dengan cahaya yang memberkas.

“Mari, nak. Akan kutuntun kau menuju Syurga.”

Suara lembut ini seperti pernah kudengar. Aku memandang sekeliling, dan melihat cahaya dengan empat sayap yang mengepak lembut menenangkan. Ayah!

Aku terbang menujunya. Mengikutinya melayang ke atas, melewati bahtera yang tadi berlayar dengan gagahnya. Seorang suci melihatku sambil tersenyum, tapi aku terus saja melayang mengikuti cahaya itu menuntunku. Sampai aku tidak menyadari, tubuhku yang tergeletak tak bernyawa di dasar lautan, tubuhku yang tergeletak tak bernyawa di dasar kesendirian.


Sumber: Karya Sendiri, Januari 2014

Posting Komentar