Tempat-Tempat Di Mahameru Yang Mengingatkanku Padamu
![]() |
| Photo by Gery Wibowo on Unsplash |
Ranu Kumbolo
Masihkah angin memainkan riak-riak dan
Gelombang, seperti saat aku mulai tahu bagaimana
Menciptakan langit dan awan-awan putihnya
Yang beradu, seperti saat aku mulai tahu
Bagaimana cara terbaik untuk mencintaimu?
Oro-Oro Ombo
Senyummu lambai ilalang, dijadikannya
Angin itu lebur dan matahari itu bayang-bayang
Senyummu lambai ilalang, tumbuh di sepanjang
Sisi jalan--bolehkah kupinjam sepetik
Lantas kuselipkan di sela-sela hatiku yang
Telah lama kau tinggalkan?
Kalimati
Sengaja kuciptakan gugus-gugus bintang di
Kalimati, kubayangkan seolah serbuk-serbuk
Edelweis yang kautiupkan di depanku
Seolah butir-butir airmata yang kau teteskan waktu itu
Arcopodo
Aku ingin menjadi jurang-jurang yang terjal
Dan berbatu, biar tak mudah kau
Menaklukkanku, aku ingin menjadi setiup
Dingin yang membeku di tubuhmu, biar
Tak cepat-cepat lekas kau pergi meninggalkanku
Kwatrin Malioboro
Di sepanjang jalan, hanya ada kertas-kertas
Koran yang beterbangan, penjual gantungan kunci
Candi Prambanan, juga baju-baju bertuliskan "Cintailah aku
Seperti waktu pertama kali kita berpacaran"
Aku hanya membayangkan, mungkin saja
Kau ada di antara gambar-gambar di koran itu
Di lembaran yang rusak dan hilang sebagian
Menjadi kenangan, menjadi sesuatu yang terlupakan
Kau pernah bertanya sambil lalu, candi mana yang paling
Baik untuk kita nikmati berduaan
Borobudur atau Prambanan, yang tinggi
Mengerucut atau yang pipih memanjang
Tulisan di baju-baju itu sebenarnya adalah bagian
Dari balon percakapan di sebuah komik yang
Menampilkan adegan dirimu yang meninggalkanku
Tanpa perasaan
Di sepanjang jalan, hanya ada kenangan-kenangan
Yang terlupakan: tentang sebuah pertemuan yang
Tak seharusnya diterjemahkan
Lewat perpisahan
Sajak Kecil Tentang Gunung-Gunung yang Ingin Aku Daki Bersamamu
Mt. Washington, New Hampshire
Bagaimana aku bisa membantumu menaklukan
Angin, sementara yang bisa kuberikan
Hanya tebing-tebing bisu dan salju-salju yang dingin?
Denali, Alaska
Aku mengenalmu sebagai ketinggian dan garis
Lintang yang panjang, seperti terjal itu
Yang mencuri nafas kita pelan-pelan
Mt. Fuji, Japan
Di matamu ada sedikit salju, burung-burung
Serta ranting-ranting yang mendamba cahaya
Sementara di hatiku ada padang ilalang, taman
Bunga, juga gerimis yang tak henti-hentinya meminta
"Andai kematian itu tiba, bolehkah aku mati
Di sampingmu saja?"
Catatan-Catatan Kecil Untuk Hujan yang Tak Lagi Menyuguhkan Keabadian
Diam
Aku ingin bersembunyi bersama dedaunan yang
Jatuh di depan jendela kamarmu itu--mungkin
Angin akan menerbangkanku cepat
Tapi setidaknya, aku bisa menemanimu sesaat
Selagi kau terpejam dan lelap
Aku ingin menyimpan perasaanku ini di depan
Pintu rumahmu malam-malam, ketika
Suara-suara jangkrik dan cahaya kunang-kunang
Melingkar di lampu-lampu jalan, yang sepi, yang
Sendirian--seperti aku, yang selalu menatapmu
Dari kejauhan
Seperti diam, sepenuhnya, aku ingin
Meleburkan kenangan
Cuaca
Haruskah aku menyaksikan butiran airmata di kaca
Jendela, ketika pada akhirnya rindu-rindu
Itu menjelma tanda yang tak pernah
Mengerti aku baca?
Setelah Kepergianmu
Setelah kepergianmu, aku sering menyenandungkan
Senyuman dan lambai tanganmu yang jauh
Yang kau perlihatkan ketika jarak perlahan demi
Perlahan telah benar-benar membuatku rapuh
Aku melihat burung-burung di seberang
Jendela mencericitkan sesuatu, mungkin
Namamu, di seranting yang menggugur-gugurkan
Rindu: segalanya terasa seperti
Senandung-senandung yang tertinggal di burung-burung itu
Segalanya terasa seperti keadaan dimana aku
Telah sepenuhnya kehilanganmu
Di Suatu Pagi
Mungkin kau tak akan pernah tahu, burung-burung
Telah meranggaskan musim dan menerbangkan
Angin, di mataku, yang tak pandai menerjemahkan
Rindu-rindu itu, yang menetes jatuh demi
Jatuh ke kedalaman yang kubayangkan dirimu
Mungkin kau tak akan pernah
Mengerti, suasana pagi yang mengalun di
Dadaku, dibiarkan matahari itu mengintipmu
Lewat celah dedaunan, yang lepas kemudian rebah
Di telapak tangan--seperti aku yang mencintaimu
Dengan perlahan
Di satu kesempatan baik nanti, ingin kusampaikan
Padamu, pada bunga-bunga yang tiba-tiba
Mekar di sekeliling hatimu: bahwa kau sejatinya milikku
Seutuhnya milikku
(2010)

:D
BalasHapus